Konsumen Indonesia Tidak Lagi Mencari Barang Murah



Krisis yang melanda Amerika Serikat dan Eropa sempat menimbulkan kekhawatiran bagi Indonesia.  Namun demikian, ternyata di tengah ancaman resesi dunia, Indonesia mencatat pertumbuhan yang sangat menggembirakan.  “Disaat pertumbuhan ekonomi dunia melambat dan turun, Indonesia bahkan bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5%,” kata Managing Director dan Ekonom Senior Standard Chartered, Fauzi Ichsan dalam CEO Forum yang diselenggarakan oleh GAPMMI, 15 November di Hotel Gran Hyatt Jakarta.  Lebih lanjut Fauzi menjelaskan bahwa hal tersebut masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.  “Tidak lain karena Indonesia memiliki tiga pilar, yakni pasar domestik yang besar, kepemilikan komoditas yang tinggi, dan potensi pembangunan infrastruktur”.  Dengan kondisi yang mengagumkan itu, kini Indonesia menjadi pasar yang cukup menggiurkan investor dunia.

Sementara itu  pada kesempatan yang sama, Managing Director The Nielsen Company –Yongki Susilo mengungkapkan, bahwa pertumbuhan industri pangan di Indonesia hingga akhir 2011 mencapai 11%.  “Bahkan pada awal Januari mencapai 14%, namun menurun akibat inflasi,” kata Yongki.  Dia juga mengemukakan, bahwa kelas menengah di Indonesia tumbuh dengan pesat.  “Jika  pada 1999 kelas menengah hanya sekitar 25% dari penduduk Indonesia, maka kini sudah mencapai 56,5%,” tutur Yongki.  Artinya, dengan kondisi demikian, konsumen Indonesia tidak lagi mencari barang murah, namun lebih fokus untuk mencari produk premium yang terjangkau.  “Apalagi menurut survei yang kami lakukan, konsumen Indonesia sangat percaya diri dengan kondisi keuangannya”.  Senada dengan Fauzi, Yongki juga berpendapat bahwa pasar Indonesia memiliki prospek yang sangat baik.

Dalam GAPMMI CEO Forum yang mengangkat tema “Siapkah Industri Pangan Menghadapi Krisis”, juga dilakukan pengukuhan Dewan Pengarah GAPMMI.   Menurut Ketua GAPMMI Adhi S. Lukman, terdapat 10 dewan pakar yang dikukuhkan pada kesempatan tersebut.  Diantaranya adalah Andre Sukendra Atmadja (Mayora Indah), Dr. Boenjamin Setiawan Ph.D (Kalbe Farma), Franciscus Welirang (Indofood), Franky Oesman Widjaja (Smart), Maudy Ratna Winata (Ikafood), Piter Jasman (Bumitangerang), Stafanus Joko Mogoginta (Tiga Pilar), Sudhamek AWS (Garudafood), Tjokro Susilo (Niramas), dan Thomas Dharmawan.  Hendry Noer F.


Artikel Terkait