3D PRINTING CHOCOLATE: TEKNOLOGI, MUTU, DAN KUNCI KEBERHASILAN


Oleh Dimas Rahadian Aji Muhammad
Sekretaris LPPM Universitas Sebelas Maret dan PATPI Cabang Surakarta

Cokelat merupakan produk konfeksioneri yang digemari berbagai kalangan usia sehingga mempunyai pangsa pasar yang besar. Sebagai produk pangan, cokelat mempunyai fleksibilitas untuk dimodifikasi, baik secara rasa, aroma dan cita rasa, warna, kadar komponen bioaktif serta bentuk dan ukuran. Keragaman karakteristik inilah yang membuka peluang inovasi berkelanjutan dalam cara memproses dan membentuk cokelat, termasuk melalui pemanfaatan teknologi pencetakan modern seperti 3D printing.

 

Produk cokelat komersial lazimnya dibentuk pada tahapan moulding (pencetakan) yang dilakukan setelah proses tempering, menggunakan cetakan cokelat. Konsekuensinya, bentuk cokelat sangat tergantung dengan bentuk cetakan yang dimiliki. Konsumen tidak mempunyai pilihan lain pada bentuk cokelat tersebut, kecuali sesuai dengan cetakan yang dimiliki produsen. Untuk memenuhi selera konsumen yang beragam, khususnya terhadap bentuk produk pangan, maka saat ini telah berkembang teknologi cetak tiga dimensi (3D printing) yang salah satu aplikasinya untuk produk cokelat.

Produk cokelat memiliki viskositas sedang (tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer). Sifat reologi cokelat ini merupakan parameter penting untuk menentukan kompatibiltasnya untuk proses 3D printing. Selain itu, karakteristik cokelat yang dapat memadat dengan relatif cepat setelah dilelehkan merupakan karakteristik penting sebagai material untuk 3D printing. Teknologi 3D printing pada cokelat memiliki manfaat yang besar 44 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XX / NO. 11 / NOVEMBER 2025 terhadap kepentingan kustomisasi desain yang lebih detail dan personal. Cokelat biasanya dibentuk memakai cetakan yang terbuat dari silicon atau plastik yang dibuat dengan jumlah yang besar. Pemakaian cetakan cokelat ini mempunyai beberapa kelemahan salah satunya adalah tidak terdapat banyak variasi bentuk yang bisa dibuat sebab sulit untuk melakukan kustom desain produk.

Teknologi 3D Printing
Teknologi 3D printing termasuk dalam golongan teknologi Additive Manufacturing yang mempunyai prinsip kerja menambahkan lapis per lapis material untuk membuat sebuah produk atau objek yang diinginkan. Terdapat 3 teknik yang lazim digunakan pada proses 3D printing, yaitu ekstrusi (mengeluarkan material semi-cair atau pasta yang sudah dipanaskan untuk membentuk lapisan), binder jetting (menggunakan pengikat cair untuk merekatkan partikel bubuk dan menghasilkan objek berlapis), serta inkjet printing (menggunakan kepala cetak seperti printer 2D untuk menyemprotkan material lapis demi lapis). Kelebihan proses ekstruksi adalah relatif sederhana dan cepat, serta sudah umum digunakan untuk banyak jenis material. Binder jetting juga digunakan untuk berbagai jenis material dan hasil akhir seringkali lebih halus dibandingkan dengan metode ekstrusi. Sedangkan proses inkjet printing menghasilkan produk sangat detail dan presisi tinggi sehingga cocok untuk membuat objek dengan bentuk yang rumit. Namun, biaya material yang relatif mahal dan membutuhkan penanganan khusus.

Mesin pencetak tiga dimensi mempunyai beberapa komponen utama. Pada sistem pencetak ekstruksi mempunyai extruder berfungsi sebagai pengatur suhu dan untuk mendorong tinta cokelat. X stepper berfungsi untuk menggerakkan katrit ke kanan dan ke kiri. Y stepper berfungsi untuk menggerakkan katrit maju-mundur. Z stepper berfungsi untuk menggerakkan katrit naik-turun. Bahan yang akan dicetak diletakkan pada tube dalam bentuk pasta nilai viskositas, Setelah itu, pasta cokelat diekstrusi lewat ujung tabung atau nozzle. Pada keluaran nozzle ini produk digerakkan pada sumbu X, Y, dan Z yang akan membentuk sebuah produk.

Objek yang dicetak didasarkan pada model tiga dimensi dengan file Additive Manufacturing File (AMF) dari software Computer Aided Design (CAD) 46 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XX / NO. 11 / NOVEMBER 2025 yang sebelumnya telah dirancang. File CAD ini selanjutnya diubah menjadi file STereoLithography (STL) yang berisi Geometric Code (G-Code) agar dapat dibaca oleh alat untuk mengatur parameter alat serta memerintahkan setiap detil langkah sesuai objek yang akan dicetak. G-Code berisikan serangkaian barisan perintah yang digunakan untuk mengatur gerak printhead atau nozzle secara otomatis pada bentuk tiga dimensi dengan sumbu axis X, Y, dan Z.

Atribut mutu cokelat 3 dimensi

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait