Optimis 2012, Tumbuh Lebih Baik

Industri pangan Indonesia menikmati pertumbuhan yang menggembirakan pada 2011. Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, berdasarkan data BPS, pertumbuhan sektor makanan dan minuman tahun lalu ditutup melampaui target, yakni sebesar 9,19% -dari target awal 7,92%. Hal tersebut diungkapkan dalam Seminar FOODREVIEW INDONESIA bertajuk Prospek Industri Pangan 2012 di Bogor beberapa waktu lalu. “Sektor ini selalu tumbuh positif dalam lima tahun terakhir, bahkan pertumbuhannya adalah yang tertinggi setelah industri logam dan baja,” tutur Adhi. Sementara itu, dari segi perdagangan luar negeri, nilai ekspor tumbuh 54,8% untuk makanan serta 18,9% untuk minuman dan tembakau. “Hanya saja juga perlu diperhatikan, pertumbuhan impor produk pangan Indonesia juga cukup tinggi. Sebagian besar berasal dari negara ASEAN, yakni sebesar 48.81%. Kontribusi tertinggi adalah Malaysia yang mencapai 23.69%,” kata Adhi.

Lebih lanjut, Adhi juga mengingatkan bahwa sebagian besar industri pangan Indonesia adalah industri rumah tangga (93.77%) dan kecil 5.71%). Namun demikian, kontribusinya masih kurang dari 15%. Menghadapi persaingan global, peran dan kualitas dari industri tersebut perlu terus ditingkatkan.
Isu lain yang berkaitan dengan perkembangan industri pangan FOODREVIEW INDONESIA | VOL. VII/NO. 4/APRIL 2012
adalah 1) permasalahan dalam melaksanakan bisnis (terkait dengan birokrasi, infrastruktur yang tidak mendukung, korupsi, dan lainnya), 2) kebijakan pemerintah dalam mendukung daya saing industri, 3) potensi sumber daya alam untuk diproses lebih lanjut -namun beberapa komoditas masih impor, dan 4) daya saing serta logistik.
 
Kedepannya optimisme untuk tumbuh lebih baik tetap masih tinggi. Apalagi dalam program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) 2011-2025, pangan termasuk dalam salah satu kegiatan ekonomi utama.
 
Potensi lain juga didasarkan data (Susenas, 2010), bahwa pengeluaran rumah tangga untuk pangan juga cukup tinggi, yakni mencapai 51.43%. Apalagi Bank Dunia menyebutkan, bahwa jumlah kalangan menengah di Indonesia meningkat pesat.
 
Pada kesempatan yang sama, Associate Director Home Panel The Nielsen Company -Hellen Katherina, menyampaikan optimisme senada. Menurutnya, Indonesia adalah negara ketiga dengan populasi kelas menengah terbesar di dunia. “Segmen menengah berkontribusi 44% terhadap penjualan FMCG (fast moving consumer goods -red),” ungkap Hellen. Dia juga menambahkan, bahwa pengeluaran segmen menengah meningkat lebih cepat dibandingkan segmen lainnya. Untuk makanan dan minuman, peningkatan belanjanya sebesar 17% dan 18%. Bandingkan dengan kelas atas yang hanya 4% dan 8%.
 
“Salah satu produk yang menikmati pertumbuhan kelas menengah ini adalah es krim,” ujar Hellen. Terjadi peningkatan pengeluaran untuk es krim sebesar 1,6 kali dibandingkan tahun lalu.
Apa kuncinya?
 
“Innovation is king,” jawab Hellen. Pada 2011 ini terdapat 70 varian baru yang ditawarkan. “Konsumen ingin menikmati sesuatu yang baru.” Es krim single pack adalah growth driver dari pertumbuhan tersebut.
 
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Ahli dan Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) -Dr. Dahrul Syah mengungkapkan beberapa tren dalam industri dan teknologi pangan. Menurutnya pangan yang menyehatkan dan food for special purpose semakin menjadi tren kedepannya. Salah satunya adalah nutrigenomics, yakni berkaitan antara hubungan diet dengan gen terhadap kesehatan.
Dahrul juga mengingatkan agar industri pangan dapat memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal. “Walau tidak bisa menutup diri dari impor, pemanfaatan sumber daya indigenous dapat membuat Indonesia lebih mandiri,” tutur Dahrul.
 
Hanya saja, tantangannya adalah ketika Pemerintah memperketat impor bahan baku, industri pangan menjadi kesulitan mendapatkan pasokan. Apalagi harus bersaing dengan produk impor yang harganya bisa menjadi lebih murah. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Eksekutif National Meat Processor Association (NAMPA) -Haniwar Syarief, dan Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan Indonesia (ASRIM) -Farchad Poeradisastra. Keduanya juga turut memberikan presentasi seputar bidang bisnisnya dalam Seminar Prospek Industri Pangan 2012.
 
Hadir pula memberikan materi presentasi adalah Guru Besar Pangan dan Gizi IPB, Prof. Ali Khomsan; Pengurus Asosiasi Flavor dan Fragrans Indonesia (AFFI), Praba Sutata; serta Direktur Eksekutif, Henky Wibawa, Indonesian Packaging Federation (IPF). Ali Khomsan menyampaikan informasi seputar Preferensi Gizi: Peluang dalam Industri Pangan. Sedangkan Praba Sutata membahas mengenai Tren Flavor di Industri Pangan, dan Henky mengulas seputar pertumbuhan industri kemasan di Indonesia  Hendry Noer F.

Artikel Terkait