Fenomena Starch Damage dalam Produk Bakery

aktivitas enzim ?-amilase, dan jenis proses yang digunakan. Starch damage yang sesuai dapat meningkatkan kualitas bakery secara signifikan.

Tepung berdaya serap air tinggi dalam pembentukan adonan dengan konsistensi tertentu sangat dibutuhkan dalam produksi bakery. Jumlah adonan yang bisa dihasilkan dapat meningkat dengan adanya penyerapan air. Hal ini sangat penting secara ekonomis, karena air merupakan salah satu ingridien yang murah. Industri bakery dapat meningkatkan rendemennya dengan memilih tepung yang memiliki daya serap air tinggi. Kualitas produk dan karakter adonan yang diinginkan juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis tepung.

Namun, walaupun rendemen adonan meningkat, namun belum tentu rendemen produk akhir juga bertambah. Kehilangan air yang lebih besar dapat terjadi selama proses, sehingga harus menggunakan adonan yang lebih banyak untuk menghasilkan produk dengan berat yang diinginkan. Tipples dan Kilborn (1968) mencatat bahwa penyerapan farinograph meningkat secara linear dengan penyerapan pada pati. Demikian pula dengan dengan rendemen produk, yang meningkat secara proporsional dengan baking absorption. Farrand (1972) melaporkan bahwa idealnya produk rerotian dibuat dari pinmilled flour dengan kisaran 18-30 Farrand starch damage units menggunakan metode straight dough.

Starch damage terjadi terutama diakibatkan oleh gaya mekanis yang diperoleh dalam proses penepungan. Selama proses penepungan, 5 hingga 12% starch mengalami damage. Granula pati terbesar biasanya mengalami damage yang lebih tinggi. Terdapat dua jenis starch damage, yakni cracks dan breaks. Kedua tipe jenis starch damage tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Dua jenis starch damage. Untuk industri bakery, starch damage bisa memberikan pengaruh yang positif ataupun negatif. Adanya starch damage menyebabkan daya serap air menjadi lebih tinggi menjadi 2-4 kali beratnya. Bandingkan pada native starch, yang hanya mampu menyerap 0,4 kali beratnya. Daya serap air yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan adonan menjadi terlalu lengket, strong proofing, dan menimbulkan warna crust yang tidak diinginkan. Selain itu, starch damage juga memungkinkan beberapa enzim spesifik (salah satunya adalah ?-amilase) lebih leluasa bekerja. Industri penepungan dapat mengatur tingkat starch damage, baik dengan cara meningkatkan maupun menurunkannya. Beberapa cara yang dilaporkan dapat digunakan untuk mengatur starch damage dapat dilihat pada Tabel 1.

Meningkatkan Starch Damage

Menurunkan Starch Damage

  1. Merapatkan roll dengan kuat
  2. Meningkatkan kekompakan layer
  3. Feeding an unfavourable alimentation
  4. Menurunkan efisiensi flake disrupter
  5. Menutup flour sieves di depan mesin penepungan
  6. Favour the production of flack and straight run middling
  7. Memilih hard type of wheat
  1. Mencegah kerapatan roll yang berlebihan
  2. Mengurangi kekompakan layer produk
  3. Jika memungkinkan tingkatkan kadar abu menggunakan grooved rolls
  4. Memilih flake disrupter yang efisien
Dubat (2004) Peranan air dalam proses bread staling juga telah banyak diuji. Dilaporkan bahwa pada bread not decrusted, sejumlah air hilang karena bermigrasi dari crumb ke crust. Decrusted bread crumb menunjukkan kandungan air yang konstan selama empat hari penyimpanan. Terdapat perbedaan kadar air yang besar pada bread crumb produk rerotian dengan tingkat penyerapan yang berbeda. Tetapi, hanya sedikit perbedaan kadar air yang ditemukan pada antara bread crumb yang disimpan selama 1 jam dengan 24 jam. Kandungan air mempengaruhi firming rate dan retrogradasi pati. Firming rate diperlambat oleh kadar air yang lebih tinggi. Firming rate tercepat diperoleh pada saat kandungan airnya terendah, pada saat itu laju retrogradasinya juga berada pada kondisi terendah. Efek tersebut sama seperti yang terlihat pada gel pati, dimana gel pati juga dipengaruhi oleh sejumlah air yang terdapat pada penyimpanan. Rekristalisasi dari gel pati dan produk rerotian tersebut juga dipengaruhi oleh kadar air.

Puhr dan D?Appolonia (1992) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penambahan air pada beberapa jenis tepung dan kaitannya dengan jumlah roti yang paling ekonomis untuk diproduksi. Karena roti dijual berdasarkan beratnya, maka penelitian tersebut membandingkan kehilangan yang terjadi pada berat adonan setelah mixing dengan produk akhir. Selain itu, juga diamati keuntungan tepung yang memiliki daya serap air tinggi dalam produksi bakery.
Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait