MENJAGA KEAMANAN PANGAN: Dinamika, Risiko, dan Tantangan

 

Oleh Ignatius Srianta dan Theresia Endang Widoeri Widyastuti
Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

 

Perjalanan berbagai produk pangan sebelum sampai ke tangan konsumen melibatkan kompleksitas operasional yang tinggi. Di era modern, rantai pasok pangan (food supply chain) telah berevolusi menjadi jaringan global yang sangat kompleks, melintasi batas negara, sistem logistik, dan yurisdiksi regulasi. Kompleksitas ini memperluas akses terhadap bahan dan pasar, tetapi juga meningkatkan risiko kontaminasi, pemalsuan, serta hilangnya ketertelusuran. Karena itu, keamanan dan integritas pangan harus dijaga secara konsisten dari hulu hingga hilir.

Fenomena globalisasi ini di satu sisi memberikan konsumen akses tanpa batas terhadap diversifikasi produk dan inovasi pangan dunia. Namun, di sisi lain, panjang dan rumitnya alur distribusi tersebut memperlebar celah risiko keamanan pangan (food safety), menciptakan tantangan pengawasan yang kian samar sekaligus krusial untuk dimitigasi.

Indonesia yang masih menghadapi masalah dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG), yaitu adanya ribuan kasus keracunan massal di berbagai wilayah Indonesia sejak masa uji coba tahun 2024 hingga pertengahan tahun 2026, menunjukkan masalah keamanan pangan yang menantang sistem pengawasan yang benar dan ketat. Dinamika pengawasan di lapangan menunjukkan tantangan yang berlapis. Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selama periode Ramadan dan menjelang Idulfitri tahun 2026 mengungkap adanya lebih dari 56 ribu produk pangan yang tidak memenuhi ketentuan (TMK), dengan 34,8% sarana peredaran pangan dikategori tidak memenuhi standar kelayakan.

Ketegasan penegakan regulasi juga tecermin dari tindakan pemusnahan satu ton komoditas kuliner viral “Milk Bun” asal Thailand yang diimpor tanpa izin edar resmi, serta penegakan sanksi pidana hingga tiga tahun penjara bagi pemalsu dokumen pendaftaran pangan. Berbagai fenomena ini menggarisbawahi pentingnya menyusun strategi mitigasi risiko yang komprehensif dari hulu ke hilir. Melalui pendekatan ilmiah populer, analisis ini akan mengurai tantangan sistemis rantai pasok, implementasi sistem manajemen mutu preventif, urgensi teknologi pengemasan, hingga pentingnya membangun budaya keamanan pangan (food safety culture) di Indonesia.

Keamanan pangan bukan lagi sekadar urusan hilir seperti “mencuci tangan sebelum makan” atau memastikan dapur yang bersih. Ini adalah pilar fundamental, sebuah sains multidisiplin yang menentukan kesehatan masyarakat, reputasi merek (brand image), hingga keberlanjutan bisnis industri pangan. Penataan regulasi keamanan pangan nasional harus bergerak ke arah yang lebih progresif dan non-diskriminatif. Dalam artikel ilmiah bertajuk Keamanan Pangan untuk Semua yang dipublikasikan pada Jurnal Mutu Pangan: Indonesian Journal of Food Quality oleh Lukman & Kusnandar, (2015) ditegaskan bahwa pemerintah Indonesia perlu menyusun “Peta Jalan” keamanan pangan jangka menengah dan panjang yang berbasis pada analisis risiko. Regulasi yang tidak diskriminatif sangat krusial untuk memastikan bahwa baik produk pangan industri besar, impor, maupun pangan lokal yang beredar di masyarakat memiliki tingkat keamanan yang setara.

Secara saintifik, bahaya dalam pangan diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama: biologi, kimia, dan fisik. Meskipun klasifikasi tersebut tetap sama, jenis, karakteristik, dan tingkat risikonya terus berkembang seiring perubahan lingkungan, teknologi produksi, rantai pasok, serta pola konsumsi masyarakat.

1. Ancaman biologis: resistensi antimikroba pada patogen pangan
Bakteri patogen seperti Salmonella spp., Escherichia coli, dan Listeria monocytogenes tetap menjadi perhatian penting dalam keamanan pangan. Akibat penggunaan antimikroba yang tidak bijak pada manusia, hewan, dan sektor produksi pangan, bakteri patogen dapat berkembang menjadi galur yang resisten terhadap satu atau lebih antimikroba. Bakteri tersebut tidak selalu lebih sulit dimatikan melalui proses pengolahan pangan, tetapi infeksi yang ditimbulkannya dapat menjadi lebih sulit diobati apabila bakteri mencapai konsumen

2. Tantangan kimia dan isu emisi lingkungan
Selain residu pestisida dan logam berat, industri kini dihadapkan pada isu kontaminan kimia baru (emerging chemical contaminants), seperti migrasi zat kimia berbahaya dari bahan kemasan daur ulang yang tidak food-grade, hingga akumulasi mikroplastik pada rantai pangan seafood. Jangan lupakan juga ancaman food fraud (kecurangan pangan) bermotif ekonomi, seperti pemalsuan bahan baku demi menekan biaya produksi yang mengorbankan aspek keamanan.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait

FOODREVIEW DIGITAL LIBRARY