PLASMA FINEBUBBLE: INOVASI CERDAS UNTUK PANGAN SEGAR LEBIH AMAN


Oleh Y. Aris Purwanto
Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, IPB University; Ketua Tim Teknis SNI 07-04 Teknologi Finebubble, Badan Standardisasi Nasional (BSN)

Keamanan sayuran dan buah segar semakin mendapat perhatian, terutama terkait keberadaan residu pestisida yang sulit dihilangkan hanya dengan pencucian air biasa. Untuk menjawab tantangan tersebut, teknologi Plasma Finebubble hadir sebagai inovasi cerdas yang memadukan plasma nontermal dan gelembung ultra-halus guna meningkatkan efektivitas pembersihan. Dengan kemampuan mengurai pestisida sekaligus menurunkan beban mikroba tanpa menurunkan mutu produk, teknologi ini menawarkan pendekatan baru menuju pangan segar yang lebih aman dan berkelanjutan.

Kesegaran visual dan aroma khas produk pangan seperti sayuran hijau dan buah ranum merupakan indikator kualitas yang vital bagi konsumen. Akan tetapi, kepastian keamanan pangan modern menuntut verifikasi lebih lanjut. Pertanyaan yang kini mendominasi adalah: Bagaimana kita memastikan bahwa sayuran yang disajikan tersebut benar-benar steril dan aman dari kontaminasi, khususnya residu pestisida?

Pertanyaan itu sangat beralasan. Dalam sistem budidaya hortikultura di Indonesia, pestisida masih menjadi “penjaga utama” dari serangan hama dan penyakit. Efektivitasnya tinggi, tetapi meninggalkan persoalan serius yaitu residu pestisida yang menempel kuat di permukaan daun, buah, atau batang tanaman, bahkan dapat menembus jaringan. Banyak senyawa pestisida bersifat lipofilik, artinya mudah larut dalam lemak tetapi sulit larut dalam air.

Akibatnya, molekul pestisida cenderung melekat erat pada lapisan lilin kutikula daun yang bersifat hidropobik. Ketika dicuci dengan air biasa, residu pestisida tersebut sulit dihilangkan karena air memiliki tegangan permukaan tinggi dan mudah tergelincir tanpa benar- benar membasahi permukaan daun.

Menjawab tantangan tersebut, peneliti dari IPB University bekerja sama dengan Pusat Mekatronika Cerdas BRIN mengembangkan teknologi Plasma Finebubble (PFB), sebuah inovasi air cerdas yang memadukan dua kekuatan: plasma non-termal dan gelembung halus berukuran nano hingga mikro (finebubble) dalam satu sistem terintegrasi. Kolaborasi ini memanfaatkan keunggulan BRIN dalam teknologi plasma dan kepakaran peneliti IPB dalam pengembangan teknologi finebubble untuk agri-aqua farming. Tujuannya adalah mengembangkan metode pencucian yang efektif, aman, dan ramah lingkungan untuk mengurangi residu pestisida pada sayuran segar tanpa menurunkan kualitasnya.

Plasma non-termal adalah gas yang “diberi energi” listrik sehingga sebagian molekulnya terionisasi, menghasilkan Reactive Oxygen and Nitrogen Species (RONS) seperti ozon (O₃), radikal hidroksil (•OH), singlet oksigen (¹O₂), dan hidrogen peroksida (H₂O₂). Spesies reaktif ini memiliki kemampuan oksidatif tinggi yang dapat menonaktifkan mikroba dan menguraikan pestisida menjadi senyawa yang lebih sederhana, aman, dan mudah terurai. Ketika gas plasma dialirkan ke dalam air melalui nozel finebubble, terbentuklah plasma finebubble water yaitu air dengan daya oksidasi tinggi, stabilitas luar biasa, dan kemampuan menembus permukaan daun hingga ke pori-pori mikroskopik tempat pestisida bersembunyi.

Gelembung halus pada teknologi finebubble
Keistimewaan teknologi ini terletak pada gelembung yang berukuran sangat kecil yaitu antara 50 hingga 100 nanometer atau seratus kali lebih kecil dari diameter rambut manusia. Gelembung halus ini memiliki muatan listrik negatif (zeta potensial –25 hingga –45 mV) yang menjadikannya sangat stabil di dalam air. Muatan negatif ini mencegah gelembung bergabung satu sama lain, sehingga mereka dapat bertahan lama dari ukuran jam hingga berhari-hari tanpa mengapung ke permukaan. Menariknya, muatan negatif ini juga memungkinkan interaksi elektrostatik antara gelembung dan partikel bermuatan lain, termasuk molekul pestisida atau mikroorganisme yang memiliki muatan positif atau netral. Akibatnya, gelembung dapat “menangkap” residu pestisida di sekitarnya, lalu mempercepat proses oksidasi oleh radikal aktif yang terbentuk.

Selain itu, karena ukurannya yang sangat kecil, setiap gelembung memiliki tekanan internal tinggi (ratusan kPa). Ketika gelembung pecah, energi lokal yang besar dilepaskan dan memicu terbentuknya radikal kuat seperti •OH, ¹O₂, dan O₂•⁻. Radikal inilah yang berperan sebagai “agen pembersih” alami, memecah ikatan karbon–klorin, karbon–fosfor, dan gugus ester pada molekul pestisida. Proses ini mengubah residu berbahaya menjadi senyawa polar yang mudah larut dalam air dan aman bagi lingkungan.

Menembus lapisan kutikula yang tahan air
 

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait