Inovasi Flavor Alami: Studi Kasus Peran Mikroba pada Kopi Geotermal

 

Oleh Zikrina Istighfarah dan C. Hanny Wijaya
Divisi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknik dan Teknologi, IPB University

 

Peran mikroorganisme dalam pembentukan atribut sensori produk pangan seringkali kurang mendapat perhatian yang proporsional. Padahal, daya tarik sensori serta profil organoleptik berbagai komoditas pangan sangat bergantung pada aktivitas mikrobial, seperti yang terlihat pada produk fermentasi tradisional maupun modern—mulai dari terasi, kecap, dan vinegar, hingga keju, tempe, serta tauco. Dengan demikian, mikroorganisme berperan sebagai penentu utama dalam pembentukan profil organoleptik tersebut.

Melalui mekanisme fermentasi yang presisi, mikroorganisme memainkan peran krusial yang tidak tergantikan dalam pembentukan profil aroma unggul dan karakteristik cita rasa yang kompleks.

Tulisan ini mencoba mengangkat peran strategis mikroorganisme dalam meningkatkan mutu aroma biji kopi hasil proses dengan pengeringan geotermal yang biasanya terkendala penerimaan sensorinya dibanding kopi dengan pengolahan ”konvensional”. Proses Self- Induced Anaerobic Fermentation (SIAF) adalah teknologi fermentasi baru yang mulai diaplikasikan di dunia industri kopi sejak tahun 2022. Kopi dimasukkan ke dalam wadah fermentasi sampai penuh lalu wadah ditutup rapat dan diberi air lock untuk mencegah udara masuk. Sejumlah oksigen yang terbatas dalam wadah fermentasi tersebut dikonsumsi oleh mikroorganisme, menghasilkan CO2 dan metabolit prekursor aroma yang dapat menaikkan kualitas minuman kopi (Batista da Mota et al. 2022; Martinez et al. 2022).

Kopi geotermal
Pada umumnya kopi yang telah difermentasi dikeringankan secara konvensional di bawah sinar matahari. Proses pengeringan konvensional ini bergantung terhadap kondisi cuaca dan membutuhkan waktu lama yaitu 16-20 hari, sementara pengeringan geotermal hanya memerlukan 2–4 hari untuk buah kopi yang telah dikupas dan 7–9 hari untuk buah kopi utuh. Pengeringan geotermal adalah pengeringan mekanis dengan memanfaatkan panas berlebih dari instalasi geotermal (panas bumi) PT. PGE Area Kamojang.

EvaluaProfil mikroba SIAF dalam pengolahan kopi geotermalsi bisnis menunjukkan bahwa proses geotermal ini memberikan nilai surplus yang signifikan bagi petani kopi akibat percepatan proses pengeringannya (Farouq et al. 2024). Akan tetapi, permasalahan krusial terjadi karena secara sensori, mutu aroma dari kopi dengan perlakuan geotermal kurang dapat diterima. Pemanfaatan proses SIAF dapat membantu kendala ini. Pengolahan kopi geotermal dengan proses SIAF dan pengeringan geotermal ini telah dilakukan oleh petani kopi di daerah Kamojang, Jawa barat. Studi mengenai keragaman, kelimpahan, dan peran mikroorganisme serta enzim yang terlibat dalam proses SIAF untuk memperkaya prekursor aroma kopi geotermal telah dilaporkan oleh Istighfarah et al. (2025) (Gambar).


Profil mikroba SIAF dalam pengolahan kopi geotermal
Shotgun Metagenomics merupakan metode terkini yang digunakan untuk mempelajari komunitas mikroba beserta enzim yang dihasilkan dalam suatu proses fermentasi. DNA yang terdeteksi dari dalam sampel kemudian dicocokkan dengan basis data NCBI untuk mengetahui spesies dan enzim apa saja yang terlibat dalam proses SIAF kopi geotermal. Komunitas mikroorganisme yang berhasil dideteksi menunjukkan dominasi dari tiga spesies utama yaitu Tatumella sp. JGM118, bakteri asam laktat (BAL) Leuconostoc pseudomesenteroides, dan khamir Hanseniaspora uvarum (Istighfarah et al. 2025).

Tatumella, khamir dan BAL bersimbiosis dalam SIAF untuk menghasilkan metabolit prekursor aroma minuman kopi seperti gula pereduksi, asam organik dan asam amino yang akan meningkatan atribut sensori. Tatumella memiliki kemampuan untuk menguraikan sukrosa dalam kondisi anaerob selama SIAF kopi geotermal. Produk degradasi gula selanjutnya dimanfaatkan melalui jalur glikolisis dan siklus TCA (Tricarboxylic Acid) untuk menghasilkan gula pereduksi dan asam organik, serta substrat metabolisme asam amino seperti fruktosa dan produk samping lainnya. Metabolit-metabolit ini merupakan prekursor reaksi Maillard (Istighfarah et al. 2025). BAL menciptakan lingkungan asam yang mendukung pertumbuhan khamir, sementara khamir menyediakan senyawa nitrogen terlarut dan vitamin yang mendukung pertumbuhan bakteri (Batista da Mota et al. 2022).

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait