Bioteknologi, antara Harapan dan Kekhawatiran

Bioteknologi merupakan salah satu cabang ilmu teknologi yang memanfaatkan sistem biologis, organisme, atau turunannya untuk menghasilkan atau memodifikasi suatu produk.   Walau telah ada dan berkembang sejak lama, namun bioteknologi tetap ramai dibicarakan dewasa ini.

Secara tradisional, pemanfaatan bioteknologi banyak ditemukan dalam proses fermentasi seperti kecap, keju, tempe, anggur, dan sebagainya.  Kemudian, berkembanglah istilah bioteknologi modern, dimana ilmuwan berhasil melakukan modifikasi makhluk hidup melalui manipulasi gen untuk tujuan tertentu.   Berbagai perdebatanpun kemudian bermunculan, di satu sisi bioteknologi dianggap berpotensi menjadi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang terjadi, sedangkan di sisi lain masih terdapat kekhawatiran terhadap keamanannya, -baik untuk lingkungan maupun manusianya.

Namun demikian, menurut survei yang dilakukan oleh the International Food Information Council (IFIC) 2010 lalu disebutkan, konsumen Amerika mendukung penggunaan bioteknologi jika mampu memberikan manfaat, serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. 
Dalam survei tersebut juga disebutkan, bahwa mayoritas konsumen akan membeli produk dari tanaman yang dikembangkan menggunakan bioteknologi untuk memberikan manfaat lebih buat kesehatan, seperti produk yang mengandung lemak lebih sehat seperti omega 3 (76%), tidak mengandung asam lemak trans (74%), dan memiliki rasa lebih baik/segar (67%).

Sementara itu, lebih dari tiga perempat konsumen (77%) menyebutkan, bahwa mereka akan membeli produk bioteknologi karena kemampuannya mengurangi penggunaan pestisida.  Tidak hanya itu, 73% konsumen akan membeli roti, cracker, cookies, cereal, serta pasta yang dibuat dari bahan baku gandum termodifikasi, untuk menghemat penggunaan lahan, air, dan pestisida.

Bagaimana dengan Indonesia?

Perlu diingat bahwa Indonesia sebenarnya memiliki sejarah dan pengalaman yang cukup panjang dalam pengembangan bioteknologi.  Konsumen Indonesia sudah mengenal produk bioteknologi (tradisional) sejak lama.  Proses fermentasi tempe yang melibatkan banyak mikroba adalah salah satu yang paling terkenal.  Belum lagi dengan proses pembuatan kecap, petis, tape, dadih, terasi, dan sebagainya.  Artinya, penggunaan bioteknologi "tradisional" sebenarnya sudah sangat familiar di masyarakat.

Namun agak berbeda dengan bioteknologi modern yang melibatkan modifikasi genetik.   Konsumen masih kurang familiar dengan istilah "rekayasa genetik".  Sehingga berbagai macam pertanyaan dan kekhawatiranpun sering muncul, walau sebenarnya sebelum dilepas ke pasaran, produk rekayasa genetik harus melalui proses penilaian oleh komisi keamanan hayati.

Menjawab permasalahan?

Walau banyak diperdebatkan, namun bioteknologi modern dianggap sebagai salah satu jawaban bagi suplai pangan.  Perubahan iklim yang terjadi telah membawa dampak yang signifikan bagi ketersediaan pangan dunia.  Contoh paling baru kenaikan harga gandum akibat panen yang tidak optimal atau langkanya cabe di Indonesia akibat gagal panen.   Dengan memodifikasi gen, sehingga dihasilkan varietas yang lebih tahan cuaca, diharapkan dapat menjadi solusi.  Namun demikian, keamanan -baik hayati maupun bagi manusia, tetap harus menjadi prioritas utama.  Oleh sebab itu, seiring dengan berkembangnya teknologi rekayasa genetik, turut berkembang pula metode deteksi dan evaluasi keamanannya.  Fri-09


Artikel Lainnya