
Oleh Meta Mahendradatta
Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar PATPI Cabang Makassar
Mengonsumsi susu sudah menjadi kebiasaan penduduk dunia sejak lama. Sebuah hasil penelitian diungkap di Natur Communication bahwa orang-orang di Kenya dan Sudan modern mengonsumsi produk susu setidaknya 6000 tahun yang lalu.
Susu kerap kali disebut sebagai pangan yang lengkap, karena kandungan gizinya cukup lengkap, mencakup hampir semua komponen gizi yang dibutuhkan manusia dan hewan, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
Di Indonesia, data terakhir yang dilaporkan dalam Buku Statistik Konsumsi Pangan Tahun 2023, ketersediaan per kapita untuk susu sapi sangat rendah pada lima tahun terakhir, dan setiap tahunnya mengalami penurunan. Sehingga indeks pertumbuhan ketersediaan diperoleh -12,89% pada tahun 2022-2023. Data ini membuktikan bahwa ketersediaan susu sapi di Indonesia masih sangat rendah. Selain data tersebut, hadir minuman nabati yang mirip susu diformulasikan untuk meniru dan menggantikan susu sapi sebagai bahan minuman dan sumber gizi (Sebastian et al., 2018).
Susu hewani dan nabati
Pasar nutraseutikal dan pangan fungsional adalah salah satu segmen yang tumbuh paling cepat dalam kategori pengembangan produk pangan baru. Di antara minuman, susu sapi dianggap sebagai makanan lengkap dan menyehatkan yang menyediakan zat gizi makro (lemak, protein, dan karbohidrat) dan zat gizi mikro (kalsium, selenium, riboflavin, vitamin B12, dan asam pantotenat vitamin B5) dalam proporsi yang seimbang. Namun terbatasnya akses terhadap susu di beberapa wilayah di dunia, rendahnya ketersediaan mineral tertentu (zat besi), vitamin (folat), dan biomolekul lainnya (asam amino) pada susu sapi, adanya kondisi alergi susu, intoleransi laktosa, dan hiperkolesterolemia menyebabkan perlunya dicarikan alternatif solusi untuk mengatasinya. Alternatif susu yang lebih baik, lebih banyak atau paling tidak setara dengan susu sapi konvensional menjadi jawaban atas terbatasan tersebut.
Analog minuman berbasis nabati atau susu campuran dikaji sebagai pengganti susu sapi, yang murah bagi orang-orang yang mencari alternatif lebih baik karena satu dan lain hal. Protein nabati merupakan transformasi sistem pangan terkini yang terjadi secara global, didorong oleh kesadaran akan pentingnya kesehatan. Salah satu produk olahan berbasis protein nabati yang populer adalah minuman yang dikembangkan dari biji-bijian dan kacang-kacangan dengan kandungan protein tinggi (Anna et al., 2019). Biasanya, minuman alternatif ini diproduksi dengan mengolah bahanbahan nabati seperti kacang-kacangan
(misalnya susu almond), polongpolongan (misalnya susu kedelai), biji-bijian (misalnya susu oat), atau biji-bijian (misalnya susu rami) untuk mengekstrak cairan menyerupai susu. Perbandingan zat gizi dari susu sapi dan beberapa minuman nabati dapat dilihat pada Tabel 1.

Tantangan pengembangan alternatif minuman berbasis nabati
Penelitian dan pasar untuk produk susu alternatif berbasis tanaman (Plant Based Milk Alternative) dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami pertumbuhan dan inovasi yang signifikan. Sebagai minuman non-susu yang berasal dari sumber nabati, produk ini dimaksudkan untuk
digunakan sebagai pengganti susu hewani tradisional. Menurut Grand View Research (2023), pasar susu alternatif global diproyeksikan mencapai USD 66,9 miliar pada tahun 2030. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menilai dan memahami kualitas, fungsionalitas, dan sifat gizi dari produk susu alternatif ini.
Selain perbedaan kandungan zat gizi di dalam susu alternatif dengan susu sapi, beberapa perbedaan lain yang menjadi pertimbangan untuk pengembangan produk adalah:
- Stabilitas rendah
Stabilitas dipengaruhi oleh ukuran partikel (gumpalan lemak), pembentukan emulsi, butiran pati yang tidak terganggu dan kelarutan protein. Inovasi yang dapat dilakukan dalam proses produksi adalah penerapan penggilingan koloid, pasteurisasi dan sterilisasi, pengemulsi dan penstabil berbasis novel food, homogenisasi bertekanan sangat tinggi (UHPH), homogenisasi ultrasonik Iradiasi ultrasonografi berintensitas tinggi. - Off-flavor
Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.

