Kewirausahaan sosial saat ini merupakan sesuatu yang sedang menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Kewirausahaan sosial sangat berhubungan dengan sosial ekonomi dan disinyalir mampu menjadi solusi alternatif dari penyelesaian masalah perekonomian yang terjadi saat ini. "Terdapat empat elemen yang meliputi sosial entreprise, yang pertama adalah adanya misi sosial dari bisnis yang dijalankan, adanya sistem yang terstruktur mulai dari pengambilan keputusan hingga pengawasan, adanya pasar untuk penjualan, dan adanya distribusi yang jelas mengenai keuntungan yang didapatkan," jelas Pakar Manajemen Universitas Indonesia Rhenald Kasali. Ia mengatakan hal itu dalam talkshow yang digelar dalam rangkaian acara Bogor Organic Farm (BOF) 2012 di pelataran kampus IPB Baranangsiang Bogor, atau yang biasa dikenal dengan nama Taman Koleksi, pada 10 Juni lalu.Rhenald memberikan contoh mengenai salah satu usaha yang dibangun dengan sistem kewirausahaan sosial adalah sebuah hotel di kawasan Ubud, Bali yaitu The Royal Pita Maha. Awal berdirinya hotel ini berbeda dengan hotel pada umumnya yang cenderung kapitalis. Beberapa hal yang diutamakan dalam pembentukan hotel ini antara lain adalah dengan mengutamakan masyarakat lokal untuk dilibatkan sebagai pihak yang berpartisipasi dalam berjalannya hotel ini. Mengenai penempatan posisi masyarakat tersebut, adalah dengan melihat kondisi masyarakat yang ada di lapang. "Hal lain yang ditekankan dalam pemberdayaan masyarakat sekitar adalah dengan berusaha membuat masyarakat sekitar menjadi pintar dan mampu untuk bekerja di hotel,"jelas Rhenald. Adapun pihak pengelola hotel, tidak berharap dapat meraup untung besar, namun mereka hanya berharap hotel tersebut berjalan dan masyarakat dapat dilibatkan.
Lain hal dengan pengalaman yang dibagi oleh Helianti Hilman dengan bisnisnya yang bergerak dalam bidang tanaman herbal. Helianti ialah pendiri dan Direktur Eksekutif dari Javara Indigenous Indonesia yang memproduksi berbagai produk hasil pertanian tanpa bahan pengawet. Saat ini ia sudah menghasilkan ratusan produk dari hasil pertanian yang ditampung langsung dari petani seperti berbagai jenis beras organik dan bumbu masakan organik hingga minyak kelapa. Pasar yang telah ditembus hingga benua Eropa dan Amerika. Ia mengakui bahwa semua produk yang berada dalam merk Javara adalah hasil dari olahan para petani yang bermitra dengan dirinya. "Sebagai seorang mitra, tugas saya mencari informasi mengenai produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat," kata Helianti.
Ia menyadari bahwa untuk memulai bisnis herbal memang bukan hal yang mudah, akan tetapi dengan belajar terus - menerus ditambah dengan kesadaran masyarakat tentang hidup sehat maka produknya semakin laku di pasaran. Usaha yang dirintisnya ini juga dapat dikategorikan sebagai salah satu kewirausahaan sosial, mengingat bahwa pelaksanaannya sangat melibatkan para petani oragnik. Selain itu dalam hal penentuan harga, Helianti juga tidak mematok harga dengan merugikan para petani. Penentuan harga jual setiap produknya dilakukan bersama-sama dengan mitra yaitu petani. Semua mitra harus membicarakan secara terang-terangan mengenai biaya yang dikeluarkan dan menginginkan untung berapa banyak, sehingga apabila nantinya ada kerugian dapat ditopang bersama-sama. "Apabila pemasaran telah memasuki pasar yang lebih besar dan harga jual lebih mahal, maka keuntungan yang lebih pun akan di bagi secara merata," tandas Helianti K-35 (dhanty)

