Smart Edible Packaging: Masa Depan Pengemas Pangan Berkelanjutan

 

Oleh Ignasius Radix A. P. Jati
Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Cabang Surabaya

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan dampak negatif sampah kemasan telah memicu inovasi dalam pengembangan alternatif pengemasan yang lebih berkelanjutan. Salah satu terobosannya adalah pengembangan edible film, lapisan tipis pengemas pangan yang dapat dikonsumsi. Inovasi lebih lanjut dari konsep ini melahirkan smart edible packaging, yang tidak hanya berfungsi sebagai pengemas ramah lingkungan namun juga memiliki kemampuan aktif dan cerdas untuk memantau dan bahkan meningkatkan kualitas produk pangan yang dikemas.

Salah satu inovasi yang semakin menarik perhatian adalah edible film, yaitu lapisan tipis yang digunakan sebagai pengemas pangan dan dapat dikonsumsi. Bahan baku edible film berasal dari senyawa alami seperti polisakarida, protein, dan lipid, yang memiliki sifat edible dan biodegradable. Polisakarida adalah bahan yang paling banyak digunakan dalam pembuatan edible film karena sifatnya yang edible dan biodegradable.

Sumber polisakarida untuk pembuatan edible film antara lain tumbuhan (pati, pektin, selulosa), organisme laut (alginat, karagenan), dan hasil fermentasi (pullulan, xanthan gum). Sementara itu, protein nabati dan hewani juga dapat dipergunakan sebagai bahan edible film. Kolagen dan gelatin yang berasal dari kulit dan tulang hewan, kasein dan whey dari susu, protein kedelai, gluten dari gandum, dan zein dari jagung merupakan bahan-bahan yang dapat dipergunakan dalam pembuatan edible film. Lemak juga dipergunakan sebagai bahan pembuatan edible film karena memiliki sifat penghalang uap air yang baik. Beberapa jenis lemak di antaranya lilin lebah, carnauba wax, shellac, parafin, serta berbagai jenis minyak seperti minyak kelapa sawit, minyak kelapa, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.

Untuk menjadikan edible film memiliki kekuatan dan kelenturan mendekati plastik, diperlukan bahan tambahan dalam formulasi produksinya. Bahan tersebut dikategorikan sebagai plasticizer yang didefinisikan sebagai bahan yang dapat meningkatkan fleksibilitas dan mengurangi kerapuhan edible film. Plasticizer bekerja dengan mengganggu interaksi polimer dalam jaringan matriks pembentuk struktur edible film. Jenis-jenis plasticizer yang populer antara lain gliserol, sorbitol, dan polietilen glikol. Beberapa penelitian juga menggunakan sukrosa, asam sitrat, dan lesitin untuk mendapatkan sifat kelenturan pada edible film yang dihasilkan.

Sifat fungsional edible film
Sebagai alternatif dari kemasan plastik, edible film harus memiliki sifat fungsional yang serupa. Perbedaan bahan dalam produksi edible film menghasilkan karakteristik yang berbeda pula. Hal ini menjadikan penelitian dalam pengembangan edible film banyak dilaporkan mengarah pada penggabungan berbagai bahan untuk memperoleh sifat yang lebih baik. Sifat edible film sangat dipengaruhi oleh struktur polimer penyusunnya antara lain:

 

  • Pati dan selulosa memiliki sifat mekanis yang baik, kemampuan menahan oksigen dan karbondioksida yang baik, namun tingkat kerapuhannya tinggi. Pektin dan alginat menghasilkan film yang fleksibel dengan tingkat kelarutan tinggi. Sementara pullulan dan karagenan menghasilkan edible film yang glossy dan transparansi yang tinggi
  • Lemak dalam edible film meningkatkan daya tahan terhadap uap air, namun perlu penambahan emulsifier agar dapat menghasilkan film yang homogen.
  • Protein memiliki kemampuan membentuk film yang baik, sifatsifat mekanis seperti kuat tarik dan fleksibilitas yang unggul, serta memiliki kem

Pengembangan smart edible packaging

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait