Fungsi Penambahan Garam dalam Pembentukan Sifat Produk Pangan

 

Secara sensoris, garam dapat meningkatkan kekuatan flavoring agent karena adanya interaksi dengan asam-amino, flavoring agent, dan MSG, mengurangi rasa pahit yang terjadi pada interaksi komponen, serta meningkatkan penerimaan produk pada chips, crackers, dan biscuit. 

 

Selain itu, garam memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai pembentuk gluten pada pembuatan roti dan cookies; meningkatkan daya ikat air pada pembuatan sosis, bakso, dan nugget; mengatur aktivitas enzim pada pembuatan hard dan soft cheese; pembentukan komponen volatil dan flavor pada pembuatan kecap; serta mencegah cook-out dari daging pada pengalengan sarden,î jelas Ketua Komite Regulasi Teknis Pangan GAPMMI, Lena Prawira dalam In-Depth Seminar Isu Gula Garam Lemak dan Penyakit Tidak Menular beberapa waktu lalu di Bogor.

Ia menambahkan bahwa pada kondisi tertentu penambahan garam juga berfungsi mengawetkan produk pangan karena kadar garam yang tinggi menghasilkan tekanan osmotik yang tinggi dan aktivitas air rendah. Kondisi ekstrim ini menyebabkan kebanyakan mikroorganisme tidak dapat hidup. Pengolahan dengan garam biasanya merupakan kombinasi dengan pengolahan yang lain, seperti fermentasi dan enzimatis. 

Selanjutnya dapat dibaca di Foodreview Indonesia edisi Oktober 2017


Artikel Lainnya