Indonesia telah memasuki era baru dengan perilaku belanja yang berbeda dari sebelumnya sejak 2010 lalu, kala pendapatan per kapitanya telah mencapai US 3000 dollar per tahun. Dengan pendapatan sebesar itu, konsumen tidak selalu berorientasi pada harga murah, namun sudah memiliki pilihan dan keinginan tersendiri dalam berbelanja. Pilihan belanja tersebut, menurut Direktur Ritel Nielsen Indonesia Yongky Susilo, antara lain dapat terlihat dari pola konsumsi produk fast moving consumer goods yang pada tahun 2011 lalu tumbuh 11%. Pertumbuhan kategori FMCG tersebut, jelas Yongky banyak digerakkan oleh berbagai produk pangan sebesar 12% dan produk perawatan tubuh sebesar 14%.
Pasar Indonesia yang sangat menjanjikan tersebut didukung pula oleh fondasi perekonomian Indonesia yang cukup mantap, yakni dengan pertumbuhan perekonomian yang stabil di 6,5%. Penduduk Indonesia pun saat ini didominasi oleh kelas menengah, berjumlah 131 juta jiwa, yang memiliki daya beli yang bagus.
Pola konsumsi masyarakat kelas menengah yang kebanyakan tinggal di daerah perkotaan, bisa terlihat dari pola belanja masyarakat Jakarta yang ternyata kebanyakan berbelanja produk pangan, disusul dengan pendidikan dan asuransi. Dari fakta tersebut, menjadi tidak mengherankan jika aneka kategori produk pangan tumbuh sangat baik, dengan nilai pertumbuhan dua digit pada 2011 lalu. Seperti data yang dikeluarkan oleh Nielsen, tiga besar pertumbuhan nilai produk pangan di Indonesia yakni es krim, minyak goreng bermerk dan mi kering yang berturut-turut lebih dari 50% dan 30%.


Mi kering, yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, merupakan salah satu produk pangan yang nilai pertumbuhannya sangat menakjubkan. Para pelaku penting di bisnis mi kering ini yakni Subafood Pangan Jaya, Tiga Pilar Sejahtera, Indofood, Heinz Suprama, Sinar Pangan Sejahtera, Wijaya Panca Sentosa Food , Surya Pratista Hutama dan Kuala Pangan . Jenis produk pangan yang lain adalah kategori biskuit yang pertumbuhannya pada 2011 lalu lebih banyak dikontribusikan oleh para pelaku industri seperti Khong Guan , Mayora Indah, Kraft Food Indonesia, Ultra Prima Abadi, Arnotts, Asia Sakti Wahid Food, Universal Indofood. Kategori industri pangan lain yang tumbuh bagus adalah yoghurt, yang para pelaku industrinya yakni Yoghurt drink , Yakult Indonesia, Cisarua Mountan Dairy , Ajinomoto Calpis Beverage dan Diamond Cold Storage Indonesia.
Dengan pendapatan per kapita rata-rata sebesar 3000 dollar AS, maka cara masyarakat dalam memilih produk pangan pun menjadi berbeda. Yongky menandaskan, kini masyarakat memilih suatu produk pangan dengan mempertimbangkan tiga hal utama, yakni kenyamanan, memberi manfaat kesehatan, serta memberi cita rasa yang enak dan percaya diri. Ketiga faktor itulah yang selama ini diketahui memberi kontribusi nyata pada pertumbuhan ekonoimi nasional. Melihat fakta itu, ia menyarankan agar para produsen pangan mengarahkan produk-produknya dengan bersandar pada tiga hal yang paling diinginkan konsumen tersebut.
Oleh : Andang Setiadi
(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Januari 2012)

