Penerapan Teknologi Hurdle dalam Pengawetan Pangan

Oleh Lilis Nuraida



Di dalam prakteknya, penggunaan satu jenis metode pengawetan saja tidak cukup untuk mempertahankan mutu pangan yang diawetkan dalam waktu relatif lama. Oleh karena itu, pengawetan yang dilakukan pada umumnya merupakan kombinasi dari berbagai metode pengawetan

Sejak berabad-abad yang lalu, manusia selalu berupaya mencari cara untuk dapat menyimpan makanan dalam waktu lama tanpa adanya kerusakan. Pemanasan, pengeringan, pengasapan, penggaraman, pengasaman, penambahan gula dan penambahan bahan pengawet serta pendinginan adalah contoh-contoh metode pengawetan yang sering digunakan. Di dalam prakteknya, penggunaan satu jenis metode pengawetan saja tidak cukup untuk mempertahankan mutu pangan yang diawetkan dalam waktu relatif lama. Oleh karena itu, pengawetan yang dilakukan pada umumnya merupakan kombinasi dari berbagai metode pengawetan. Sebagai contoh pada produk-produk yang diasap, perlakuan pengawetan yang diterima adalah pemanasan, pengurangan kadar air dan senyawa antimikroba dari asap yang terdeposit pada bahan pangan yang diasap. Beberapa produk yang akan diasap juga dapat dicelupkan ke dalam air garam atau dilumuri garam, sehingga dapat menambah efek pengawetan.

Secara empiris kombinasi berbagai macam pengawet telah diketahui, namun konsep mengenai kombinasi berbagai metode pengawetan dan landasan ilmiahnya dikembangkan oleh Leistner seorang peneliti dari Jerman, yang konsepnya kemudian dikenal dengan Hrden Technologie (Jerman), Hurdle Technology (Inggris) atau kombinasi pengawetan, kombinasi proses. Setiap faktor yang berperan dalam pengawetan atau metode yang digunakan untuk tujuan pengawetan disebut hurdle. Teknologi hurdle tidak hanya sekedar mengkombinasikan berbagai metode pengawetan, namun juga dapat digunakan untuk mengoptimalkan efek pengawetan yang dinginkan tanpa memberikan perlakuan pengawetan yang berlebihan.



Secara sederhana pertumbuhan mikroorganisme pada pangan yang diawetkan dengan mengaplikasikan teknologi hurdle dapat diibaratkan sebagai seorang atlit yang sedang berlari halang rintang. Rintangan-rintangan tersebut dapat dianalogikan sebagai berbagai macam metode pengawetan yang akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme (Gambar 1). Mikroorganisme yang berada dalam bahan pangan tidak boleh melewati hurdle yang diterapkan. Jika mikroorganisme dapat melewati hurdle atau tidak terhambat oleh hurdle maka pangan tersebut akan busuk atau mikroorganisme patogen akan tumbuh. Pada Gambar 2a, pangan memiliki 6 hurdle yaitu suhu tinggi selama pengolahan (F), suhu rendah selama penyimpanan (t), aw yang rendah (aw), keasaman tinggi (pH), potensi redoks yang rendah (Eh) dan bahan pengawet (pres). Mikroorganisme yang ada dalam bahan pangan tidak dapat melewati hurdle tersebut. Gambar 2a tersebut menggambarkan aplikasi hurdle secara teoritis karena intensitas masing-masing hurdle sama besarnya dan ini jarang terjadi pada proses pengolahan. Gambar 2b menunjukkan kondisi yang hampir mendekati keadaan sebenarnya, dimana intensitas masing-masing hurdle berbeda. Hurdle utama pada Gambar 2b adalah aw dan BTP (pres).


Hurdle utama
Hurdle yang berpotensi dalam pengawetan dapat dikelompokkan ke dalam fisik, fisiko-kimia dan yang berasal dari mikroba (Tabel 1). Diantara kelompok ini, hurdle yang paling penting adalah hurdle proses dan additif, seperti suhu tinggi, suhu rendah, aktivitas air (aw), keasaman, potensi redoks (Eh), mikroorganisme kompetitor (misalnya bakteri asam laktat) dan pengawet (misalnya nitrit, sorbat, sulfit). Aplikasi dari masing-masing hurdle utama ini dapat dilihat pada Tabel 2. Selain hurdle utama tersebut, berbagai metode pengawetan mutakhir seperti high hydrostatic pressure (HHP), electromagnetic energy, high-voltage electric pulses dan proses fisik lainnya dapat diterapkan sebagai salah satu hurdle.


Aplikasi hurlde dalam menjamin
total quality foods

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait