Pangan Segar: Keamanan, MUTU & Preferensi Konsumen


Oleh Sri Mulyani dan Anang M. Legowo
Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro

Pangan segar —baik hewani maupun nabati— adalah sumber gizi utama yang menopang kesehatan masyarakat. Namun di balik perannya yang vital, pangan segar bersifat mudah rusak dan menuntut penanganan cermat agar keamanan, mutu, dan preferensi konsumen tetap terjaga.

Produk hewani kaya protein berkualitas tinggi karena asam amino esensialnya, zat besi dan vitamin larut lemak, sedangkan buah dan sayuran merupakan sumber serat pangan, vitamin, mineral dan senyawa bioaktif antioksidan. Kombinasi keduanya terbukti dapat berkontribusi dalam pencegahan malagizi, penyakit degeneratif dan peningkatan kualitas kesehatan. Namun demikian, karakteristik kedua jenis pangan segar (fresh food) tersebut mudah rusak (perishable) menyebabkan stabilitas mutu selama penyimpan dan distribusi menjadi salah satu isu krusial. Kerusakan fisik, kimia, maupun mikrobiologis dapat terjadi dengan cepat jika penanganan pascapanen dan pengolahan tidak tepat.

Selain itu, pangan segar rentan terhadap kontaminasi patogen seperti Salmonella, Eschericia coli, maupun cemaran kimia seperti pestisida dan bahan kimia lainnya. Secara global standar keamanan pangan sudah diterapkan untuk menjamin perlindungan konsumen, namun implementasinya di tingkat produsen dan pelaku usaha masih terdapat keterbatasan. Pada kasus seperti ini, inovasi teknologi pengemasan, penggunaan antimikroba alami dan penerapan praktik penanganan yang baik (good handling practices) dapat dijadikan solusi untuk menjaga keamanan pangan segar.

Dalam satu dekade terakhir, terjadi perubahan signifikan pada pola konsumsi masyarakat terhadap pangan secara fisik, tetapi juga jaminan keamanan, ketertelusuran dan label seperti organic, free-range atau pesticide-free. Sementara itu, di pasar tradisional kesegaran visual dan sensoris masih menjadi pertimbangan utama. Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa preferensi konsumen terhadap pangan segar semakin kompleks dan beragam, tergantung tingkat edukasi, literasi serta budaya konsumsi. Ditinjau dari aspek stabilitas, keamanan dan preferensi konsumen tersebut, diperlukan pemahaman yang komprehensif dan interdisipliner untuk mengembangkan sistem produksi dan distribusi pangan segar yang berkualitas, aman dan sesuai ekspektasi konsumen masa kini, sehingga daya saing pangan segar meningkat di pasar domestik maupun global.



Karakteristik stabilitas pangan segar hewani vs nabati
Stabilitas pangan segar yang dimaksud adalah kemampuan pangan segar tersebut mempertahankan mutu fisik, kimia dan zat gizi serta sensoris selama penyimpanan dan distribusi. Sifat biologis dan komposisi kimia yang berbeda antara pangan segar hewani dan nabati sangat menentukan stabilitasnya (Tabel 1). Ditinjau dari komposisi kimianya, daging segar memiliki kadar air yang tinggi (65- 75%), kaya protein, lemak dan zat gizi yang mudah tercerna. Kondisi tersebut menyebabkan daging rentan terhadap pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan patogen seperti Salmonella, Listeria monocytogenes dan Escherichia coli. Selain itu, keberadaan lemak menjadikan rentan terhadap proses oksidasi yang dapat terlihat dari perubahan warna daging, bau dan aroma tidak sedap. Proses proteolitik enzimatis maupun mikrobiologis dapat mempercepat degradasi protein yang menyebabkan kemampuan protein daging untuk mengikat air menurun, 

sehingga akan menyebabkan drip loss (keluar cairan daging) atau tingginya cooking loss. Fenomena ini menurunkan preferensi maupun nilai gizi daging. Oleh karena itu stabilitas dagin segar sangat tergantung pada kontrol suhu dingin baik chilled maupun beku, pengemasan termodifikasi serta implementasi bahan pengawet alami dan antibakteri.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait