EKSPLORASI CITA RASA KOPI HASIL PROSES ENZIMATIS


Oleh Yuli Witono
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Ketua II Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia President of FANRes International Network

Saat ini, kopi berperan penting dalam gastronomi dengan menghadirkan karakter unik, serta mempunyai kompleksitas rasa dan aroma khas dari berbagai bentuk sajian. Setiap daerah di Indonesia memiliki cita rasa dan keunikan kopi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti cara pengolahan, geografis serta varietas, sehingga kopi asal Indonesia memiliki karakteristik sensoris yang kaya dan khas. Tantangan industri kopi saat ini bukan hanya menjaga dan meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan diferensiasi produk sehingga mampu bersaing di pasar global. 

Tren perkembangan cita rasa kopi mengalami pergeseran. Konsumen saat ini lebih menekankan pada eksplorasi sensoris di setiap tegukannya. Hal ini ditandai dengan meningkatnya peminat kopi yang menawarkan cita rasa unik seperti winey, floral, spicy dan fruity. Adanya gerakan third wave coffee juga mendorong penghargaan bagi asal-usul kopi, cara penyeduhan dan metode budidaya. Literasi konsumen yang meningkat melalui festival kopi dan cupping, menjadikan konsumen lebih kritis dan eksploratif terhadap rasa kopi. Prediksi tren rasa kopi kedepannya akan mengarah pada personifikasi cita rasa berdasarkan preferensi sensoris. 


Tren pasar kopi spesialti turut menarik perhatian masyarakat dengan berbagai perkembangannya. Namun di tengah tren tersebut, hadirlah kopi fermentasi yang mencuri perhatian penikmat kopi dan pelaku usaha. Dengan hadirnya kopi fermentasi, maka membuka pengalaman baru untuk mencicipinya. Teknologi fermentasi bukanlah hal baru bagi penanganan pascapanen kopi, namun pendekatan kreatif dan teknologi terkontrol mampu menghadirkan rasa fruity, eksplosif, aftertaste dan aroma yang unik. Seiring berkembangnya waktu, para pelaku usaha atau industri menaruh perhatian besar pada pascapanen dan pengolahan yang merupakan fase krusial terhadap rasa kopi.

Kopi ‘terfermentasi’ secara enzimatis 
Aroma harum serta rasa kompleks pada secangkir kopi dihadirkan dari tahap krusial pascapanen yaitu proses fermentasi. Awalnya, fermentasi hanya dikenal sebagai proses pemisahan lapisan lendir setelah panen. Namun dengan kemajuan teknologi khususnya di bidang pangan, fermentasi dikenal sebagai salah satu tahapan eksplorasi rasa yang sangat krusial. Braga et al. (2023), proses fermentasi biji kopi dapat membentuk kesan mild, mengurangi rasa pahit (slightly bitter) dan mengurangi keasaman (smooth acidity). Fermentasi secara konvensional dapat dilakukan menggunakan mikroorganisme spontan atau liar. Salah satu contoh fermentasi yang dilakukan oleh mikroorganisme adalah dengan bantuan Rhizopus oligosporus sehingga menghasilkan kenaikan senyawa precursor aroma. Namun dengan berkembangnya waktu, maka fermentasi secara enzimatis sangat menarik perhatian. Selain membuka pengetahuan dan ruang kreasi baru, fermentasi enzimatis dapat mendorong dialog terbaru antara gastronomi dan sains. Dengan adanya fermentasi enzimatis, kopi tidak hanya sebagai hasil alam, melainkan produk pangan terfermentasi dengan kontrol tinggi.

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 3

Artikel Terkait