Menjaga Keamanan & Kualitas Roti

 

Oleh Winiati P. Rahayu
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB SEAFAST Center IPB Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia

Sebagai salah satu komoditas pangan esensial, roti memegang posisi krusial dalam industri pangan, dengan permintaan pasar yang terus meningkat untuk berbagai keperluan, dari sarapan hingga camilan. Oleh karena itu, memastikan keamanan dan mutu produk menjadi tanggung jawab utama produsen. Hal ini tidak hanya sebatas kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga sebagai komitmen untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Penjual roti tersebar luas, mulai dari toko roti bermerek, pedagang keliling, hingga di pasar tradisional. Roti yang dijual bisa merupakan produk sendiri atau diambil dari produsen. Roti yang dijajakan secara terbuka, seperti di pasar tradisional, perlu diwaspadai jika dijual hingga berhari-hari atau berminggu-minggu.

Pada umumnya, roti tetap segar selama empat hari, tergantung jenis dan cara penyimpanannya. Jika roti dapat bertahan lebih lama, perlu dicurigai adanya penggunaan bahan pengawet yang disalahgunakan atau bahan tambahan pangan yang melebihi batas aman. Roti seperti ini biasanya sudah mengeras dan tidak lembut. Kerusakan roti juga dapat disebabkan oleh pertumbuhan mikroba (khususnya jamur) atau reaksi oksidasi yang menyebabkan ketengikan. Produsen harus secara ketat mengendalikan cemaran mikroba patogen atau zat kimia berbahaya, karena zat-zat tersebut dapat membuat roti tidak aman untuk dikonsumsi.

Cemaran mikroba pada roti
Jenis mikroba yang dapat mencemari roti terdiri dari mikroba perusak dan patogen. Pada umumnya, mikroba dari jenis bakteri bagi roti yang relatif basah atau kapang dan khamir untuk roti yang kering. Pada umumnya roti yang relatif kering dapat awet hingga berhari -hari namun teksturnya menjadi keras, karena sebagian air menguap sehingga kandungan airnya berkurang. Hal ini berbeda dengan roti yang tampak basah dan teksturnya lembut yang lebih banyak mengandung air sehingga daya awetnya sangat singkat. Roti yang relatif basah lebih mudah ditumbuhi mikroba, dan dapat dari jenis bakteri. Mikroba perusak menyebabkan penurunan kualitas roti yang menjadikan roti berbau dan berasa asam, teksturny lembek, penampakan berjamur, dan berbau busuk. Dengan tanda tanda tersebut maka roti tidak layak dikonsumsi. 

Apabila yang mencemari roti adalah dari jenis mikroba patogen, maka roti dapat menjadi sumber penyakit. Pemerintah telah mengatur batasan cemaran mikroba pada roti seperti pada Tabel 1. Pengaturan tidak hanya diberikan pada roti yang siap makan, namun juga bahan-bahan lain yang banyak digunakan untuk pembuatan roti, terutama roti isi. Tabel tersebut menjelaskan risiko kontaminasi mikroba tertentu pada roti dan bahan-bahan untuk olesan atau isian, sehingga harus diatur keberadaanya. Pada tabel tersebut tertulis ALT atau angka lempeng total yang mengambarkan jumlah mikroba aerobik (bakteri, kapang, khamir) tanpa memperhatikan jenisnya. Batasan ini menggambarkan roti yang masih dapat diterima, bila jumlah total mikroba dari lima sampel yang diuji, hanya boleh ada dua sampel yang jumlah mikrobanya lebih dari 104 CFU/g, namun tidak ada satupun sampel yang jumlah mikrobanya sama atau lebih besar dari 105 CFU/g. 


Mikroba perusak dan patogen tersebut antara lain adalah: 

  • Bakteri dari jenis Salmonella, Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Listeria monocytogenes yang dapat mencemari roti dan olesan/isian roti dari bahan baku dan air, dari peralatan, dan dari orang yang mengolah roti tidak dengan higienis. Bakteri ini akan mati saat pemanggangan roti, jadi bila proses pemanggangan dilakukan belum tuntas maka kontaminasi ini dapat berefek negatif. Hal ini dikarenakan bakteri tersebut merupakan bakteri penyebab keracunan pangan dengan gejala mual, muntah, diare yang dapat berlanjut menjadi penyakit apabila tidak segera ditangani dengan baik.
  • Kapang dan khamir antara lain kapang Aspergillus dan Penicillium yang banyak di udara, dapat mencemari roti yang telah disimpan lama dan di tempat yang lembap. Tanda-tanda pertumbuhan kapang ini mudah dikenali dari hifa warna putih atau dikenal awam sebagai roti berjamur, dan dari spora yang berwarna warni, terutama warna abuabu, hitam atau hijau. Beberapa jenis Aspergillus dan Penicilium bersifat toksigenik atau penghasil mikotoksin sehingga bila terkonsumsi lama kelamaan akan bersifat kumulatif atau bila terkonsumsi dalam jumlah banyak, maka dapat menyebabkan mutasi sel hingga kanker, dan kematian. Kontaminasi khamir dapat menyebabkan roti terfermentasi sehingga menimbulka

Cemaran kimia pada roti

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait