
Kondisi ketahanan pangan masih menyisakan ruang untuk munculnya kerawanan karena sistem ketersediaan dan distribusi pangan belum bisa memasok pangan untuk seluruh masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai daerah. Pasokan yang ada hanya terbatas untuk mengimbangi pertambahan penduduk. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia dan yang rentan dengan bencana alam seperti gempa bumi dan banjir, risikonya terlalu besar apabila hanya puas dengan keadaan pangan yang sekarang ini. Konsekwensi logisnya kita akan selalu dibayangi kerawanan pangan sekaligus kerawanan ekonomi dan sosial.
Tugas dan tanggung jawab pencapaian ketahanan pangan tidak dapat dibebankan pada pelaku tunggal sektoral atau kementerian, namun menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat (UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan). Seiring dengan itu, para ahli teknologi pangan memegang peran penting untuk membantu mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan.
Guna memaknai peran tersebut dan sekaligus sebagai wujud tanggungjawab profesi, para ahli teknologi pangan di Sumatera Utara yang tergabung dalam Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) menggelar Seminar Nasional yang mengusung tema “Peran Teknologi Pangan dalam Mengatasi Krisi Pangan” dan sub tema “Pengembangan Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Membangun Ketahanan Pangan Nasional”. Seminar yang berlangsung pada hari Kamis, 20 Oktober 2011 di Aula Poltekes Medan ini menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Prof Dr Ir Achmad Suryana (Kepala Ketahanan Pangan Kementerian RI), Prof Dr Ir Winiati Pudji Rahayu (Ketua III PATPI, Bidang Ilmiah dan Hubungan Eksternal dan Dosen Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan IPB), Prof Dr Ir Posman Sibuea (Guru Besar Ketahanan Pangan Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Unika Santo Thomas SU Medan).
Seminar yang dihadiri sekitar 300an orang peserta ini memberikan pemahaman baru bagi masyarakat bahwa ilmu dan teknologi pangan harus mampu mengangkat pangan nonberas berbasis sumber daya lokal guna mendukung penguatan ketahanan pangan nasional. Selama ini perkembangan diversifikasi konsumsi pangan sudah bias di tengah masyarakat, yakni ke arah produk pangan berbasis gandum dan impor. Masyarakat desa dan kota sudah lebih akrab dengan produk mie instan dan roti berbahan baku terigu dan melupakan atau cenderung menginferiorkan pangan berbasis umbi-umbian, sagu, pisang dan produk pangan nonberas lainnya. Untuk itu perlu terus digalakkan kampanye gerakan percepatan diversifikasi konsumsi pangan secara berkelanjutan.

