Menuju Kemasan Berkelanjutan untuk Industri Pangan Indonesia


Oleh Wahyudi David
Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakrie

Transisi menuju kemasan berkelanjutan bukan lagi sebuah pilihan—ia menjadi kebutuhan strategis untuk menurunkan jejak karbon, mengurangi sampah, dan memperkuat ketahanan rantai pasok. Di Indonesia, Peta Jalan dan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular 2025–2045 menempatkan kemasan sebagai salah satu fokus utama dalam upaya mengurangi penggunaan sumber daya dan meningkatkan tingkat daur ulang, terutama pada sektor ritel dan pangan. Langkah komprehensif ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri yang lebih hijau sekaligus membuka peluang pasar baru yang berbasis pada nilai keberlanjutan.

Ekonomi sirkular didefinisikan sebagai model ekonomi yang menerapkan pendekatan sistemik untuk meminimalkan penggunaan sumber daya, mendesain suatu produk agar memiliki daya guna selama mungkin, dan mengembalikan sisa proses produksi dan konsumsi ke dalam rantai nilai.

Pentingnya kemasan sirkular
Circular packaging berarti mendesain kemasan agar dapat dipakai ulang, diperbaiki, atau didaur ulang sehingga material tetap berada dalam siklus ekonomi lebih lama. Pendekatan ini selaras dengan kerangka 9R (Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, Recycle, Recover) yang menjadi dasar strategi nasional ekonomi sirkular. Implementasi pada sektor pangan menekankan pengurangan food loss and waste (FLW) serta pemanfaatan sisa pangan sebagai input baru (mis. pakan, kompos), sehingga penggunaan kemasan pangan dapat di optimalkan dengan pedekatan 9R.

Prinsip desain kemasan sirkular
Prinsip Eco-design merupakan pendekatan desain berkelanjutan menekankan pemilihan mono material yang mudah didaur ulang, sehingga mengurangi kompleksitas proses daur ulang. Upaya ini juga mencakup pengurangan penggunaan lapisan multi material yang sering kali menyulitkan pemrosesan kembali. Selain itu, penggunaan label dan perekat harus disesuaikan agar kompatibel dengan sistem daur ulang, sehingga tidak menjadi hambatan dalam proses pemulihan material. Berikutnya adalah prinsip, reuse dan refill, strategi ini berfokus pada pengembangan sistem isi ulang untuk produk cair maupun bahan kering. Contohnya adalah penerapan stasiun refill di ritel untuk konsumen akhir, serta penggunaan kemasan returnable dalam konteks bisnis-ke-bisnis (B2B). Dengan cara ini, siklus penggunaan kemasan dapat diperpanjang, mengurangi limbah sekaligus meningkatkan efisiensi sumber daya. Berikutnya adalah prinsip recycled content, dengan memperbesar  porsi recycled content, ketergantungan terhadap virgin plastic dapat ditekan. Hal ini tidak hanya mendukung pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga memperkuat komitmen industri terhadap ekonomi sirkular.

Carbon labeling dan FONP labelling: apa dan bagaimana relevansinya
Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap dampak lingkungan, carbon labeling hadir sebagai alat komunikasi yang transparan. Label ini menyajikan informasi jejak emisi produk—mulai dari tahap cradle to gate hingga cradle to grave—sehingga konsumen dapat memahami kontribusi karbon dari setiap pilihan yang mereka buat. Lebih jauh, konsep FONP (Food Origin and Nutritional Product) labelling kini dapat diperluas untuk memasukkan dimensi baru: jejak karbon, jejak air, hingga aspek sirkularitas kemasan. Dengan label yang jelas dan mudah dipahami, konsumen tidak hanya terbantu dalam memilih produk rendah emisi, tetapi juga mendorong produsen untuk berinovasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

Namun, efektivitas skema label ini bergantung pada tiga pilar utama: pertama, harus berbasis metodologi Life Cycle Assessment (LCA) yang transparan; kedua, memiliki standarisasi nasional agar konsisten dan dapat dipercaya; dan ketiga, disajikan dalam format yang mudah dipahami oleh konsumen. Dengan kombinasi tersebut, label bukan sekadar informasi tambahan, melainkan instrumen strategis yang menghubungkan konsumen, produsen, dan kebijakan dalam satu visi bersama: menurunkan emisi dan membangun masa depan yang lebih hijau.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait