STRUKTUR MIKRO SUSU: Kunci Rekayasa Tekstur, Rasa, & Stabilitas Produk Dairy


Oleh Anang M. Legowo dan Lutfi Purwitasari
Program Studi S1 Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro

Ketika mengonsumsi susu segar, yoghurt, ataupun es krim, konsumen sering kali menilai kualitas produk berdasarkan tekstur yang halus, rasa yang gurih (creamy), serta kenampakan yang homogen. Di balik setiap karakteristik spesifik dan kelembutan rasa tersebut, terdapat sistem struktur mikro yang sangat teratur sebagai hasil interaksi dari ratusan komponen susu pada skala mikro.

Susu adalah bahan pangan paling kompleks dalam ilmu pangan. Secara fisik dan kimiawi, susu merupakan sistem emulsi minyak/ lemak dalam air, di mana droplet lemak mikroskopis tersebar dalam fase cair yang mengandung protein, laktosa, mineral, dan vitamin. Kualitas produk dairy sangat bergantung pada komponen-komponen yang menyusunnya serta bagaimana komponen tersebut berinteraksi satu sama lain.

Pemahaman terhadap struktur mikro susu telah membuka cakrawala baru dalam teknologi pangan. Bukan sekadar penjelasan ilmiah, pemahaman ini menjadi fondasi praktis dalam proses pengolahan, formulasi produk baru, dan inovasi menuju produk dairy yang lebih menyehatkan, lebih berkelanjutan, dan lebih sesuai kebutuhan konsumen modern. Creaminess yang kita rasakan, ternyata bukan hanya soal kadar lemak, melainkan hasil rekayasa struktur mikro yang cermat.

Susu sebagai sistem emulsi kompleks
Secara kimiawi, susu mengandung sekitar 2,8–6,3% lemak, 2,9–4% protein, 3,6–5,6% laktosa, serta sejumlah mineral dan vitamin. Komponen- komponen ini tidak sekadar tercampur, melainkan hadir dalam kompleks yang terstruktur. Lemak hadir sebagai jutaan droplet mikroskopis yang terdispersi merata dalam fase berair susu.

Droplet lemak dikenal sebagai globula lemak susu, memiliki ukuran bervariasi, dengan diameter rata- rata 3,5 mikrometer, atau berkisar 0,1-20 mikrometer. Distribusi ukuran ini ternyata bukan hal sepele. Globula berukuran besar cenderung lebih mudah naik ke permukaan akibat perbedaan densitas, fenomena ini disebut creaming yang menyebabkan produk tampak tidak homogen. Sebaliknya, globula berukuran lebih kecil dan merata menghasilkan produk yang lebih stabil dan terasa lebih lembut.

Globula lemak susu menjadi Istimewa karena lapisan pembungkus yang menyelimutinya yakni milk fat globule membrane (MFGM) atau membran globula lemak susu. Lapisan biologis setebal sekitar 10–20 nanometer ini bukan sekadar lapisan pelindung. MFGM tersusun dari fosfolipid,

glikoprotein, kolesterol, dan enzim (Liu et al., 2022). Komposisi tersebut yang membuatnya berperan sebagai penstabil alami, mencegah globula- globula lemak bergabung (koalesensi) menjadi gumpalan yang lebih besar. Dalam sistem ini, lemak tidak larut secara langsung dalam fase cair, melainkan sebagai droplet mikroskopis yang terdispersi dan distabilkan oleh lapisan kompleks. Inilah mengapa susu segar yang baru keluar dari kelenjar ambing sapi mampu mempertahankan stabilitasnya secara alami dalam waktu tertentu, meski tanpa bahan tambahan pangan apapun.

Homogenisasi: rekayasa mikrostruktur untuk tekstur creamy
Jika susu dibiarkan tanpa perlakuan, lapisan krim akan terbentuk di permukaan susu dalam beberapa jam. Proses ini terjadi karena globula lemak berukuran besar mengapung akibat densitasnya yang lebih rendah dibandingkan fase air. Untuk mencegah hal ini terjadi dan menghasilkan produk dengan tekstur yang konsisten, industri  dairy umumnya mengandalkan satu proses kunci yakni homogenisasi.

Homogenisasi adalah proses mekanis yang memaksa susu melewati celah yang sangat sempit di bawah tekanan tinggi, umumnya antara 10 hingga 20 megapascal. Ketika susu melewati celah tersebut, gaya geser, turbulensi, dan kavitasi bekerja secara sinergis untuk memecah globula lemak berukuran besar menjadi droplet-droplet jauh lebih kecil (Henao-Ardila, et al., 2024). Hasilnya, ukuran rata-rata globula lemak turun drastis menjadi kurang dari 1 mikrometer. Susu yang diolah dengan metode ini akan menghasilkan produk yang jauh lebih homogen, lebih stabil, dan memberikan sensasi lebih halus ketika menyentuh lidah.

Namun, pemecahan globula lemak dapat menciptakan tantangan baru yakni luas permukaan total globula meningkat menjadi lebih tinggi. Jika sebelum homogenisasi satu globula besar memiliki luas permukaan tertentu, setelah dipecah menjadi ribuan droplet kecil, total luas permukaan keseluruhan meningkat puluhan kali lipat. Akibatnya lapisan MFGM asli tidak lagi cukup untuk menutupi semua permukaan baru yang terbentuk.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait

FOODREVIEW DIGITAL LIBRARY