Synthetic vs. Natural Flavor: Aplikasinya pada Produk Pangan


Oleh Ervina 
Departemen Teknologi Pangan, Fakultas Engineering Universitas Bina Nusantara Asosiasi Sensori Indonesia (ASENSINDO)

Keberagaman cita rasa dan warna memperkaya pengalaman sensoris produk pangan. Ambil contoh es krim, yang hadir dalam spektrum rasa seperti cokelat, stroberi, vanila, matcha, hingga durian, masing-masing memvisualisasikan keunikannya melalui warna khas. Daya tarik inilah yang seringkali ditingkatkan melalui penggunaan perisa dan pewarna pangan dalam industri.

Dibalik keberagaman rasa dan warna tersebut, terdapat dua bahan tambahan pangan yang berperan sangat penting dan sering kali digunakan dalam industri pangan, yaitu perisa (flavorant) dan pewarna (colorant) pangan. Keduanya kerap digunakan untuk meningkatkan daya tarik produk pangan, baik dari segi rasa maupun tampilan.

Perisa dan pewarna pangan adalah zat yang ditambahkan untuk menambah intensitas serta kualitas cita rasa dan warna pada produk pangan. Keduanya dapat berasal dari bahan alami maupun dibuat secara sintetis. Contoh perisa alami, misalnya saja adalah pengunaan vanilla beans pada es krim rasa vanila, di mana rasa vanila yang diperoleh langsung dari sumber alaminya, yaitu biji vanila. Sedangkan contoh perisa sintetis adalah etil vanilin, yaitu senyawa kimia yang memiliki rasa sangat identik dengan vanila. Etil vanilin merupakan perisa buatan yang diperoleh melalui proses sintetis kimia dan banyak digunakan dalam industri pangan karena rasa dan aromanya yang kuat dan stabil.

Hal serupa juga berlaku untuk pewarna pangan. Tumbuhan rimpang seperti kunyit kerap digunakan sebagai pewarna alami untuk memberikan warna kuning khas pada berbagai hidangan, seperti nasi kuning atau kari. Senyawa aktif yang bertanggung jawab atas warna kuning khas kunyit adalah kurkumin. Selain memberikan warna, kurkumin juga dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan, antara lain sebagai antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, dan hepatoprotektif (melindungi sel hati). Namun, dalam skala produksi massal, pewarna alami seperti kunyit seringkali digantikan oleh pewarna sintetis seperti tartrazine (CI 19140), yang menghasilkan warna kuning serupa namun memiliki stabilitas yang lebih tinggi.



Penggunaan perisa dan pewarna pada produk pangan
Perisa umumnya digunakan dalam produk pangan dengan berbagai tujuan, seperti menambah cita rasa, menciptakan sensasi rasa baru yang menarik, menggantikan atau memperkuat rasa yang hilang selama proses pengolahan, serta menutupi (masking) rasa yang kurang disukai oleh konsumen. Sebagai contoh, perisa jeruk sering ditambahkan pada produk pangan yang mengandung spirulina untuk menutupi rasa amis (fishy) sehingga lebih dapat diterima oleh konsumen. Contoh lainnya adalah penambahan perisa buah-buahan pada minuman sari buah dalam kemasan, yang bertujuan untuk memperkuat rasa buah asli yang berkurang akibat proses pemanasan atau penyimpanan.

Di sisi lain, pewarna berperan besar dalam menciptakan tampilan produk pangan yang menarik secara visual. Sebagai contoh, penambahan warna kuning pada minuman sari buah nanas ditujukan untuk menghadirkan kesan segar yang dapat menggugah selera konsumen. Selain meningkatkan daya tarik visual, pewarna juga digunakan untuk menjaga konsistensi warna antar produk serta menggantikan warna alami yang memudar atau hilang selama proses pengolahan.



Natural Vs Synthetic

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait