Mustika Ratu Pioneer Minuman Tradisional Berteknologi Modern

Indonesia kaya akan produk pangan tradisional. Saat ini beberapa produk tersebut telah diproduksi dalam skala industri dan banyak beredar di pasaran dalam kemasan yang praktis, dari yang berbentuk bubuk hingga dalam kemasan Tetra Pak. Salah satu pelopornya adalah BRA Mooryati Soedibyo. Seperti apa perintisan yang dilakukan oleh Direktur Utama PT. Mustika Ratu ini dalam upaya pengembangan produk tradisional ? Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal itu, FOODREVIEW INDONESIA berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan ketua umum Asosiasi Spa Indonesia (ASPI) ini di rumahnya yang asri di kawasan Jalan Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat. Berikut adalah petikannya.

Apa yang melatarbelakangi Mustika Ratu
mengembangkan minuman tradisional?

Pada awalnya, selama ini saya memang berkecimpung dibidang perawatan kesehatan berdasarkan bahan alam Indonesia, yang pada hakikatnya merupakan tradisi bangsa yang diwariskan turun-temurun.

Pada jaman dahulu, orang merawat kesehatan dengan membuat ramuan dari akar-akaran, dedaunan, kulit pohon, bijibijian, dan bunga-bungaan yang dianggap berkhasiat. Ramuan dibuat dari beberapa macam bahan yang dicampur, ditumbuk halus, diperas, diberi air, dan disaring, yang kemudian diminum segar. Tapi, ada juga yang membuat semua bahan tersebut dikeringkan, lalu ditumbuk halus, disaring, serta disimpan dalam toples, dan jika ingin meminumnya dicampur dengan air panas. Untuk yang tidak suka dengan rasa pahitnya, serbuk-serbuk halus tersebut dicampur dengan sedikit air, kemudian dibentuk menjadi bulatanbulatan kecil dan ditelan bersama pisang.

Sekarang jamannya sudah berbeda, seiring dengan banyaknya teknologi modern dalam industri, tradisi kesehatan bisa dikembangkan sedemikian rupa, sesuai dengan kebutuhan dan juga keinginan masyarakat, terutama dalam hal selera. Selain jamu, ada juga minuman seperti wedang beras kencur, serbat, wedang jahe, bandrek, gula asam, dan lainnya. Sebagai seorang pengusaha, saya harus mengembangkannya, tidak bisa statis. Oleh sebab itulah, dilakukan inovasi.

Seperti apa awal mula merintis minuman tradisional ke dalam skala industri?

Waktu itu kami kesulitan karena belum mengetahui teknologi yang bisa digunakan, karena yang ada hanya mesinmesin penggerus rempah-rempah untuk membuat pil. Kami meminta info dari ahli pangan IPB, dan juga dari pengusahapengusaha mesin mengenai bagaimana produk minuman tradisional bisa awet. Kami juga melakukan survei ke pabrik-pabrik di Eropa, dan waktu itu ada pabrik di Belanda yang dapat dijadikan contoh. Produk yang pertama kali dikembangkan adalah beras kencur, lalu gula asam, dan kunir asam.

Jika dulu beras kencur hanya tahan 2-3 hari, sekarang sudah bisa tahan sampai 2 tahun, sehingga bisa dikirim keluar negeri. Beras kencur tersebut dikemas dengan teknologi Tetra Pak dan menjadi lebih praktis untuk disimpan ataupun dikonsumsi di mana saja.

Bagaimana transfer teknologi dilakukan terhadap minuman tradisional?

Walau visi kami adalah ?Indonesian traditional heritage?, namun kami harus terus mengikuti kemajuan teknologi, karena yang dijangkau adalah konsumen negara maju. Kalau konsumen Indonesia dan Malaysia yang serumpun, mungkin sudah mengerti dengan minuman tradisional. Tapi, untuk konsumen lainnya belum tahu apa itu beras kencur, gula asam, dan lainnya.

Bagaimana upaya formulasi minumanminuman tradisional tersebut?

Saya tidak mengumpulkan formulasi tersebut. Dari kecil saya sudah terbiasa minum-minuman tersebut. Misalnya, jika masuk angin minum bandrek; bila letih dan pegal-pegal minum beras kencur, karena di dalam kencur terdapat komponen bernama kaemferin untuk mengatasi hal tersebut; untuk mencegah inflamasi bisa dengan memanfaatkan tanin yang terdapat pada kunyit; dan bila panas-dingin, dengan mengkonsumsi kunir asam. Biasanya setelah itu panasnya akan turun.

Agar tidak hilang, saya telah membuat Buku ?Alam Sumber Kesehatan? yang menjelaskan manfaat kekayaan-kekayaan alam Indonesia beserta khasiatnya. Dan banyak rekan-rekan saya dari luar negeri yang menanyakannya. Oleh sebab itu saya berpikir untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris.

Dari segi bahan baku, bagaimana kecukupannya?

Hingga saat ini tidak ada masalah. Bahan-bahannya dapat diperoleh tidak hanya dari Pulau Jawa. Misalnya ketika asam di Jawa Tengah habis, kami kemudian mengambilnya dari Madura dan Indonesia Timur. Selain itu, kami juga memiliki suplier khusus, sehingga standar mutunya dapat terjamin.

Seberapa besar kekayaan minuman tradisional Indonesia, dan bagaimana potensinya?

Potensi minuman tradisional Indonesia sangat besar dan bisa menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Produk tersebut bisa merajai dunia. Jika Coca Cola bisa, mengapa kita tidak? Bukankah produk kita berkhasiat dan segar. Contohnya gula asam, yang rasanya segar seperti apple juice.

Saat ini produk Mustika Ratu diekspor ke 20 negara, di antaranya Afrika, Rusia, Singapura, Brunai, Malaysia, Kanada, Jepang, Ceko, Timur Tengah, dan lainnya. Produkproduk tersebut juga dibawa oleh Spa Mustika Ratu yang tersebar di berbagai negara.

Biasanya agen-agen melihat dulu permintaan produk di negaranya masingmasing, setelah itu baru memesannya pada kita. Rusia misalnya, produk kami yang paling disukai adalah slimming tea, dimana produk tersebut selain memberikan khasiat dapat membantu melangsingkan tubuh, juga sangat praktis. Sedangkan konsumen Kanada lebih suka produk minuman segar.

Bagaimana strategi untuk mencapai hal tersebut?

Pemerintah harus mendukung penuh dan melindungi warisan bangsa tersebut, seperti halnya yang dilakukan di Cina dan Korea. Pemerintah Korea menanam dan melakukan penelitian terhadap kekayaan alamnya, bahkan sebelum meminum obat modern, rakyatnya dianjurkan terlebih dahulu meminum obat tradisional. Begitupun dengan di Cina. Indonesia harus mencontoh hal tersebut. Penelitian mengenai jamu dan minuman tradisional harus dilakukan oleh pemerintah. Sebab dari segi biaya tidak mungkin pengusaha yang melakukannya, karena saat ini produk dijual sangat murah dan itupun 60% untuk biaya kemasan, sedangkan isinya hanya sekitar 40%. Dana penelitian yang dibutuhkan untuk meneliti khasiat tersebut berkisar antara Rp. 200-300 juta, dan manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh Bangsa Indonesia mengingat jamu dan minuman tradisional merupakan warisan dan kekayaan alam bangsa.

Selain itu, pemerintah sebaiknya juga menganjurkan agar hotel-hotel mendisplai produk-produk minuman tradisional, selain minuman impor. Di supermarketsupermarket sudah selayaknya produk lokal diletakkan di atas, jangan di bawah. Sebab, produk luar diletakkan di bawahpun akan selalu dicari, sedangkan produk lokal belum tentu.

Apalagi yang perlu dilakukan?

Dari segi pendidikan, kita mungkin harus belajar dari India. Mereka memiliki sekolah yang bernama ?Hakeem? dengan masa pendidikan sekitar 7 tahun sebagaimana layaknya dokter, yang mempelajari ramuanramuan tradisional. Dan setelah lulus, mereka akan memperoleh sertifikasi untuk membuka praktek. Saya, sudah pernah mencoba merintisnya ketika menjadi ketua umum Gabungan Pangusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) dengan bekerja sama dengan UGM bagian farmasi, membuka jurusan tradisional, waktu itu masih strata D2. Harapannya suatu saat nanti bisa menjadi suatu pendidikan profesi khusus seperti ?Hakeem? di India. Hendry Noer F.


Artikel Terkait