RTD ALOE VERA FUNGSIONAL RENDAH GULA


Oleh Eka Ruriani
Program Studi Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember

Permintaan terhadap produk pangan fungsional mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat. Dalam sepuluh tahun terakhir, terjadi peningkatan signifikan dalam kasus penyakit yang disebabkan oleh pola konsumsi yang kurang sehat, seperti Diabetes Melitus (DM) yang semakin umum ditemukan, bahkan pada populasi usia muda.

Diabetes melitus menempati posisi ketujuh di antara sepuluh penyakit yang menyebabkan kematian global, 90%-95% dari kasus tersebut adalah DM tipe 2 (DMT2). Federasi Diabetes Internasional (IDF) memperkirakan bahwa Indonesia berada di posisi keenam dengan jumlah individu yang mengidap diabetes berusia 20-79 tahun sekitar 10,2 juta orang pada tahun 2017 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 16,7 juta orang pada tahun 2024. Asupan pangan tinggi kalori, natrium dan gula berlebihan atau tidak teratur menjadi salah satu penyebab DMT2 (Murtiningsih et al., 2021).

Pengembangan minuman fungsional Ready to Drink (RTD) rendah gula berpeluang cukup besar. Pasar generasi milenial sangat potensial di Indonesia, karena mewakili 35% jumlah penduduk Indonesia, terutama setelah adanya pandemi Covid-19. Seperti yang dilaporkan oleh Sibuea dan Nainggolan (2022) bahwa sebanyak 71,2% generasi milenial mengonsumsi pangan fungsional dan 80,8% mengkonsumsinya dalam bentuk minuman herbal. Hasil survei Nielsen’s New Global Health and Ingredient-Sentiment terhadap 63 negara, termasuk Indonesia, melaporkan bahwa 80% konsumen di Indonesia membatasi asupan diet pangan yang membahyakan kesehatan, dan 89% responden telah meminimalkan konsumsi pangan yang mengandung gula, lemak dan kalori berlebih (Nielsen, 2016). 

Potensi lidah buaya 
Lidah buaya (Aloe vera) merupakan salah satu komoditas pertanian potensial di Indonesia yang sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan baku industri biofarmaka dan kosmetik. Luas panen tanaman lidah buaya di Indonesia mencapai 1.238.764 m2 dengan produktivitasnya sebesar 4.396.628 kg. Provinsi Jawa Timur menempati urutan ketiga sebagai provinsi penghasil lidah buaya terbesar setelah Kalimantan Barat dan Yogyakarta, dengan produktivitas tertingginya sebesar 376.572 kg berada di Kabupaten Kediri (BPS, 2023). Bahkan, ekstrak lidah buaya mengalami kenaikkan jumlah ekspor dari tahun 2010 sebanyak 26,6 ton hingga tahun 2020 mencapai 21,7 ribu ton.

 Lidah buaya merupakan tanaman biofarmaka yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sebagai bahan pangan fungsional. Zat yang dikandung dalam lidah buaya seperti saponin, lignin, anthraquinsi on, vitamin, mineral, gula, enzim, monopolisakarida, polisakarida, asam amino esensial dan sekunder memungkinkan tanaman ini menjadi bahan baku farmasi yang serba guna. Senyawa flavonoid sebagai sumber antioksidan dalam lidah buaya memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi sebesar 35,17% Radical Scavenging Activity (RSA). Adapun daging lidah buaya mengandung mineral yang juga cukup tinggi kalsium (85 mg) dan fosfor (185 mg) untuk meningkatkan kesehatan tulang dan fungsi ginjal. Lebih lanjut, pada lidah buaya ditemukan polisakarida yang kaya akan prebiotik dan dapat menstimulasi pertumbuhan bakteri probiotik untuk memperlancar saluran pencernaan. Bahkan, fraksi polisakarida dalam lidah buaya menunjukkan aktivitas imunomodulator karena adanya antiviral activity yang menguatkan fungsi sel dan menambah sistem kekebalan tubuh, sehingga tanaman ini mempunyai kemungkinan untuk digunakan sebagai bahan pengobatan bagi penderita AIDS.

Rempah sebagai kearifan lokal
Penambahan rempah pada minuman lidah buaya fungsional bertujuan untuk meningkatkan sifat imunomudulatornya dengan berbasis kearifan lokal. Produksi rempah di wilayah Jember dan sekitarnya, terutama di daerah kawasan Taman Nasional Meru Betiri cukup melimpah, bahkan terdapat sentra industri jamu dan desa boga berbasis tanaman herbal. 

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait