Tasty & Healthy Probiotic Chocolate


Oleh Dimas Rahadian Aji Muhammad, Ph.D
Dosen Ilmu Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret PATPI Cabang Surakarta

Cokelat merupakan produk konfeksioneri populer yang digemari oleh hampir semua kalangan usia. Popularitas cokelat ini dipengaruhi oleh karakter sensoris produk yang mempunyai perpaduan rasa manis, cita rasa khas kakao, tekstur yang lembut, serta sensasi meleleh di dalam mulut.

Dengan karakter tersebut, cokelat sering dikategorikan sebagai produk pangan indulgence yang mempunyai fungsi leisure atau untuk tujuan kesenangan penikmatnya. Namun, seiring dengan kebutuhan pasar yang mengharapkan produk pangan yang lebih menyehatkan, maka cokelat juga mengalami inovasi untuk memenuhi keinginan konsumen.

Cokelat probiotik
Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh saat dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Bakteri asam laktat seperti Lactobacillus dan berbagai spesies Bifidobacterium merupakan kelompok mikroorganisme yang banyak digunakan dalam pengembangan produk probiotik. Probiotik mempunyai peran dalam menjaga keseimbangan flora di dalam usus. Sehingga, upaya untuk meningkatkan jumlah probiotik dari luar, diperlukan matriks pembawa probiotik agar viabilitas bakteri tetap tinggi selama melewati organ pencernaan.

Cokelat merupakan produk pangan yang pada satu dekade terakhir ini banyak dikembangkan sebagai matriks pembawa probiotik, baik dalam tahapan penelitian maupun telah diproduksi dalam skala industri. Konsep cokelat probiotik mempertemukan karakter produk pangan yang tasty dengan ingridien fungsional yang mempunyai sifat menyehatkan. Cokelat merupakan matriks yang cocok sebagai pembawa probiotik karena memiliki aktivitas air (aw) yang rendah dan didominasi oleh fase lemak. Karakteristik tersebut ideal untuk mempertahankan mikroorganisme probiotik untuk tidak berkembang biak, serta tidak menyebabkan perubahan signifikan pada karakterisitik produk. Berbeda dengan matriks pembawa probiotik yang berkadar air tinggi, misalnya susu, fortifikasi mikroorganisme menyebabkan perubahan karakteristik produk menjadi lebih asam dan mengental akibat dari aktivitas mikroorganisme tersebut.

Tahapan proses produksi cokelat pada umumnya adalah mixing untuk mencampurkan bahan sesuai formula cokelat yang akan diproduksi, refining untuk memperkecil ukuran partikel, conching untuk mengurangi cita rasa asam, tempering untuk membentuk kristal agar cokelat dapat memadat, khususnya untuk cokelat couverture, serta moulding untuk mencetak cokelat. Proses pembuatan cokelat probiotik dapat dilakukan dengan penambahan proses mixing setelah proses conching atau setelah tempering, yang bertujuan untuk menambahkan probiotik pada formula cokelat. Penambahan probiotik setelah conching (sebelum tempering) perlu memperhatikan pengaruh suhu tempering terhadap kestabilan dan viabilitas mikroorganisme probiotik. Probiotik dapat ditambahkan dalam bentuk tidak terenkapsulasi atau terenkapsulasi. Namun, dalam bentuk terenkapsulasi, probiotik umumnya mempunyai viabilitas lebih tinggi, baik selama proses pengolahan, penyimpanan maupun pencernaan.

Pengaruh formula cokelat terhadap viabilitas probiotik
Viabilitas probiotik dalam cokelat dipengaruhi oleh kombinasi kondisi penyimpanan, parameter proses, penambahan bahan, serta karakteristik spesifik strain probiotik tersebut. Suhu penyimpanan merupakan salah satu variabel yang paling berpengaruh terhadap viabilitas probiotik. Suhu rendah yang stabil pada kisaran 4–7 °C terbukti lebih efektif dalam mempertahankan viabilitas probiotik dari pada penyimpanan pada suhu ruang. Fluktuasi suhu menyebabkan penurunan yang lebih besar. Sebagai contoh, pada cokelat yang difortifikasi dengan Lactobacillus acidophilus La-5 terenkapsulasi, viabilitas awal mencapai 8,7 log CFU/g, tetapi kemudian mengalami penurunan selama penyimpanan 90 hari. Pada akhir periode penyimpanan, jumlah sel hidup menurun menjadi 6,4 log CFU/g pada suhu 4°C dibandingkan dengan 6,0 log CFU/g pada suhu 25 °C. Kajian lain menunjuukan bahwa viabilitas probiotik dapat bertahan hingga 180 hari pada penyimpanan 4°C atau 120 hari pada suhu 25°C.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait

FOODREVIEW DIGITAL LIBRARY