SUSU KAMBING: Tantangan Aroma Prengus dan Strategi Pengolahannya

 

Oleh Yoga Pratama
Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Diponegoro
Ketua Food Research for Safety, Security, and Sustainability (FORC3S)

Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia pada susu sapi dan produk susu impor, susu kambing muncul sebagai alternatif strategis yang berpotensi memperkuat diversifikasi pangan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. Meskipun secara historis produksinya didominasi oleh peternak skala kecil, komoditas ini kini mengalami pertumbuhan pasar yang pesat didorong oleh keunggulan nutrisinya yang hipoalergenik dan lebih mudah dicerna. Namun, ekspansi pasar susu kambing di tingkat konsumen domestik masih terbentur oleh satu kendala sensoris utama, yaitu penerimaan terhadap aroma khasnya.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, industri susu kambing di Indonesia menunjukkan perkembangan yang pesat, didukung oleh populasi kambing perah yang mencapai 3,3 juta ekor dan tersebar di berbagai sentra produksi seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur (Kementan, 2024). Potensi pengembangan susu kambing di Indonesia juga didukung oleh keberagaman varietas kambing perah lokal, seperti Samosir, Benggala, Jawarandu, Kacang, Kejobong, dan Gembrong (Pakpahan et al., 2023).

mbrong (Pakpahan et al., 2023). Tren konsumsi susu kambing terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan pasar susu kambing global dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan bergizi dan menyehatkan. Susu kambing dikenal memiliki kandungan oligosakarida yang menyerupai ASI, asam lemak rantai pendek dan menengah yang tinggi, serta ukuran globula lemak yang lebih kecil sehingga lebih mudah dicerna. Kandungan α-kasein pada susu kambing juga lebih rendah dibandingkan susu sapi sehingga bersifat hipoalergenik (Miller and Lu, 2019). Keunggulan tersebut mendorong meningkatnya minat konsumen terhadap berbagai produk olahan susu kambing, seperti susu pasteurisasi, susu steril, yoghurt, kefir, dan es krim. Dengan berbagai keunggulan tersebut, industri susu kambing memiliki prospek ekonomi yang cerah dan peluang pasar yang terus berkembang.

Tantangan industri susu kambing: aroma prengus
Terlepas dari berbagai keunggulan, industri susu kambing menghadapi tantangan utama berupa karakteristik aroma khas yang dikenal sebagai aroma “prengus” atau goaty flavour. Secara ilmiah, aroma tersebut berasal dari keberadaan asam lemak rantai pendek seperti asam kaproat, kaprilat, dan kaprat yang secara alami terdapat dalam susu kambing. Selain itu, asam lemak bercabang seperti 4-methyloctanoic, 4-ethyloctanoic, dan 4-methylnonanoic juga turut berkontribusi terhadap karakter aroma khas tersebut. Di samping faktor intrinsik susu, kondisi eksternal seperti kebersihan kandang, teknik pemerahan, jenis pakan, serta penanganan dan penyimpanan susu turut memengaruhi intensitas aroma yang dihasilkan.

Keberadaan aroma prengus ini menimbulkan respons yang beragam di kalangan konsumen. Bagi sebagian konsumen, aroma tersebut justru dianggap sebagai penanda keaslian dan identitas khas susu kambing, sehingga dipersepsikan sebagai produk yang lebih alami dan autentik. Namun, bagi konsumen yang belum terbiasa, aroma ini kerap menjadi faktor yang menurunkan minat dan tingkat penerimaan. Oleh karenanya, aroma prengus menjadi salah satu kendala utama dalam perluasan pasar susu kambing, terutama untuk konsumen baru.

Strategi pengurangan aroma prengus
Untuk meningkatkan penerimaan susu kambing, pelaku industri seyogyanya melakukan upaya untuk mengurangi, bukan untuk menghilangkan sepenuhnya, aroma khas prengus. Strategi pengurangan aroma prengus ini bisa dikelompokkan menjadi dua pendekatan utama, on- farm dan off-farm. Pendekatan on- farm yang paling mendasar mencakup perbaikan manajemen peternakan. Misalnya, menjaga kebersihan kandang, pemberian pakan modifikasi yang mengandung tanaman herbal, serta pemisahan kambing jantan dari area pemerahan, mengingat kambing jantan memiliki karakteristik bau yang dapat berkontribusi terhadap aroma prengus. Namun demikian, efektivitas manajemen ternak tersebut umumnya berkorelasi dengan skala usaha peternakan kambing perah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang masih didominasi oleh peternak kecil (smallholders), di mana penerapan manajemen intensif sering kali terbatas oleh sumber daya, infrastruktur, dan praktik budidaya yang belum terstandardisasi.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait