Winning Share of Morning Stomach

Winning Share of Morning Stomach

…. Kebiasaan makan diluar dan pola hidup yang semakin “rush” telah mengubah pola makan di rumah termasuk meniadakan sarapan dari daftar kegiatan harian konsumen…..

Kebiasaan untuk menyantap sarapan pagi di rumah telah berubah dalam sepuluh tahun terakhir khususnya di kawasan perkotaan yang semakin macet dan sibuk. Tidak merasa lapar adalah alasan yang paling umum untuk meninggalkan sarapan. Di samping itu adanya persepsi yang salah mengenai efektivitas meninggalkan sarapan untuk menurunkan berat badan juga merupakan alasan yang sangat kuat. Tantangan bagi para pemasar adalah mengedukasi konsumen tentang pentingnya sarapan bagi kesehatan dan menciptakan produk yang dapat dinikmati sejalan dengan pola hidup saat ini.

Tentu Anda sering melihat betapa banyaknya masyarakat yang terpaksa harus menikmati makan pagi di dalam mobil di tengah kemacetan lalu lintas agar dapat sampai di kantor tepat pada waktunya dan dalam keadaan sudah sarapan. Atau mungkin Anda sering jengkel ketika jam kantor sudah mulai tetapi masih banyak karyawan Anda yang belum di tempat karena sedang menyantap sarapannya di pantry atau di kantin.

Pergeresan pola makan pagi memang secara perlahan tapi pasti telah terjadi dan akan terus berlangsung seiring dengan dinamika masyarakat. Perubahan yang terjadi juga berpengaruh pada menu yang disantap disamping cara menikmatinya. Bila pola ini dapat dipetakan berdasarkan kota, jenis menu yang disantap serta cara mengkonsumsinya tentu akan sangat menarik. Sebuah matriks sederhana tentu akan dapat dengan mudah dibuat dengan memetakan beberapa parameter utama seperti dibawah ini:

  • Kota domisili
  • Jenis kegiatan (karyawan/wati, pelajar, mahasiswa, dan lain-lain)
  • Jenis makanan yang disantap (nasi goreng, roti tawar dengan isi, roti manis, nasi uduk dan lain-lain)
  • Cara mengkonsumsi (di dalam kendaraan, setibanya di tempat tujuan, jajan di kantin, dan sebagainya)
  • Cara mendapatkan menu sarapan (membuat sendiri, atau membeli)

Dari hasil survei sederhana tersebut mungkin akan dapat diidentifikasi pola makan pagi di masing-masing kota yang akan menjadi target penjualan produk sarapan Anda. Beberapa survei yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa daftar sepuluh besar makanan yang diberikan kepada anak di bawah enam tahun untuk sarapan tetap tidak berubah sejak enam tahun terakhir. Pilihan utama tetap terletak pada kecepatan menyiapkan dan kepraktisan dalam mengkonsumsi. Mc Donald dan beberapa raksasa restoran cepat saji lainnya cepat merespon fenomena tersebut dan saat ini mereka cukup asyik menangguk rejeki di pasar sebesar tidak kurang dari 40 milyar dolar ini dengan menyajikan menu portable yang murah harganya. Dengan hampir 14,000 gerainya di seluruh daratan Amerika, Mc Donald sangat menikmati dominasi bisnis makan pagi ini dan bisnis ini segera menjadi bidang usaha yang paling cepat pertumbuhannya dalam perusahaan.

Pasar sarapan sebesar itu tentu saja akan menggiurkan pemain fast food lainnya seperti Taco Bell, Del Taco dan bahkan Starbucks. Gerai kopi yang satu ini mulai sadar akan besarnya “morning market” ini ketika banyak dari pelanggannya membawa produk pesaing pada saat menikmati sarapan di gerainya, maka segera saja diciptakan produk sarapan yang berharga sekitar 3 dolar yang belakangan ternyata sangat digemari pelanggan mereka. Lebih menarik lagi ternyata bahwa produk tersebut dicari tidak hanya pada waktu sarapan, tetapi varian tersebut kemudian malah menjadi menu kegemaran sepanjang hari, “People wants breakfast all day at Starbucks” demikian menurut eksekutif mereka. Perpaduan antara kopi lezat dan produk sarapan yang tepat ini kemudian ternyata telah menjadi salah satu keunggulan kompetitif dari Starbucks.
Improvisasi lebih jauh dengan menyediakan drive-through corner dan jam buka yang lebih pagi juga dilakukan oleh beberapa restoran fast food lainnya dan menjadi feature standar dari sebuah restoran siap saji modern.

Walaupun bisnis ini menurut beberapa studi akan mengalami masa sulit karena meningkatnya harga bahan pangan akhir-akhir ini, tetapi pola konsumsi yang telah terjadi tidak mungkin bisa diubah dalam waktu sekejap. Selama kondisi lalu lintas di kota-kota besar makin memburuk, maka mau tidak mau konsumen harus pandai beradaptasi menentukan pilihan menu sarapan mereka berikut cara mengkonsumsinya.

Konsumen cenderung untuk selalu mencari variasi dalam memilih menu makan siang atau makan malam, tetapi tidak untuk menu sarapan. Oleh karena itu walaupun skala bisnis ini terus meningkat, tetapi jumlah variasi menunya relatif tetap sehingga membuat bisnis ini semakin efisien dan kompetitif. Sebuah publikasi yang dilansir oleh Food Navigator-USA mengatakan bahwa sejak 20 tahun terakhir roti panggang, telur dan pancakes masih menjadi menu favorit untuk sarapan dan tren beberapa tahun terakhir ini juga menunjukkan bahwa waffle, yoghurt dan pastry juga mulai digemari.

Di industri manufaktur sendiri, bisnis “quick meal” ini sangat menjanjikan. Kraft misalnya sangat menikmati bisnis frozen breakfast yang sangat menggiurkan. Produk sarapan beku ini bernilai 1,4 milyar dolar per tahun dan masih tumbuh sebesar 3% per tahun. Sebuah pengembangan usaha yang tepat waktu untuk raksasa fast food ini disaat mereka sedang menghadapi tekanan kenaikan harga bahan susu dan usaha revitalisasi brand di tengah gempuran private label yang berharga lebih murah.
Hal lain yang juga diharapkan oleh konsumen adalah kemampuan untuk dapat menyediakan energi secara perlahan dan dalam waktu yang panjang disamping untuk memberikan rasa kenyang. Kebutuhan ini dapat menjadi peluang bagi produk pangan berbasis kedelai karena disamping memberikan protein nabati berkualitas tinggi yang dapat memberikan rasa “penuh” dalam waktu yang panjang, kedelai juga sangat fleksibel untuk diolah menjadi makanan maupun minuman berenergi tinggi. Disamping kandungan serat pangan yang tinggi , kedelai juga memiliki fleksibilitas soal kandungan lemaknya sehingga dapat dibuat sebagai whole cereal atau defatted. Kemudahan ini menjadikan terus meningkatnya produk sereal berbasis kedelai yang mengandung protein tinggi dan rendah lemak dengan pertumbuhan sekitar 20% per tahun sejak 2005 sampai 2007.

Semua orang tua pasti setuju akan pentingnya sarapan bagi anak-anak, tetapi soal penyediaan bahan sarapan memang bukan masalah sederhana karena disamping menyangkut selera anak, kualitas dan keseimbangan kandungan gizi juga menjadi pertimbangan para orang tua walaupun kerap kali dikalahkan oleh masalah selera.

Nasi goreng, mi instan dan roti mungkin merupakan menu yang paling sering disajikan oleh keluarga Indonesia pada saat sarapan. Disamping mudah dan praktis dalam penyiapannya, menu tersebut juga merupakan sediaan rutin di hampir semua rumah tangga Indonesia khususnya di kota-kota besar. Pada keluarga dengan penghasilan yang lebih tinggi biasanya menu sarapan akan lebih bervariasi dilengkapi dengan pilihan cereal, waffle dan sari buah. Ketidak lengkapan menu sarapan anak bukan tidak disadari oleh para orang tua, oleh karena itu biasanya mereka juga mewajibkan anak- anaknya untuk mengkonsumsi multi vitamin dan susu di pagi hari. Sari buah dan yoghurt juga mulai digemari sebagai menu tambahan pada saat makan pagi belakangan ini.

Peluang yang belum tergarap

Melihat masih begitu sederhananya menu makan pagi sebagian besar konsumen Indonesia dan masih terabaikannya kelengkapan dan keseimbangan zat gizi pada menu sarapan, maka peluang untuk menciptakan menu makan pagi yang praktis dan bergizi seimbang sangatlah besar. Kebutuhan akan produk semacam ini tentu akan semakin meningkat sejalan dengan naiknya taraf hidup konsumen dan semakin mahalnya tenaga pembantu rumah tangga dimasa yang akan datang.

Pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengembangkan produk sarapan antara lain adalah:

  • Berdasarkan target konsumen yang dituju, misalnya anak- anak, remaja, atau dewasa.
  • Berdasarkan bahan dasar yang digunakan seperti, nasi, mi instan, roti, cereal, adonan kue (misal pancake) dan sebagainya.
  • Berdasarkan teknologi pembuatannya seperti frozen breakfast, microwavable, pengalengan, extruded base, atau biji-bijian (cereal).
  • Berdasarkan kandungan gizi dan keseimbangan nilai gizi antara protein, lemak dan karbohidrat serta serat pangan.

Kombinasi silang dari faktor di atas mungkin akan dapat dihasilkan sebuah produk sarapan yang tepat bagi target konsumen yang dituju dan terlepas dari itu semua tentu saja faktor kepraktisan baik dalam hal penyiapan maupun pada waktu mengkonsumsi juga menjadi pertimbangan penting bagi konsumen selain faktor harga tentunya. Bila Anda dapat menemukan sebuah kombinasi yang tepat, maka harapan untuk memenangkan “stomach share” di pagi hari menjadi semakin besar.

Suseno Hadi Purnomo


Artikel Terkait