Mustika Ratu Pioneer Minuman Tradisional Berteknologi Modern
Dipublikasikan pada
29 Oct 2009
Indonesia kaya akan produk pangan
tradisional. Saat ini beberapa produk tersebut
telah diproduksi dalam skala industri dan
banyak beredar di pasaran dalam kemasan
yang praktis, dari yang berbentuk bubuk
hingga dalam kemasan Tetra Pak. Salah satu
pelopornya adalah BRA Mooryati Soedibyo.
Seperti apa perintisan yang dilakukan oleh
Direktur Utama PT. Mustika Ratu ini dalam
upaya pengembangan produk tradisional ?
Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal itu,
FOODREVIEW INDONESIA berkesempatan
melakukan wawancara khusus dengan
ketua umum Asosiasi Spa Indonesia (ASPI)
ini di rumahnya yang asri di kawasan Jalan
Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat.
Berikut adalah petikannya.
Apa yang melatarbelakangi Mustika Ratu
mengembangkan minuman tradisional?
Pada awalnya, selama ini saya
memang berkecimpung dibidang perawatan
kesehatan berdasarkan bahan alam Indonesia,
yang pada hakikatnya merupakan tradisi
bangsa yang diwariskan turun-temurun.
Pada jaman dahulu, orang merawat
kesehatan dengan membuat ramuan dari
akar-akaran, dedaunan, kulit pohon, bijibijian,
dan bunga-bungaan yang dianggap
berkhasiat. Ramuan dibuat dari beberapa
macam bahan yang dicampur, ditumbuk
halus, diperas, diberi air, dan disaring,
yang kemudian diminum segar. Tapi, ada
juga yang membuat semua bahan tersebut dikeringkan, lalu ditumbuk halus,
disaring, serta disimpan dalam toples,
dan jika ingin meminumnya dicampur
dengan air panas. Untuk yang tidak suka
dengan rasa pahitnya, serbuk-serbuk
halus tersebut dicampur dengan sedikit
air, kemudian dibentuk menjadi bulatanbulatan
kecil dan ditelan bersama pisang.
Sekarang jamannya sudah
berbeda, seiring dengan banyaknya
teknologi modern dalam industri,
tradisi kesehatan bisa dikembangkan
sedemikian rupa, sesuai dengan
kebutuhan dan juga keinginan masyarakat,
terutama dalam hal selera. Selain jamu, ada
juga minuman seperti wedang beras kencur,
serbat, wedang jahe, bandrek, gula asam, dan
lainnya. Sebagai seorang pengusaha, saya
harus mengembangkannya, tidak bisa statis.
Oleh sebab itulah, dilakukan inovasi.
Seperti apa awal mula merintis minuman
tradisional ke dalam skala industri?
Waktu itu kami kesulitan karena
belum mengetahui teknologi yang bisa
digunakan, karena yang ada hanya mesinmesin
penggerus rempah-rempah untuk
membuat pil. Kami meminta info dari
ahli pangan IPB, dan juga dari pengusahapengusaha
mesin mengenai bagaimana
produk minuman tradisional bisa awet. Kami
juga melakukan survei ke pabrik-pabrik di
Eropa, dan waktu itu ada pabrik di Belanda
yang dapat dijadikan contoh. Produk yang
pertama kali dikembangkan adalah beras
kencur, lalu gula asam, dan kunir asam.
Jika dulu beras kencur hanya tahan
2-3 hari, sekarang sudah bisa tahan sampai
2 tahun, sehingga bisa dikirim keluar negeri.
Beras kencur tersebut dikemas dengan
teknologi Tetra Pak dan menjadi lebih praktis
untuk disimpan ataupun dikonsumsi di mana
saja.
Bagaimana transfer teknologi dilakukan
terhadap minuman tradisional?
Walau visi kami adalah ?Indonesian
traditional heritage?, namun kami harus terus
mengikuti kemajuan teknologi, karena yang
dijangkau adalah konsumen negara maju.
Kalau konsumen Indonesia dan Malaysia yang
serumpun, mungkin sudah mengerti dengan
minuman tradisional. Tapi, untuk konsumen
lainnya belum tahu apa itu beras kencur, gula
asam, dan lainnya.
Bagaimana upaya formulasi minumanminuman
tradisional tersebut?
Saya tidak mengumpulkan formulasi
tersebut. Dari kecil saya sudah terbiasa
minum-minuman tersebut. Misalnya, jika
masuk angin minum bandrek; bila letih dan
pegal-pegal minum beras kencur, karena di
dalam kencur terdapat komponen bernama
kaemferin untuk mengatasi hal tersebut;
untuk mencegah inflamasi bisa dengan
memanfaatkan tanin yang terdapat pada
kunyit; dan bila panas-dingin, dengan
mengkonsumsi kunir asam. Biasanya setelah
itu panasnya akan turun.
Agar tidak hilang, saya telah membuat
Buku ?Alam Sumber Kesehatan? yang
menjelaskan manfaat kekayaan-kekayaan
alam Indonesia beserta khasiatnya. Dan
banyak rekan-rekan saya dari luar negeri yang
menanyakannya. Oleh sebab itu saya berpikir
untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa
Inggris.
Dari segi bahan baku, bagaimana
kecukupannya?
Hingga saat ini tidak ada masalah.
Bahan-bahannya dapat diperoleh tidak
hanya dari Pulau Jawa. Misalnya ketika
asam di Jawa Tengah habis, kami kemudian
mengambilnya dari Madura dan Indonesia Timur. Selain itu, kami juga
memiliki suplier khusus,
sehingga standar mutunya dapat
terjamin.
Seberapa besar kekayaan
minuman tradisional Indonesia,
dan bagaimana potensinya?
Potensi minuman
tradisional Indonesia sangat
besar dan bisa menjadi produk
bernilai ekonomi tinggi. Produk
tersebut bisa merajai dunia.
Jika Coca Cola bisa, mengapa
kita tidak? Bukankah produk
kita berkhasiat dan segar.
Contohnya gula asam, yang
rasanya segar seperti apple juice.
Saat ini produk Mustika Ratu diekspor
ke 20 negara, di antaranya Afrika, Rusia,
Singapura, Brunai, Malaysia, Kanada, Jepang,
Ceko, Timur Tengah, dan lainnya. Produkproduk
tersebut juga dibawa oleh Spa Mustika
Ratu yang tersebar di berbagai negara.
Biasanya agen-agen melihat dulu
permintaan produk di negaranya masingmasing,
setelah itu baru memesannya pada
kita. Rusia misalnya, produk kami yang
paling disukai adalah slimming tea, dimana
produk tersebut selain memberikan khasiat
dapat membantu melangsingkan tubuh, juga
sangat praktis. Sedangkan konsumen Kanada
lebih suka produk minuman segar.
Bagaimana strategi untuk mencapai
hal tersebut?
Pemerintah harus mendukung penuh
dan melindungi warisan bangsa tersebut,
seperti halnya yang dilakukan di Cina dan
Korea. Pemerintah Korea menanam dan
melakukan penelitian terhadap kekayaan
alamnya, bahkan sebelum meminum obat
modern, rakyatnya dianjurkan terlebih
dahulu meminum obat tradisional. Begitupun
dengan di Cina. Indonesia harus mencontoh
hal tersebut. Penelitian mengenai jamu dan
minuman tradisional harus
dilakukan oleh pemerintah.
Sebab dari segi biaya tidak
mungkin pengusaha yang
melakukannya, karena saat ini
produk dijual sangat murah
dan itupun 60% untuk biaya
kemasan, sedangkan isinya
hanya sekitar 40%. Dana
penelitian yang dibutuhkan
untuk meneliti khasiat tersebut
berkisar antara Rp. 200-300
juta, dan manfaatnya bisa
dirasakan oleh seluruh Bangsa
Indonesia mengingat jamu
dan minuman tradisional
merupakan warisan dan
kekayaan alam bangsa.
Selain itu, pemerintah sebaiknya juga
menganjurkan agar hotel-hotel mendisplai
produk-produk minuman tradisional,
selain minuman impor. Di supermarketsupermarket
sudah selayaknya produk lokal
diletakkan di atas, jangan di bawah. Sebab,
produk luar diletakkan di bawahpun akan
selalu dicari, sedangkan produk lokal belum
tentu.
Apalagi yang perlu dilakukan?
Dari segi pendidikan, kita mungkin
harus belajar dari India. Mereka memiliki
sekolah yang bernama ?Hakeem? dengan
masa pendidikan sekitar 7 tahun sebagaimana
layaknya dokter, yang mempelajari ramuanramuan
tradisional. Dan setelah lulus,
mereka akan memperoleh sertifikasi untuk
membuka praktek. Saya, sudah pernah
mencoba merintisnya ketika menjadi ketua
umum Gabungan Pangusaha Jamu dan Obat
Tradisional Indonesia (GP Jamu) dengan
bekerja sama dengan UGM bagian farmasi,
membuka jurusan tradisional, waktu itu masih
strata D2. Harapannya suatu saat nanti bisa
menjadi suatu pendidikan profesi khusus
seperti ?Hakeem? di India. Hendry Noer F.
Indonesia kaya akan produk pangan
tradisional. Saat ini beberapa produk tersebut
telah diproduksi dalam skala industri dan
banyak beredar di pasaran dalam kemasan
yang praktis, dari yang berbentuk bubuk
hingga dalam kemasan Tetra Pak. Salah satu
pelopornya adalah BRA Mooryati Soedibyo.
Seperti apa perintisan yang dilakukan oleh
Direktur Utama PT. Mustika Ratu ini dalam
upaya pengembangan produk tradisional ?
Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal itu,
FOODREVIEW INDONESIA berkesempatan
melakukan wawancara khusus dengan
ketua umum Asosiasi Spa Indonesia (ASPI)
ini di rumahnya yang asri di kawasan Jalan
Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat.
Berikut adalah petikannya.
Apa yang melatarbelakangi Mustika Ratu
mengembangkan minuman tradisional?
Pada awalnya, selama ini saya
memang berkecimpung dibidang perawatan
kesehatan berdasarkan bahan alam Indonesia,
yang pada hakikatnya merupakan tradisi
bangsa yang diwariskan turun-temurun.
Pada jaman dahulu, orang merawat
kesehatan dengan membuat ramuan dari
akar-akaran, dedaunan, kulit pohon, bijibijian,
dan bunga-bungaan yang dianggap
berkhasiat. Ramuan dibuat dari beberapa
macam bahan yang dicampur, ditumbuk
halus, diperas, diberi air, dan disaring,
yang kemudian diminum segar. Tapi, ada
juga yang membuat semua bahan tersebut dikeringkan, lalu ditumbuk halus,
disaring, serta disimpan dalam toples,
dan jika ingin meminumnya dicampur
dengan air panas. Untuk yang tidak suka
dengan rasa pahitnya, serbuk-serbuk
halus tersebut dicampur dengan sedikit
air, kemudian dibentuk menjadi bulatanbulatan
kecil dan ditelan bersama pisang.
Sekarang jamannya sudah
berbeda, seiring dengan banyaknya
teknologi modern dalam industri,
tradisi kesehatan bisa dikembangkan
sedemikian rupa, sesuai dengan
kebutuhan dan juga keinginan masyarakat,
terutama dalam hal selera. Selain jamu, ada
juga minuman seperti wedang beras kencur,
serbat, wedang jahe, bandrek, gula asam, dan
lainnya. Sebagai seorang pengusaha, saya
harus mengembangkannya, tidak bisa statis.
Oleh sebab itulah, dilakukan inovasi.
Seperti apa awal mula merintis minuman
tradisional ke dalam skala industri?
Waktu itu kami kesulitan karena
belum mengetahui teknologi yang bisa
digunakan, karena yang ada hanya mesinmesin
penggerus rempah-rempah untuk
membuat pil. Kami meminta info dari
ahli pangan IPB, dan juga dari pengusahapengusaha
mesin mengenai bagaimana
produk minuman tradisional bisa awet. Kami
juga melakukan survei ke pabrik-pabrik di
Eropa, dan waktu itu ada pabrik di Belanda
yang dapat dijadikan contoh. Produk yang
pertama kali dikembangkan adalah beras
kencur, lalu gula asam, dan kunir asam.
Jika dulu beras kencur hanya tahan
2-3 hari, sekarang sudah bisa tahan sampai
2 tahun, sehingga bisa dikirim keluar negeri.
Beras kencur tersebut dikemas dengan
teknologi Tetra Pak dan menjadi lebih praktis
untuk disimpan ataupun dikonsumsi di mana
saja.
Bagaimana transfer teknologi dilakukan
terhadap minuman tradisional?
Walau visi kami adalah ?Indonesian
traditional heritage?, namun kami harus terus
mengikuti kemajuan teknologi, karena yang
dijangkau adalah konsumen negara maju.
Kalau konsumen Indonesia dan Malaysia yang
serumpun, mungkin sudah mengerti dengan
minuman tradisional. Tapi, untuk konsumen
lainnya belum tahu apa itu beras kencur, gula
asam, dan lainnya.
Bagaimana upaya formulasi minumanminuman
tradisional tersebut?
Saya tidak mengumpulkan formulasi
tersebut. Dari kecil saya sudah terbiasa
minum-minuman tersebut. Misalnya, jika
masuk angin minum bandrek; bila letih dan
pegal-pegal minum beras kencur, karena di
dalam kencur terdapat komponen bernama
kaemferin untuk mengatasi hal tersebut;
untuk mencegah inflamasi bisa dengan
memanfaatkan tanin yang terdapat pada
kunyit; dan bila panas-dingin, dengan
mengkonsumsi kunir asam. Biasanya setelah
itu panasnya akan turun.
Agar tidak hilang, saya telah membuat
Buku ?Alam Sumber Kesehatan? yang
menjelaskan manfaat kekayaan-kekayaan
alam Indonesia beserta khasiatnya. Dan
banyak rekan-rekan saya dari luar negeri yang
menanyakannya. Oleh sebab itu saya berpikir
untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa
Inggris.
Dari segi bahan baku, bagaimana
kecukupannya?
Hingga saat ini tidak ada masalah.
Bahan-bahannya dapat diperoleh tidak
hanya dari Pulau Jawa. Misalnya ketika
asam di Jawa Tengah habis, kami kemudian
mengambilnya dari Madura dan Indonesia Timur. Selain itu, kami juga
memiliki suplier khusus,
sehingga standar mutunya dapat
terjamin.
Seberapa besar kekayaan
minuman tradisional Indonesia,
dan bagaimana potensinya?
Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Potensi minuman
tradisional Indonesia sangat
besar dan bisa menjadi produk
bernilai ekonomi tinggi. Produk
tersebut bisa merajai dunia.
Jika Coca Cola bisa, mengapa
kita tidak? Bukankah produk
kita berkhasiat dan segar.
Contohnya gula asam, yang
rasanya segar seperti apple juice.
Saat ini produk Mustika Ratu diekspor
ke 20 negara, di antaranya Afrika, Rusia,
Singapura, Brunai, Malaysia, Kanada, Jepang,
Ceko, Timur Tengah, dan lainnya. Produkproduk
tersebut juga dibawa oleh Spa Mustika
Ratu yang tersebar di berbagai negara.
Biasanya agen-agen melihat dulu
permintaan produk di negaranya masingmasing,
setelah itu baru memesannya pada
kita. Rusia misalnya, produk kami yang
paling disukai adalah slimming tea, dimana
produk tersebut selain memberikan khasiat
dapat membantu melangsingkan tubuh, juga
sangat praktis. Sedangkan konsumen Kanada
lebih suka produk minuman segar.
Bagaimana strategi untuk mencapai
hal tersebut?
Pemerintah harus mendukung penuh
dan melindungi warisan bangsa tersebut,
seperti halnya yang dilakukan di Cina dan
Korea. Pemerintah Korea menanam dan
melakukan penelitian terhadap kekayaan
alamnya, bahkan sebelum meminum obat
modern, rakyatnya dianjurkan terlebih
dahulu meminum obat tradisional. Begitupun
dengan di Cina. Indonesia harus mencontoh
hal tersebut. Penelitian mengenai jamu dan
minuman tradisional harus
dilakukan oleh pemerintah.
Sebab dari segi biaya tidak
mungkin pengusaha yang
melakukannya, karena saat ini
produk dijual sangat murah
dan itupun 60% untuk biaya
kemasan, sedangkan isinya
hanya sekitar 40%. Dana
penelitian yang dibutuhkan
untuk meneliti khasiat tersebut
berkisar antara Rp. 200-300
juta, dan manfaatnya bisa
dirasakan oleh seluruh Bangsa
Indonesia mengingat jamu
dan minuman tradisional
merupakan warisan dan
kekayaan alam bangsa.
Selain itu, pemerintah sebaiknya juga
menganjurkan agar hotel-hotel mendisplai
produk-produk minuman tradisional,
selain minuman impor. Di supermarketsupermarket
sudah selayaknya produk lokal
diletakkan di atas, jangan di bawah. Sebab,
produk luar diletakkan di bawahpun akan
selalu dicari, sedangkan produk lokal belum
tentu.
Apalagi yang perlu dilakukan?
Dari segi pendidikan, kita mungkin
harus belajar dari India. Mereka memiliki
sekolah yang bernama ?Hakeem? dengan
masa pendidikan sekitar 7 tahun sebagaimana
layaknya dokter, yang mempelajari ramuanramuan
tradisional. Dan setelah lulus,
mereka akan memperoleh sertifikasi untuk
membuka praktek. Saya, sudah pernah
mencoba merintisnya ketika menjadi ketua
umum Gabungan Pangusaha Jamu dan Obat
Tradisional Indonesia (GP Jamu) dengan
bekerja sama dengan UGM bagian farmasi,
membuka jurusan tradisional, waktu itu masih
strata D2. Harapannya suatu saat nanti bisa
menjadi suatu pendidikan profesi khusus
seperti ?Hakeem? di India. Hendry Noer F.
Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.