Ada beberapa pameran besar tentang pangan yang rutin diselenggarakan di dunia ini; sehingga bisa digunakan sebagai barometer laju dan arah perkembangan industri pangan dunia. Salah satunya adalah pemeran Food Ingredients Europe (FiE) 2011 yang baru saja berakhir; diselenggarakan tgl 29 November sampai 1 Desember, di Paris Nord Villepinte, Paris, Perancis.
FiE; pameran yang diselenggarakan 2 tahun sekali ini mengkhususkan dirinya pada perkembangan ingridien pangan telah meraup sukses. Termasuk terbesar dalam sejarah 25 tahun pameran tersebut dilaksanakan. Tahun 2011 ini tercatat terjadi lonjakan 11% dalam hal perluasan ruang pameran dan 20% kenaikan jumlah pengunjung; jika dibandingkan dengan pameran sebelumnya; tahun 2009 (http://en.prnasia.com/pr/2011/12/14/110380912.shtml). Selama 3 hari pameran; FiE 2011 menyajikan lebih dari 1,200 stand pameran dari 65 negara ini, berhasil menarik lebih dari 23,600 pengunjung profesional bidang pangan yang berasal dari 127 negara.
FiE 2011 jelas telah memberikan sinyal penting mengenai arah tren pangan dunia; khususnya dilihat dari berbagai ingridien potensial yang muncul dan menarik perhatian selama pameran. “FiE featured great innovations and provided a holistic view of industry developments over the last 25 years, as well as where it will be going in the next 25 years,” said Nick Ornstien, Portfolio Director pada UBM Live. Sehingga FiE 2011 memang bisa digunakan sebagai media untuk “mengintip tren pangan dunia”.
Secara umum; beberapa pelajaran penting yang bisa menjadi faktor penentu tren pangan dunia; dan industri pangan Indonesia bisa mengambil pelajaran- adalah :
(1) Meningkatnya kesadaran tentang kesehatan dan kebugaran (wellness).
Kesehatan dan kebugaran adalah faktor utama yang melandasi berbagai perkembangan dan inovasi pangan dan gizi beberapa tahun belakangan ini; dan diprediksi bahwa hal ini akan tetap terus berlangsung. Industri pangan banyak memberikan prioritas tinggi melakukan inovasi untuk berkontribusi pada pengurangan konsumsi garam, lemak, dan gula; dan sekaligus aktif mempromosikan pentingnya manfaat kesehatan pada beberapa produk pangan fungsional.
Berbagai ingridien pangan potensial untuk memformulasikan produk pangan yang mendukung kesehatan dan kebugaran ini banyak bermunculan; antara lain adalah Stevia; yang baru saja mendapatkan approvalnya di Eropa. Disamping itu; berbagai ingridien fungsional juga bermunculan; untuk memberikan alternatif formulasi bagi industri pangan fungsional. Sebut saja soy ingredients (ingridien pangan fungsional yang diturunkan dari kedelai) dan dairy ingredients (ingridien pangan fungsional yang diturunkan dari susu) juga semakin populer dan banyak ditawarkan. Demikian juga aneka nutritional ingredients; misalnya lutein, omega-3, probiotik, prebiotik, serta aneka ingridien antioksidan, banyak dipamerkan inovasinya.
(2) Meningkatnya kesadaran tentang pentingnya keberlanjutan (sustainability).
Isu keberlanjutan ini sangat kuat; dan diperkirakan bahkan akan menguat beberapa tahun kedepan. Isu keberlanjutan telah mendorong industri untuk melakukan peningkatan efisiensi dalam setiap kegiatan pada seluruh mata rantai pasok. Tidak hanya pada aspek ekonomi; isu keberlanjutan ini juga mencakup aspek lingkungan, sosial, dan etika pada setiap operasinya.
Respon terhadap isu ini juga sangat kreatif; antara lain terdapat proposal untuk ingridien yang lebih ramah lingkungan, penggunaan biodegradable packaging, pengurangan pengemasan, sampai pada isu “sourcing policies” yang lebih etikal; dan pengembangan pangan (dan ingridien) lokal untuk mengurangi “food miles”. Dalam rangka mengurangi “food miles” inilah maka muncul slogan yang menyatakan bahwa “Quality is linked to location”; yang artinya produk dengan mutu terbaik akan diperoleh jika produk pangan tersebut diperoleh secara lokal; tidak perlu travel dengan jarak (miles) yang jauh.
Inovasi lain yang berkaitan dengan isu keberlanjutan ini adalah munculnya segmen industri “organik”. Pada FiE 2011 ini; paviliun organik banyak menarik perhatian pengunjung; yang menunjukkan bahwa tren kesadaran tentang keberlanjutan memang sangat kuat. Secara khusus; beberapa inovasi –khususnya dari kedelai dan sayuran- juga menonjolkan ingridien “non-GMO” atau “GMO-Free”.
(3) Secara alami, “natural” tetap dicari.
Meningkatnya kesadaran bersama tentang kesehatan, kebugaran dan keberlanjutan; juga telah menyebabkan permintaan pada segala sesuatu yang lebih alami (natural). Dalam hal ini; industri pangan perlu menimbang cermat data dan informasi mengenai biaya/manfaat untuk menggunakan ingridien alami (misalnya; pewarna dan perisa alami) dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan (sustainability). Dalam konteks ini pula ingridien “organik” menemukan momentumnya.
(4) Kepraktisan.
Lepas dari berbagai isu mendasar seperti kesehatan, kebugaran dan sustainability; masyarakat konsumen dengan gaya hidup sibuk tetap memerlukan produk pangan yang praktis. Praktis dalam hal penanganan (handling), penyimpanan, konsumsi, serta parktis dalam menangani limbahnya. Berbagai inovasi ingridien pengawet yang lebih alami, ramah terhadap lingkungan dan kesehatan, dengan pendekatan “bio” banyak ditawarkan untuk tetap memuaskan tuntutan konsumen tentang kepraktisan ini.
(5) Perisa untuk kelezatan dan kenikmatan.
Tetap saja; pangan adalah pangan; dan bukannya obat. Karena itu; pangan harus tetap bisa dinikmati kelezatannya. Disinlah banyak muncul inovasi perisa; flavours. Tantangannya adalah; bagaimana memformulasikan produk pangan dengan garam, atau gula, atau lemak yang dikurangi tetapi tetap memberikan kenikmatan bagi konsumen? Tantangan ini dijawab secara inovatif dengan pengembangan perisa. Aneka perisa; misalnya perisa berasal dari kombinasi berbagai rempah dan bumbu alami; -seperti sereh (lemongrass), bawang (garlic) dan jahe (ginger) atau bahkan rumput laut banyak ditawarkan sebagai “salt enhancer”.
(6) Faktor ekonomi harga.
Pada akhirnya; faktor harga tetap menjadi pertimbangan konsumen. Itu sebabnya aspek efisiensi; ketersediaan dan kepastian bahan baku; ingridien dan teknologi tetap menjadi faktor penting bagi industri pangan.
Oleh Purwiyatno Hariyadi
(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Januari 2012)

