Stability of Vitamin-Mineral Premixes




Definisi fortifikasi adalah penambahan zat gizi dalam jumlah yang cukup pada suatu produk pangan, sedemikian rupa sehingga produk tersebut dapat berfungsi sebagai sumber yang baik bagi zat gizi yang ditambah, bagi masyarakat target yang telah ditentukan.

 

 

Pada awalnya, fortifikasi merupakan salah satu upaya (pemerintah) untuk mengatasi masalah defisiensi/kekurangan gizi (malnutrisi) mikro pada masyarakat kelompok usia tertentu. Dewasa ini, fortifikasi zat gizi mikro (vitamin-mineral) pada produk pangan merupakan salah satu teknologi formulasi produk pangan fungsional (pangan kesehatan) atau untuk pangan kelompok khusus. Kedua kategori pangan tersebut merupakan produk yang terus berkembang seiring dengan peningkatan kebutuhan konsumennya. Sebagai konsekuensinya, kebutuhan vitamin dan mineral sebagai ingridien pangan menjadi bisnis yang luar biasa besar di industri pangan.


Konsumen memiliki hak untuk membeli pangan yang difortifikasi. Survey konsumen di Eropa menunjukkan bahwa 75% konsumen menyatakan fortifikasi harus diijinkan sepanjang tidak memberikan pengaruh negatif terhadap kesehatan (Bonner et al. 1999). Bagaimana fortifikasi ditinjau dari sisi industri pangan? Dengan melihat kebutuhan konsumen terhadap pangan yang difortifikasi, banyak industri yang memproduksi pangan dengan ingridien zat gizi mikro, tanpa uji manfaat terlebih dahulu.

Multiple fortification and tailor made premix

Konsumen menuntut pangan yang dikonsumsinya tidak hanya sekedar memuaskan rasa lapar. Mereka juga menghendaki manfaat lebih dari sekedar zat gizi dari pangan yang dikonsumsinya saat ini. Secara eksplisit, konsumen menghendaki tidak hanya vitamin dan mineral, namun juga tambahan antioksidan, serat pangan, omega-3 dan lainnya. Ingridien-ingridien tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan selain energi, namun juga kesehatan pencernaan, relaksasi, meningkatkan imunitas, manfaat kognitif dan lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan premix ingredient yang dirancang khusus untuk produk pangan tertentu.


Produk margarin meja sesuai regulasinya wajib difortifikasi dengan Vitamin A dan D. Produk ini menunjukkan efektifitasnya dalam mengatasi defisiensi vitamin A dan D, dibandingkan dengan produk yang hanya difortifikasi vitamin A saja. Demikian pula untuk produk tepung terigu yang difortifikasi dengan beberapa zat gizi mikro (vitamin B1, B2, B3, folat, Fe dan Zn) dibandingkan dengan produk yang hanya difortifikasi dengan satu jenis mineral. Hal ini disebabkan oleh sifat defisiensi zat gizi mikro pada kelompok usia tertentu sering bukan hanya disebabkan oleh satu jenis zat gizi saja, namun oleh beberapa zat gizi.


Bagaimana premiks vitamin dan mineral dapat lebih efektif kinerjanya? Premiks selain menyediakan multi zat gizi mikro yang dibutuhkan oleh tubuh, kombinasi zat gizi dalam premiks juga menunjukkan adanya sinergisme secara fisiologis di dalam tubuh. Studi intervensi premiks zat gizi mikro (Fe, Zn, vitamin A, iod, vitamin C, riboflavin, folat, vitamin B12, B6, niacin, vitamin E) dalam minuman untuk remaja perempuan di Bangladesh selama 6 bulan terbukti menurunkan anemia, meningkatkan status zat gizi mikro dan pertumbuhan (Hyder et al. 2007). Selanjutnya, produk breakfast cereal yang difortifikasi dan dikonsumsi dengan penambahan susu telah terbukti meningkatkan status zat gizi mikro (thiamin, riboflavin, vitamin B6, asam folat, vitamin D and zat besi) masyarakat di Eropa (Bonner et al., 1999). Prof. Nuri Andarwulan

Lebih lengkap mengenai artikel ini, dapat dibaca di majalah FOODREVIEW INDONESIA edisi Februari 2014 atau klik di sini

Artikel Lainnya

  • Feb 05, 2023

    Pertimbangan Penggunaan Bahan Tambangan Pangan

    Pada dasarnya, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) hanya digunakan pada produk pangan jika benar-benar diperlukan secara teknologi. BTP tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang tidak memenuhi syarat, cara kerja yang bertentangan dengan Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) dan kerusakan pangan. Penambahan BTP pada produk pangan memiliki beberapa tujuan seperti membentuk pangan, memberikan warna, meningkatkan kualitas pangan, memperbaiki tekstur, meningkatkan cita rasa, meningkatkan stabilitas, dan mengawetkan pangan. ...

  • Feb 04, 2023

    CODEX UPDATE: Adopsi Standar Keamanan Baru

    Akhir tahun 2022 yang lalu telah diselenggarakan Sidang Komisi Codex Alimentarius ke-45 (CAC45), yang terdiri dari sidang pleno dari 21-25 November 2022 (secara daring dan luring), dan dilanjutkan adopsi laporan sidang pada pada 12- 13 Desember 2022 (secara daring). Secara umum dapat dilaporkan bahwa sidang Komisi Codex Alimentarius telah berhasil mengadopsi berbagai standar keamanan pangan baru. Standar baru tersebut terdiri dari teks pedoman, kode praktik, stantard komoditas, batas maksimum residu pestisida dam batas maksimum kontaminan. Disamping itu, CAC45 juga menyepakati beberapa pekerjaan baru untuk pengembangan standar/teks lainnya. Uraian lebih detail dan lengkap dapat diperoleh di laman: https://bit.ly/CAC45meetingdetail ...

  • Feb 03, 2023

    Pentingnya Pengendalian Rempah-Rempah

    Rempah-rempah memiliki potensi bahaya yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Pengendalian harus dimulai dari budidaya tanaman rempah yang sudah menerapkan prinsip good practices. Titik kritisnya adalah pengendalian kelembapan udara karena dengan kelembapan yang tinggi maka pada umumnya mikroba akan lebih mudah tumbuh. Proses pengeringan juga merupakan proses yang sangat penting dalam penanganan pascapanen rempah-rempah. Manajemen keamanan pangan yang komprehensif yang meliputi good hygiene practices (GHP), good manufacturing practices (GMP) dan hazard analysis and critical control points (HACCP), harus diaplikasikan dengan konsisten.  ...

  • Feb 02, 2023

    Kontaminasi Mikroba pada Rempah-Rempah

    Rempah-rempah sebagai contoh adalah pala yang merupakan komoditas ekspor unggulan karena Indonesia termasuk salah satu negara produsen dan pengekspor biji dan fuli pala terbesar dunia. Pala merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan kapang, bila kandungan air dan kelembapan lingkungan tidak dijaga dengan baik. Kapang yang dapat tumbuh di pala tidak saja dari jenis kapang perusak tetapi juga kapang toksigenik. Di antara kapang toksigenik yang dijumpai pada pala adalah Aspergillus flavus penghasil aflatoksin. Alfatoksin utamanya dari jenis B1 merupakan mikotoksin yang paling toksik di antara beberapa mikotoksin yang dikenal mengontaminasi pangan.  ...

  • Feb 01, 2023

    Peningkatan Kualitas dan Keamanan Rempah & Bumbu

    Upaya peningkatan ekspor rempah dan bumbu tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu. Permasalahan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu dapat diamati sejak prapanen sampai dengan pascapanen, sehingga hal ini membutuhkan penanganan yang komprehensif sepanjang rantai pangan pengolahan tersebut. Rempah-rempah yang tidak tertangani dengan baik rentan terhadap kontaminasi mikroba yang dapat menyebabkan kerusakan maupun penyebab foodborne disease. Hal ini menunjukkan perhatian dan penanganan yang serius perlu dilakukan terhadap bahaya bersumber mikroba tersebut beserta toksin yang dihasilkannya. ...