BUAH BUNI: Antosianin Alami untuk Pewarna Pangan


Oleh Meta Mahendradatta
Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar PATPI Cabang Makassar

Warna adalah komponen kunci untuk meningkatkan nilai selera dan penerimaan konsumen terhadap produk pangan. Salah satu cara untuk mengoptimalkan warna pada produk pangan adalah dengan penggunaan pewarna.

ewarna pengan memiliki beberapa tujuan dalam penggunaanya seperti i) memperbaiki penampakan produk pangan yang memudar akibat pengolahan, ii) memperoleh warna yang seragam pada komoditas yang warna alaminya tidak seragam, iii) memperoleh penampakan yang menarik dari bahan aslinya, iv) untuk identitas produk, v) indikator visual dari kualitas, vi) serta mempertegas warna produk disesuaikan dengan sumber alaminya. Pewarna produk pangan secara umum dibagi menjadi pewarna alami, pewarna identik alami, dan pewarna sintetis. Sebagai bahan tambahan, pewarna pangan memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Pewarna alami diperoleh dari bahan alami yang berasal dari lingkungan alam kita yaitu dari tanaman maupun hewan.

Buah buni dan pemanfaatannya
Salah satu bahan alami yang cukup melimpah di Indonesia adalah buah buni (Antidesma bunius). Antidesma bunius merupakan tanaman asli Indonesia dan telah dibudidayakan di pekarangan rumah sebagai peneduh dan sumber buah. Buah buni memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai ingridien yang menyehatkan. Pemanfaatan buah buni selama ini adalah sebagai buah segar, bahan untuk campuran rujak, salad, asam-asam ikan, diolah menjadi sirup, jeli, saus, dan campuran dalam minuman. Bioaktivitas buah buni adalah antioksidan, antibakteri, antikanker, anti-diabetes melitus, antiinflamasi dan antikolesterol sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai nutraseutikal, terutama sebagai pangan yang kaya antikanker dan antioksidan (Silalahi dkk., 2022). Buah buni mengandung antosianin sebesar 141,94 mg/100 g bahan, lebih tinggi daripada kadar antosianin pada apel, kubis merah, plum, dan stroberi. Antosianin berwarna merah dalam keadaan asam dan warna merah ini digunakan sebagai pewarna alami yang berasal dari buah buni. Karena memiliki kandungan air yang cukup tinggi yaitu 81,54%, buah buni mudah mengalami kerusakan. Selain itu juga karena tergolong buah musiman sehingga untuk pemanfaatan yang lebih luas perlu dilakukan pengolahan.

Sebuah penelitian mengkaji pengaruh tingkat kematangan dan metode pengolahan (blansir dan pengukusan) terhadap profil antioksidan dan aktivitas antioksidan in-vitro dari daging dan biji buah buni (Antidesma bunius (Linn.) Spreng var. Kalabaw). Buah buni dibedakan atas tiga tingkat kematangan (mentah, setengah matang, dan matang). Biji dari sampel dipisahkan dari daging buahnya. Biji dan daging buah dikeringkan, diekstraksi, dan dianalisis kandungan antioksidannya (kandungan fenolik total, flavonoid total, dan antosianin total) serta aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH, ABTS, dan FRAP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan dan metode pengolahan secara signifikan memengaruhi kandungan antioksidan dan aktivitas antioksidan sample. Selain itu, kecuali untuk uji FRAP yang dilakukan pada sample daging, semua uji menunjukkan bahwa ada interaksi yang signifikan antara pengaruh kematangan dan metode pengolahan terhadap kandungan antioksidan dan aktivitas antioksidan daging dan biji buah buni. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa daging dan biji yang matang sempurna menghasilkan kandungan antioksidan dan aktivitas antioksidan yang lebih besar dibandingkan dengan daging dan biji yang setengah matang dan mentah, sedangkan daging dan biji yang direbus secara umum memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging dan biji yang tidak diolah dan dikukus (Sartagoda dkk., 2021).

Buah buni sebagai pewarna pangan

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait