Selai, Semakin Lengket dengan Industri

Potensi pasar selai di Indonesia terus meningkat. Hal ini tidak terlepas dengan perkembangan industri pengguna selai. Industri roti, yoghurt, es krim, dan lainnya merupakan pengguna selai yang cukup potensial, selain juga pasar ritel untuk kebutuhan rumah tangga yang masih menggairahkan.

Selai atau jam semakin populer di Indonesia. Produk ini merupakan awetan dari sari buah atau buah-buahan yang sudah dihancurkan dan diproses sedemikian rupa, dengan tambahan gula sehingga menjadi kental dan lengket.

Biasanya, produk ini digunakan sebagai bahan oles bersama roti, terutama pada saat sarapan Namun, kebutuhan akan selai kini tidak hanya didominasi oleh rumah tangga. Kebutuhan untuk skala industri juga semakin besar. Selai digunakan sebagai bahan pengisi untuk produk roti, campuran pada yoghurt dan es krim, dan sebagainya.

Meningkatnya permintaan selai ini, menurut Direktur PT Multisari Langgeng Jaya Alamsjah, telah menggeser penjualan lapis legitnya. Jika 2006 perbandingan penjualan selai dan kue masih seimbang, tapi di 2008 perbandingan penjualan selai dan kue menjadi 60 dan 40, ujar Alamsjah. Salah satu alasannya adalah suplai terhadap industri-industri besar tersebut.

Untuk menghasilkan selai berkualitas dan menembus pasar internasional, selai perlu diproduksi dengan menggunakan standar internasional dengan bahan baku berkualitas. Penggunaan teknologi dan perhatian terhadap hygiene merupakan upaya untuk membuat selai Indonesia lebih kompetitif, baik untuk pasar domestik maupun internasional.

Keunggulan yang dimiliki oleh selai Indonesia, menurut Alamsjah adalah dari segi harga yang cukup bersaing. Selain itu, kecuali blue berry, semua bahan bakunya adalah lokal. Srikaya merupakan selai yang paling digemari, diikuti dengan stroberi, coklat, dan mix fruit. Bahan baku lainnya seperti gula rafinasi juga tersedia di pasar lokal, sedangkan essence masih harus diimpor.

Perusahaan sebaiknya memiliki standar bahan baku tertentu yang harus dipenuhi oleh suplier. Untuk mengurangi pengaruh fluktuasi harga dan musim, perlu adanya cooling box yang dapat menyimpan persediaan buah.

Bahan baku yang diperoleh tersebut kemudian akan mengalami sortasi dan grading. Buah yang sesuai dengan standar akan diproses lebih lanjut. Setelah dipilah dan dibersihkan, buah dipotong dalam mesin pemotong. Kemudian ditambahkan campuran ingridien, dimasak, dan kemudian dikemas. Untuk selai kacang dan coklat, dibutuhkan ruang produksi yang berbeda dari buah lainnya, karena membutuhkan pengaturan kondisi ruangan produksi yang berbeda.

Inovasi yang terus mengalir

Seperti halnya industri lain, industri selai juga harus berinovasi untuk menghilangkan kejenuhan dan mengembangkan pasar. Alamsjah menceritakan, bahwa dengan semakin luasnya industri pengguna selai, maka diperlukan karakter selai yang sesuai dengan kebutuhan customer. Misalnya saja, selai yang lebih encer atau permintaan adanya potongan buah dalam selai.

Sedangkan dari segi rasa, sebenarnya banyak buah eksotik Indonesia yang bisa digunakan, seperti mangga, kelapa, dan durian. Namun, menurut Alamsjah, pihaknya belum berani untuk memproduksi massal selai berbahan baku buah-buahan tersebut. Kami telah mencobanya, tapi volumenya masih sangat kecil, ungkap Alamsjah.

Inovasi lain yang dilakukan adalah dari segi kemasan. Keinginan konsumen untuk memperoleh produk yang praktis, juga disikapi oleh industri selai. Jika pada awalnya selai hanya tersedia dalam kemasan botol, kini telah tersedia selai dalam bentuk pouch. Selai ini sangat praktis untuk dijadikan topping pada cake ataupun es krim, serta mudah untuk digunakan dalam rumah tangga.

Berkaitan dengan inovasi kemasan tersebut, Alamsjah mengeluhkan suplai kemasan dalam negeri. Selain inovasinya yang lambat, juga adanya peraturan minimum order yang seringkali menyebabkan perusahaannya harus mengimpor kemasan dari luar.

Inovasi lain yang juga dilakukan adalah dengan merespon semakin pedulinya konsumen terhadap kesehatan. Selai yang berasal dari buah-buahan sebenarnya telah mengandung gizi yang diperoleh secara alami dari bahan baku yang digunakan, sehingga cukup berkontribusi dalam pemenuhan gizi harian. Inovasi terbaru adalah dengan mengeluarkan selai rendah gula. Selai ini cocok untuk konsumen penderita diabetes ataupun untuk mengurangi risiko obesitas.

Menyikapi keterbatasan dana untuk inovasi, Alamsjah memiliki tips tersendiri. Diakuinya bahwa seringkali keterbatasan dana menjadi hambatan untuk berkreasi. Untuk menyiasatinya, Alamsjah banyak belajar dari produk-produk yang ada di pasaran. Bukan hal yang buruk bila belajar dari produk perusahaan lain, kata Alamsjah. Produk yang dipelajari bukan hanya produk sejenis, namun juga produk lain yang bisa diaplikasikan/digunakan untuk produknya.
Fri-09


Artikel Terkait