
Oleh Yuli Witono
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, Ketua Bidang II Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia dan Presiden FANRes International Network
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia yaitu mencapai lebih dari 270 juta jiwa. Dengan padatnya populasi tersebut, maka kebutuhan terhadap pangan kian meningkat khususnya pangan segar atau fresh food.
Kategori pangan segar yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia yaitu daging sebagai sumber hewani. Konsumsi daging seringkali menjadi indikator kualitas gizi serta perkembangan ekonomi sosial dan budaya sebuah negara. Dalam satu dekade terakhir, tren konsumsi daging di Indonesia menunjukkan peningkatan yang menandakan adanya potensi pasar bagi industri daging segar. Kenaikan konsumsi daging disebabkan oleh meningkatnya gaya hidup masyarakat khususnya perkotaan. Konsumsi daging dan pangan segar bukan sekadar memenuhi kebutuhan gizi, melainkan sebagai gaya hidup sehat dan modern bagi sebagian masyarakat khususnya menengah ke atas. Selain itu, peningkatan konsumsi daging menandakan pergeseran preferensi konsumen (dari protein nabati ke hewani) yang mengindikasikan kenaikan kesadaran gizi.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola pangan seimbang, Indonesia dihadapkan dengan polemik besar yaitu belum memenuhinya ketersediaan produksi daging dalam negeri. Akibatnya Indonesia melakukan impor, baik dalam bentuk daging beku ataupun sapi hidup. Salah satu pemasok utama sapi ke Indonesia yaitu Australia. Walaupun demikian, impor daging masih menjadi polemik dan perdebatan banyak kalangan khususnya menyangkut isu kualitas, harga, dan kemandirian pangan nasional. Semakin tinggi tingkat impor, maka dikhawatirkan terjadi pelemahan peternakan lokal karena adanya persaingan pasar sehingga dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Di samping itu, dengan meningkatnya impor daging maka terjadi volatilitas harga yang mengakibatkan fluktuasi harga daging berdasarkan nilai tukar, situasi pasar internasional dan kebijakan pengekspor (Wati K., 2018). Sedangkan untuk daging ayam, Indonesia relatif swasembada dengan kondisi surplus mencapai 0,12 juta ton.
Konsumsi daging di Indonesia tak terlepas dari faktor agama dan budaya. Mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, sehingga daging yang dikonsumsi harus memenuhi standar halal. Hal ini menjadi faktor penting yang dapat mempengaruhi rantai pasok daging mulai dari rumah potong hingga distribusi ke konsumen. Berdasarkan segi ekonomi, harga daging cukup sensitif karena berkaitan dengan ketersediaanya. Lonjakan harga menjelang perayaan besar seperti Idulfitri selalu menjadi isu nasional. Hal ini menandakan bahwa daging berkaitan dengan berbagai aspek mulai dari pemenuhan gizi, dimensi politik, sosial hingga budaya.
Tantangan penanganan pangan segar
Daging merupakan kategori pangan segar yang rentan terhadap kerusakan akibat mikroorganisme. Kerusakan ini disebabkan oleh karakteristik utama daging yang mengandung protein, lemak dan air sehingga ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu, penanganan daging dari hulu hingga hilir perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan. Namun dalam proses penanganan tersebut, terdapat beberapa tantangan seperti:
- Pengaplikasian rantai dingin kurang optimal
Kendala utama dalam penanganan pangan segar di Indonesia yaitu kurang optimalnya pengaplikasian rantai dingin atau cold chain sehingga berdampak pada menurunnya mutu daging saat pengiriman. Idealnya, daging harus disimpan dan didistribusikan menggunakan suhu rendah. Namun faktanya, sebagian besar daging didistribusikan pada suhu ruang. Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan, hanya sebagian kecil rumah potong hewan yang dilengkapi dengan fasilitas pendingin memadai dan terintegrasi. Penggunaan truk berantai dingin lebih banyak diaplikasikan pada perusahaan besar atau ekspor. - Kontaminasi mikroba dan keamanan
Kontaminasi mikroba dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya suhu penyimpanan dan tingkat higienitas yang rendah. Rumah Potong Hewan (RPH) sebagian besar masih belum memenuhi standar sanitasi sehingga kontaminasi mudah terjadi. Selain itu, di pasar tradisional daging biasanya dipajang pada meja terbuka sehingga memperbesar risiko kontak dengan tangan konsumen, serangga dan debu. - Standarisasi dan regulasi
Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.

