Pemerintah Buka Peluang


Menurut Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian RI, Dr. Haryono, dibutuhkan strategi khusus untuk meningkatkan produksi tanaman pangan, yakni peningkatan produktivitas, perluasan areal, dan pengamanan produksi.  “Di sinilah peran inovasi teknologi, termasuk bioteknologi.  Apalagi bioteknologi dapat mempercepat proses pemuliaan dan mengintroduksi sumber keragaman baru,” ujar Haryono dalam Seminar Update on Biotechnology in Food Industry yang diselenggarakan oleh FOODREVIEW INDONESIA dan SEAFAST Center IPB di IPB International Convention Center Bogor, 17 Maret lalu.  Dia juga menambahkan, bahwa pemerintah telah memiliki kebijakan nasional pengembangan produk rekayasa genetik (PRG) dan prinsip pemanfaatannya.  “Dalam PP No. 21/2005 disebutkan PRG memberi peluang untuk menunjang produksi pertanian, ketahanan pangan dan peningkatan kualitas hidup manusia,” kata Haryono.  Selain itu, Peraturan Presiden No. 32/2010 pasal 3 juga membuka peluang untuk memperkuat inovasi nasional dalam bidang ketahanan pangan, ketahanan energi, dan bioteknologi.  “Bahkan Menteri Pertanian RI memberikan prioritas penggunaan PRG secara aman untuk mengatasi dampak perubahan iklim,” tambah Haryono.
 
Dalam kesempatan yang sama, Ahli Bioteknologi dari Institut Pertanian Bogor -Prof. Antonius Suwanto mengungkapkan bahwa. modifikasi genetik bukan suatu hal yang baru. “Transaksi gen merupakan bagian integral dari dinamika kehidupan dan merupakan sarana penting untuk pemuliaan tanaman,” kata Antonius.  Lebih lanjut Antonius menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang membuat bahan genetik berubah, antara lain kesalahan dalam DNA polimerase (mutasi spontan), mutasi fisika (sinar radioisotop), mutasi kimia (colchisin, EMS), reproduksi seksual, dan teknologi DNA (rekayasa genetika).  “Dengan teknologi DNA akan diperoleh hasil yang lebih mudah diprediksi dan terarah, dibanding metode konvensional atau radiasi,” lanjut Antonius.  Antonius berpendapat, bahwa bioteknologi sangat bermanfaat untuk mengatasi kesulitan akses pangan, toksin dan patogen dalam bahan pangan, defisiensi vitamin atau mineral, terbatasnya lahan pertanian, dan penurunan kualitas lingkungan.
 
Bioteknologi untuk tanaman pangan
Berbincang dengan Head Biotechnology CropLife Indonesia, Herry Kristanto, terungkap bahwa cita-cita Indonesia untuk menjadi negara eksportir benih dan pangan bukanlah hal yang mustahil.  “Indonesia memiliki potensi, karena banyak perusahaan benih yang telah berkomitmen mendirikan pabriknya di Indonesia,” kata Herry.  Dan setiap perusahaan tersebut memiliki departemen R&D yang melakukan riset untuk menguji benih yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia dan negara sekitarnya.
 
Saat ini penelitian tanaman pangan yang menggunakan bioteknologi sudah berkembang dengan pesat.  Jika pada generasi pertama fokus pada perlindungan terhadap serangga dan virus, serta toleran terhadap herbisida -maka pada generasi selanjutnya perkembangannya sudah dihasilkan tanaman yang tahan terhadap kekeringan, mengikat nitrogen dengan efektif, dan meningkatkan hasil akhir.  Bahkan tidak hanya itu, kini tanaman pangan sudah didesain untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumen, termasuk terhadap pangan fungsional.  Contohnya adalah dengan diproduksinya minyak kedelai rendah asam lemak jenuh dan kaya asam oleat.  Selain itu, minyak tersebut juga memiliki stabilitas tinggi saat digunakan untuk menggoreng.
 
Sementara itu Executive Director CropLife Asia, Siang -Hee Tan Ph.D., mengungkapkan bahwa telah banyak pencapaian dan prestasi yang diberikan oleh perkembangan bioteknologi.  “Pada 2010 terdapat 148 juta hektar lahan baru yang ditanam menggunakan produk bioteknologi.  Lebih tinggi 10% dibanding tahun sebelumnya” ujar Siang -Hee Tan.  Amerika Serikat dan Brazil merupakan negara dengan luas lahan tanaman rekayasa genetik terbesar di dunia.
Brazil sebagai negara berkembang berhasil mengoptimalkan potensinya dengan menggunakan produk rekayasa genetik.  Bahkan pada 2010 peningkatan jumlah lahan untuk tanaman rekayasa genetik adalah yang terbesar di dunia.  “Brazil mampu meningkatkan produksi biji-bijiannya dua kali lipat, tanpa penambahan luas lahan yang besar,” tambah Siang -Hee Tan.
 
Bagaimana dengan Indonesia?
Herry cukup puas dengan perkembangan peraturan penggunaan produk rekayasa genetik di Indonesia.  “Walau agak lambat, namun ada peningkatan dalam hal ijin penggunaan produk rekayasa genetik.”
Direktur SEAMEO BIOTROP, Dr. Bambang Purwantara, menjelaskan bahwa setidaknya sudah ada dua produk rekayasa genetik yang memperoleh sertifikat aman pangan oleh Komisi Keamanan Hayati PRG, yakni jagung BT NK603 dan jagung BT MON89034.  “Sementara beberapa lainnya masih dalam taraf pengkajian,” kata Bambang.  Lebih lanjut Bambang berpendapat bahwa perlu adanya penataan prosedur pengkajian yang meliputi revisi prosedur untuk kajian aman lingkungan, pengesahan prosedur untuk kajian keamanan pakan, pengesahan prosedur untuk Litbang Biotek, dan membuat prosedur pemantauan manajemen risiko.
 
Pengawasan pangan olahan PRG
Menurut Direktur Direktorat Standarisasi Produk Pangan Badan POM RI, Ir. Tetty H. Sihombing MP., pengawasan pangan olahan PRG tidak berbeda dengan pangan olahan lainnya.  Produk tersebut wajib memiliki surat persetujuan pendaftaran dan mencantumkan label di dalam dan atau di kemasan pangan.  “Jika pangan PRG sudah dinyatakan aman untuk dikonsumsi dan dijual dalam kemasan, maka label pangan wajib mengikuti PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan sesuai dengan nilai threshold tertentu,” ujar Tetty.  Badan POM RI sedang menyiapkan Rancangan Peraturan Kepala Badan POM RI tentang Pengawasan Pangan PRG.
 
Uji keamanan pangan PRG
 
Sebelum diluncurkan, produk pangan PRG perlu melalui serangkaian uji keamanan. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI)- Dr. Dahrul Syah menjelaskan, bahwa pengujian PRG dimulai dari penyamaan substansi.  Subtansi PRG kemudian dibandingkan dengan produk standar.  “Terdapat tiga level penyetaraan, pertama adalah setara, sehingga tidak membutuhkan pengujian lebih lanjut; kedua adalah hampir sama, namun pada titik tertentu terdapat perbedaan.  Sehingga evaluasi hanya dilakukan pada perbedaannya saja; dan ketiga adalah kesetaraannya sedikit dan memiliki multi perbedaan, sehingga diperlukan penyelidikan lebih lanjut,” kata Dahrul menjelaskan.
Salah satu laboratorium yang sering melakukan uji produk PRG adalah PT Saraswanti Indo Genetech (SIG).  “Walaupun tidak banyak, namun tren analisa produk PRG semakin meningkat, kata Adinugroho K. Santosa dari SIG.  Beberapa jenis sampel yang pernah dideteksi antara lain kedelai, jagung, tomat, kentang, makanan kaleng, minuman, tepung, susu, tahu/tempe, kecap, saos, sereal, snack, mi, bumbu, dan minyak. Adapun tahapan yang dilakukan antara lain isolasi DNA, PCR, dan elektroforesis/gel documentation system.  
 
 
Oleh :  Hendry Noer F.
 
 
(FOODREVIEW INDONESIA Edis April 2011)
 

Artikel Lainnya

  • Feb 05, 2023

    Pertimbangan Penggunaan Bahan Tambangan Pangan

    Pada dasarnya, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) hanya digunakan pada produk pangan jika benar-benar diperlukan secara teknologi. BTP tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang tidak memenuhi syarat, cara kerja yang bertentangan dengan Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) dan kerusakan pangan. Penambahan BTP pada produk pangan memiliki beberapa tujuan seperti membentuk pangan, memberikan warna, meningkatkan kualitas pangan, memperbaiki tekstur, meningkatkan cita rasa, meningkatkan stabilitas, dan mengawetkan pangan. ...

  • Feb 04, 2023

    CODEX UPDATE: Adopsi Standar Keamanan Baru

    Akhir tahun 2022 yang lalu telah diselenggarakan Sidang Komisi Codex Alimentarius ke-45 (CAC45), yang terdiri dari sidang pleno dari 21-25 November 2022 (secara daring dan luring), dan dilanjutkan adopsi laporan sidang pada pada 12- 13 Desember 2022 (secara daring). Secara umum dapat dilaporkan bahwa sidang Komisi Codex Alimentarius telah berhasil mengadopsi berbagai standar keamanan pangan baru. Standar baru tersebut terdiri dari teks pedoman, kode praktik, stantard komoditas, batas maksimum residu pestisida dam batas maksimum kontaminan. Disamping itu, CAC45 juga menyepakati beberapa pekerjaan baru untuk pengembangan standar/teks lainnya. Uraian lebih detail dan lengkap dapat diperoleh di laman: https://bit.ly/CAC45meetingdetail ...

  • Feb 03, 2023

    Pentingnya Pengendalian Rempah-Rempah

    Rempah-rempah memiliki potensi bahaya yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Pengendalian harus dimulai dari budidaya tanaman rempah yang sudah menerapkan prinsip good practices. Titik kritisnya adalah pengendalian kelembapan udara karena dengan kelembapan yang tinggi maka pada umumnya mikroba akan lebih mudah tumbuh. Proses pengeringan juga merupakan proses yang sangat penting dalam penanganan pascapanen rempah-rempah. Manajemen keamanan pangan yang komprehensif yang meliputi good hygiene practices (GHP), good manufacturing practices (GMP) dan hazard analysis and critical control points (HACCP), harus diaplikasikan dengan konsisten.  ...

  • Feb 02, 2023

    Kontaminasi Mikroba pada Rempah-Rempah

    Rempah-rempah sebagai contoh adalah pala yang merupakan komoditas ekspor unggulan karena Indonesia termasuk salah satu negara produsen dan pengekspor biji dan fuli pala terbesar dunia. Pala merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan kapang, bila kandungan air dan kelembapan lingkungan tidak dijaga dengan baik. Kapang yang dapat tumbuh di pala tidak saja dari jenis kapang perusak tetapi juga kapang toksigenik. Di antara kapang toksigenik yang dijumpai pada pala adalah Aspergillus flavus penghasil aflatoksin. Alfatoksin utamanya dari jenis B1 merupakan mikotoksin yang paling toksik di antara beberapa mikotoksin yang dikenal mengontaminasi pangan.  ...

  • Feb 01, 2023

    Peningkatan Kualitas dan Keamanan Rempah & Bumbu

    Upaya peningkatan ekspor rempah dan bumbu tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu. Permasalahan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu dapat diamati sejak prapanen sampai dengan pascapanen, sehingga hal ini membutuhkan penanganan yang komprehensif sepanjang rantai pangan pengolahan tersebut. Rempah-rempah yang tidak tertangani dengan baik rentan terhadap kontaminasi mikroba yang dapat menyebabkan kerusakan maupun penyebab foodborne disease. Hal ini menunjukkan perhatian dan penanganan yang serius perlu dilakukan terhadap bahaya bersumber mikroba tersebut beserta toksin yang dihasilkannya. ...