SINBIOTIK & MIKROBIOTA USUS

 

Oleh Putrika Citta Pramessi & Endang Sutriswati Rahayu

Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah MadaKesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan terus meningkat. Hal ini mendorong mereka

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan terus meningkat. Hal ini mendorong mereka untuk mencari dan memahani berbagai informasi yang berkaitan dengan kesehatan. Salah satu istilah dan informasi yang kini semakin dikenal masyarakat adalah mikrobiota usus (gut microbiota). Secara umum mikrobiota diartikan sebagai komunitas mikroorganisme pada suatu ekosistem.

Mikrobiota usus, yang diartikan sebagai komunitas mikroorganisme yang terdapat di dalam saluran pencernaan manusia, merupakan ekosistem yang sangat kompleks dan dinamis. Komunitas ini terdiri dari lebih dari 1000 spesies mikroorganisme dengan jumlah gen 100x lebih besar dari gen manusia, mencapai total sekitar 1015. Mikrobiota usus memiliki peran di dalam mendukung kesehatan tubuh, yaitu melalui (a) fungsi protektif, melalui pertumbuhan bakteri baik, contohnya Bifidobacterium dan Lactobacillus yang mendukung struktur dan histologi sel epitel yang sehat; (b) fungsi metabolik, berasal dari metabolit yang dihasilkan selama pertumbuhan mikroorganisme usus; (c) melalui fungsi sistem imum.

Mikrobiota usus berperan dalam perkembangan sistem imun mukosa dan penting di dalam mencegah serangan patogen dari luar, baik melalui interaksi langsung atau dengan menstimulasi sistem imun. Saat ini juga telah dibuktikan bahwa mibrobiota usus tidak hanya terkait dengan kesehatan usus dan sekitarnya, tetapi juga organorgan yang lain diantaranya otak, lever, dan paru-paru. Terdapat hubungan timbal balik antara mikrobiota usus dengan otak, lever, maupun paru-paru. Perubahan komposisi mikrobiota usus karena sesuatu hal sehingga mengakibatkan disbiosis dapat berpengaruh pada fungsi otak, kesehatan lever, maupun paru-paru.

Mikrobiota usus masyarakat Indonesia
Perkembangan mikrobiota usus sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama pola konsumsi, lingkungan dan pola hidup, aktivitas fisik, terapi obat-obatan, khususnya antibiotik. Mikrobiota usus juga mengalami perubahan selama hidup manusia. Mikrobiota usus mengalami perubahan yang sangat signifikan baik kompoisisi dan populasi pada saat bayi mulai disapih dan mengonsumsi pangan padat, selanjutnya berangsung-angsur stabil saat anak-anak, dan tetap stabil saat remaja, hingga pemuda dewasa. Kemudian mikrobiota usus kembali mengalami perubahan drastis pada kelompok usia lanjut. Hal ini didukung oleh kondisi lanjut usia yang mengalami banyak kemunduran fisik, termasuk aktivitas mengunyah pangan yang tidak lagi sempurna dilakukan.

Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa mikrobiota usus pada dua tahun pertama, saat bayi hanya akan mengonsumsi air susu ibu (ASI), didominasi oleh Bacteroides dan Bifidobacterium (Khine dkk., 2020). Akan tetapi, bayi akan mengalami perubahan mikrobiota usus yang drastis saat mulai mengonsumsi makanan pendamping – air susu ibu (MP-ASI). Sejak diperkenalkan pangan biasa selain ASI, bakteri jenis Prevotella pada mikrobiota usus bayi meningkat sedangkan Bifidobacterium berkurang. Komposisi mikrobiota usus tersebut akan menjadi stabil pada masa anakanak, remaja hingga dewasa. Namun, saat memasuki lanjut usia, mikrobiota usus kembali mengalami perubahan, khususnya terjadinya peningkatan kelompok Enterobacteriaceae dan penurunan kelompok Bifidobacteriaceae (Rahayu dkk., 2019).

Penelitian tim Asian Microbiome Project menunjukkan bahwa anakanak di Indonesia memilki kategori komposisi mikrobiota usus yang sama dengan Thailand, yaitu jenis enterotype Prevotella (tipe P). Hal ini dikarenakan dua negara tersebut didominasi oleh pola konsumsi tinggi karbohidrat dan protein nabati. Sedangkan negara Cina, Jepang dan Taiwan menunjukkan jenis enterotype Bifidobacterium dan Bacteroides (tipe BB) yang berkaitan dengan pola konsumsi tinggi protein jenis hewani. Perbedaan pola konsumsi dan pola hidup menjadi faktor penting yang membedakan komposisi mikrobiota usus. Dari keterkaitan antara pola hidup dan pola konsumsi dengan mikrobiota usus, tidaklah asing apabila ditemukan keterkaitan mikrobiota usus dengan penyakit-penyakit metabolik di Indonesia, seperti obesitas dan diabetes tipe 2 pada orang dewasa serta stunting pada anak-anak.

Disbiosis pada masyarakat Indonesia

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 5

Artikel Terkait