Shopper Trend Asia 2009

 

Menutup tahun 2009, para konsumen ritel Asia memfokuskan diri untuk mengurangi belanja dan mulai menabung. Hal ini merupakan dampak dari krisis ekonomi yang melanda di sepanjang tahun ini. Faktor nilai benar-benar menjadi fokus utama para pembelanja di Asia. Lebih dari 70% menjadi jauh lebih sensitif soal nilai jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Dampaknya, para pembelanja mulai selektif dengan membeli apa yang memang benar-benar mereka butuhkan, menyimpan uangnya memang untuk hal benar-benar penting dibandingkan barang-barang yang sekadar untuk kesenangan dan kepuasan diri, kata Direktur Retailer Service The Nielsen Indonesia Yongky Susilo. Para pembelanja juga mulai mengurangi kuantitas barang yang ingin dibeli, dan secara aktif cenderung mencari barang-barang promosi, yang mendapat diskon. Masyarakat pun menjadi lebih suka makan bersama keluarga di rumah, di banding makan di luar.

Hal ini semestinya menjadi keuntungan tersendiri bagi pasar ritel yang menjual kebutuhan konsumsi sehari-hari,urai Yongky. Fakta tersebut, tambahnya, sesuai dengan survei Nielsen tentang tren belanja konsumen di kawasan Asia. Hasil survei Shopper Trend Asia 2009 menunjukkan volume pasar barang-barang konsumsi sehari-hari di Asia terus menunjukkan peningkatan, dengan pertumbuhan tertinggi di Vietnam (18%), dan diikuti India (9%), dan Cina (9%). Hanya Taiwan (-7%) yang mengalami penurunan pada penjualan. Nilai penjualan ritel di masing-masing negara meningkat dua kali lipat disebabkan tingginya angka inflasi untuk sejumlah kategori produk makanan yang utama.

Dalam hal saluran perdagangan ritel, pasar tradisional secara umum terus berlanjut kehilangan pangsanya di Asia, dengan pangsa perdagangan secara keseluruhan menurun menjadi 47% di 2008. Jumlah toko-toko tradisional di kawasan Asia hanya mengalami peningkatan sebesar 1%, menjadi lebih dari 12,3 juta toko. Bandingkan dengan ritel modern yang walaupun kini hanya berjumlah 183.924 outlet, namun angka pertumbuhannya mencapai 16% di banding waktu sebelumnya.

Di kebanyakan negara maju, jumlah toko-toko tradisional menurun rata-rata 5% poin, bahkan lebih. Di Korea misalnya, persentase jumlah toko tradisional turun hingga 9% poin, dengan pangsa perdagangan menurun dari 15,5% menjadi 13,9%, sementara di Taiwan perdagangan tradisional kini hanya mencapai sekitar 6% dari total penjualan, atau berkurang 1,5% dalam 12 bulan terakhir.

Namun hal yang sebaliknya terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Jumlah toko tradisional di kawasan ini justru meningkat dari tahun ke tahun, dengan pangsa pasar yang dominan. Di Thailand misalnya, pangsa pasar tradisionalnya mencapai 56,2%. Demikian juga dengan Indonesia dan Vietnam yang pangsa pasarnya berturut-turut 63% dan 74%. Di India bahkan pasar tradisionalnya sangat mendominasi, dengan pangsa pasar mencapai 97%. Meskipun pangsa dari total penjualan barang-barang konsumsi menurun secara perlahan, mayoritas pembelanja di semua negara tetap berbelanja di saluran tradisional ini. Saluran tradisional ini klop dengan kebutuhan pembelanja mencakup kenyamanan sehari-hari, layanan pribadi, serta keterjangkauannya.

Andang Setiadi

-->

 

Menutup tahun 2009, para konsumen ritel Asia memfokuskan diri untuk mengurangi belanja dan mulai menabung. Hal ini merupakan dampak dari krisis ekonomi yang melanda di sepanjang tahun ini. Faktor nilai benar-benar menjadi fokus utama para pembelanja di Asia. Lebih dari 70% menjadi jauh lebih sensitif soal nilai jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Dampaknya, para pembelanja mulai selektif dengan membeli apa yang memang benar-benar mereka butuhkan, menyimpan uangnya memang untuk hal benar-benar penting dibandingkan barang-barang yang sekadar untuk kesenangan dan kepuasan diri, kata Direktur Retailer Service The Nielsen Indonesia Yongky Susilo. Para pembelanja juga mulai mengurangi kuantitas barang yang ingin dibeli, dan secara aktif cenderung mencari barang-barang promosi, yang mendapat diskon. Masyarakat pun menjadi lebih suka makan bersama keluarga di rumah, di banding makan di luar.

Hal ini semestinya menjadi keuntungan tersendiri bagi pasar ritel yang menjual kebutuhan konsumsi sehari-hari,urai Yongky. Fakta tersebut, tambahnya, sesuai dengan survei Nielsen tentang tren belanja konsumen di kawasan Asia. Hasil survei Shopper Trend Asia 2009 menunjukkan volume pasar barang-barang konsumsi sehari-hari di Asia terus menunjukkan peningkatan, dengan pertumbuhan tertinggi di Vietnam (18%), dan diikuti India (9%), dan Cina (9%). Hanya Taiwan (-7%) yang mengalami penurunan pada penjualan. Nilai penjualan ritel di masing-masing negara meningkat dua kali lipat disebabkan tingginya angka inflasi untuk sejumlah kategori produk makanan yang utama.

Dalam hal saluran perdagangan ritel, pasar tradisional secara umum terus berlanjut kehilangan pangsanya di Asia, dengan pangsa perdagangan secara keseluruhan menurun menjadi 47% di 2008. Jumlah toko-toko tradisional di kawasan Asia hanya mengalami peningkatan sebesar 1%, menjadi lebih dari 12,3 juta toko. Bandingkan dengan ritel modern yang walaupun kini hanya berjumlah 183.924 outlet, namun angka pertumbuhannya mencapai 16% di banding waktu sebelumnya.

Di kebanyakan negara maju, jumlah toko-toko tradisional menurun rata-rata 5% poin, bahkan lebih. Di Korea misalnya, persentase jumlah toko tradisional turun hingga 9% poin, dengan pangsa perdagangan menurun dari 15,5% menjadi 13,9%, sementara di Taiwan perdagangan tradisional kini hanya mencapai sekitar 6% dari total penjualan, atau berkurang 1,5% dalam 12 bulan terakhir.

Namun hal yang sebaliknya terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Jumlah toko tradisional di kawasan ini justru meningkat dari tahun ke tahun, dengan pangsa pasar yang dominan. Di Thailand misalnya, pangsa pasar tradisionalnya mencapai 56,2%. Demikian juga dengan Indonesia dan Vietnam yang pangsa pasarnya berturut-turut 63% dan 74%. Di India bahkan pasar tradisionalnya sangat mendominasi, dengan pangsa pasar mencapai 97%. Meskipun pangsa dari total penjualan barang-barang konsumsi menurun secara perlahan, mayoritas pembelanja di semua negara tetap berbelanja di saluran tradisional ini. Saluran tradisional ini klop dengan kebutuhan pembelanja mencakup kenyamanan sehari-hari, layanan pribadi, serta keterjangkauannya.

Andang Setiadi


Artikel Terkait