Inovasi dalam Fungsionalitas dan Keamanan Produk Susu



Menyambut Hari Susu Nusantara dan Bulan Susu Internasional, FOODREVIEW INDONESIA bekerja sama dengan SEAFAST Center IPB kembali mengadakan Seminar bertajuk Dairy Foods: Innovation, Safety, and Functionality. Hadir sebagai pembicara, di antaranya Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM RI, Dr. Roy Sparringa; Ahli Teknologi Pangan,, Prof. F.G. Winarno; Direktur SEAFAST Center IPB, Prof. Purwiyatno Hariyadi; serta Peneliti SEAFAST Center IPB, yang juga Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Dr. Ratih Dewanti Hariyadi dan Dr. Lilis Nuraida. Acara tersebut diselenggarakan di IPB International Convention Center Bogor, pada 09 Juni 2011.

Dr. Roy Sparringa mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia bukan tergolong peminum susu. Hal ini dibuktikan dengan konsumsi susu di Indonesia yang masih sangat rendah dibandingkan dengan beberapa Negara tetangga. Namun demikian inovasi susu olahan berkembang dengan pesat, sehingga menjadi tantangan dalam pengawasan keamanan, mutu, dan gizi produk susu. “Apalagi kualitas susu segar di Indonesia pada umumnya belum memenuhi SNI,” ujar Roy.

Roy menambahkan, bahwa saat ini terdapat beberapa regulasi yang berkaitan dengan susu dan produk olahannya. Diantaranya adalah Keputusan Kepala Badan POM RI No. HK. 00.05.23.3644 tahun 2006 tentang Kategori Pangan, Peraturan Kepala Badan POM RI No. HK 00.05.52.0685 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional; dan Peraturan Kepala Badan POM RI No. HK 00.05.1.52.3930.

Salah satu inovasi yang cukup populer dalam industri susu adalah peningkatan fungsionalitas produknya. Salah satunya dengan penambahan pro- dan prebiotik. “Manfaat yang diberikan probiotik tergantung pada strainnya,” ungkap Dr. Lilis Nuraida. Dia menambahkan terdapat beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh bakteri agar bisa diklaim sebagai probiotik, antara lain kemampuan untuk bertahan hidup dalam saluran pencernaan, dapat menghambat organism pathogen dan mencegah kanker, aman dalam pangan dan klinis, terbukti bermanfaat bagi kesehatan, dan beberapa lainnya.

Prof. F. G. Winarno yang saat ini menjabat sebagai ketua Asosiasi Laboratorium Pangan Indonesia (ALPI) menyakan, bahwa selain probiotik ada juga tren nano teknologi. “Teknologi ini telah diterapkan diberbagai produk. Salah satu yang terkenal adalah mayonais nano. Dimana lemaknya menjadi jauh lebih sedikit,” katanya. Selain itu, dia juga menambahkan potensi yang besar dalam teknologi ini untuk digunakan dalam kemasan pangan.

Sementara itu Prof. Purwiyatno Hariyadi menjelaskan proses aseptis untuk susu cair. Dia menyatakan bahwa teknik sterilisasi/pasteurisasi mutakhir mengarah pada proses sterilisasi yang sinambung (aseptic processing). “Keuntungan yang diperoleh dari aseptic processing adalah adanya proses yang sinambung, pemanasan dan pendinginan lebih cepat, lebih hemat energy, pilihan bahan pengemas lebih bervariasi, dan mudah dilakukan CIP,” kata Purwiyatno.

Keamanan produk susu juga menjadi fokus dalam seminar tersebut. Dr. Ratih Dewanti Hariyadi membahas microbiological control and testing dalam produksi susu. “Kontrol, pengawasan, dan pengujian dilakukan pada critical ingredients, in-process, lingkungan pengolahan, shelf life, serta produk akhir,”. Hendry Noer F.


Artikel Terkait