Mengkaji Keamanan Bahan Tambahan Pangan




Akhir-akhir ini banyak desas-desus mengenai beberapa makanan dan minuman berbahaya di masyarakat. Mulai dari kerupuk yang dapat terbakar karena dikatakan mengandung plastik, selebaran gelap mengenai beberapa merek makanan dan minuman yang mengandung pemanis siklamat dapat menyebabkan lupus, dan artikel berjudul “10 golongan makanan sampah” yang mengatasnamakan WHO. Kasus informasi yang menyesatkan (misleading information) tersebut sangat meresahkan masyarakat.

Minimnya pengetahuan, membuat masyarakat mudah terpengaruh terhadap informasi sesat tersebut. Hal tersebut sangat merugikan produsen, konsumen, bahkan pemerintah. "Oleh karena itu diperlukan lembaga yang mengawasi peredaran makanan dan minuman serta mampu memberikan konfirmasi yang cepat terhadap aduan masyarakat mengenai kasus makanan dan minuman sehingga masyarakat tidak tertipu oleh informasi-informasi yang tidak benar,"kata Ketua Umum Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman (PIPIMM) Suroso Natakusuma dalam sebuah media briefing tentang bahan tambahan pangan (BTP) di Jakarta pada 9 februari lalu.

Agus Pambagio,pemerhati kebijakan publik & perlindungan konsumen mengatakan, pada kenyataannya industri makanan dan minuman memberikan efek bola salju bagi terciptanya lapangan kerja di sektor lain. Permasalahan yang dialami oleh industri makanan dan minuman dapat berpengaruh terhadap industri sektor lainnya. Begitu juga kebijakan publik untuk industri makanan dan minuman, seringkali berhubungan dengan sektor lain. "Oleh karena itu proses pembuatan kebijakan harus lebih diperhatikan," tandas Agus. Hal ini dimaksudkannya untuk mewujudkan terciptanya kebijakan publik yang pro konsumen dan selaras dengan kebijakan di sektor lain, sehingga dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh industri makanan dan minuman. Pembuatan kebijakan publik yang tepat seharusnya diawali dengan konsultasi publik terlebih dahulu sehingga kebijakan akan diterima oleh publik dan meringankan tugas saat sosialisasi kebijakan.

Industri makanan dan minuman identik dengan bahan tambahan pangan untuk meningkatkan cita rasa sehingga konsumen lebih tertarik. Direktur Seafast Center LPPM IPB Purwiyatno Hariyadi mengatakan, penggunaan BTP dalam dosis yang salah menyebabkan makanan dan minuman tidak aman untuk dikonsumsi. "Keamanan merupakan prasyarat penggunaan BTP, dan BTP berfungsi untuk menciptakan produk yang lebih sehat, praktis, dan nikmat," jelasnya. Tetapi minimnya pengetahuan masyarakat menyebabkan banyak industri makanan dan minuman berskala kecil yang menggunakan BTP dalam dosis yang salah. Bahkan banyak industri kecil yang menggunakan BTP yang dilarang karena harga BTP yang lebih terjangkau dibandingkan dengan harga BTP yang aman.

Purwiyatno menjelaskan bahwa kajian kemanan BTP dilakukan melalui analisis resiko. Informasi mengenai dosis yang tepat dalam penggunaan BTP diperoleh melalui studi toksikologi karakterisasi “Dose Response” dengan menentukan ADI (Acceptable Dailiy Intake). ADI merupakan jumlah BTP yang dianggap aman untuk dikonsumsi setiap hari tanpa adanya pengaruh negatif terhadap kesehatan. Penentuan ADI ditentukan oleh badan otoritas sepertiJEFCA, EFSA, dan lain-lain -dengan menentukan NOEL dan “safety factor” untuk mempertimbangkan perbedaan antar individu dan perbedaan antara manusia dengan binatang.

Adapun studi toksikologi, dilengkapi dengan perkiraan kisaran distribusi asupan (EDI) untuk mengetahui jumlah BTP yang biasa digunakan sehingga penggunaan BTP tidak sia-sia. Kombinasi antara ADI dan EDI akan digunakan sebagai batas maksimum penggunaan BTP sehingga makanan aman untuk dikonsumsi. "Penggunaan BTP yang tepat dapat meningkatkan daya saing produk bagi dunia industri yang akan meningkatkan daya saing bangsa di pasar global,"tandas Purwiyatno Hariyadi. K-35 (hesti)

Artikel Lainnya

  • Feb 05, 2023

    Pertimbangan Penggunaan Bahan Tambangan Pangan

    Pada dasarnya, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) hanya digunakan pada produk pangan jika benar-benar diperlukan secara teknologi. BTP tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang tidak memenuhi syarat, cara kerja yang bertentangan dengan Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) dan kerusakan pangan. Penambahan BTP pada produk pangan memiliki beberapa tujuan seperti membentuk pangan, memberikan warna, meningkatkan kualitas pangan, memperbaiki tekstur, meningkatkan cita rasa, meningkatkan stabilitas, dan mengawetkan pangan. ...

  • Feb 04, 2023

    CODEX UPDATE: Adopsi Standar Keamanan Baru

    Akhir tahun 2022 yang lalu telah diselenggarakan Sidang Komisi Codex Alimentarius ke-45 (CAC45), yang terdiri dari sidang pleno dari 21-25 November 2022 (secara daring dan luring), dan dilanjutkan adopsi laporan sidang pada pada 12- 13 Desember 2022 (secara daring). Secara umum dapat dilaporkan bahwa sidang Komisi Codex Alimentarius telah berhasil mengadopsi berbagai standar keamanan pangan baru. Standar baru tersebut terdiri dari teks pedoman, kode praktik, stantard komoditas, batas maksimum residu pestisida dam batas maksimum kontaminan. Disamping itu, CAC45 juga menyepakati beberapa pekerjaan baru untuk pengembangan standar/teks lainnya. Uraian lebih detail dan lengkap dapat diperoleh di laman: https://bit.ly/CAC45meetingdetail ...

  • Feb 03, 2023

    Pentingnya Pengendalian Rempah-Rempah

    Rempah-rempah memiliki potensi bahaya yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Pengendalian harus dimulai dari budidaya tanaman rempah yang sudah menerapkan prinsip good practices. Titik kritisnya adalah pengendalian kelembapan udara karena dengan kelembapan yang tinggi maka pada umumnya mikroba akan lebih mudah tumbuh. Proses pengeringan juga merupakan proses yang sangat penting dalam penanganan pascapanen rempah-rempah. Manajemen keamanan pangan yang komprehensif yang meliputi good hygiene practices (GHP), good manufacturing practices (GMP) dan hazard analysis and critical control points (HACCP), harus diaplikasikan dengan konsisten.  ...

  • Feb 02, 2023

    Kontaminasi Mikroba pada Rempah-Rempah

    Rempah-rempah sebagai contoh adalah pala yang merupakan komoditas ekspor unggulan karena Indonesia termasuk salah satu negara produsen dan pengekspor biji dan fuli pala terbesar dunia. Pala merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan kapang, bila kandungan air dan kelembapan lingkungan tidak dijaga dengan baik. Kapang yang dapat tumbuh di pala tidak saja dari jenis kapang perusak tetapi juga kapang toksigenik. Di antara kapang toksigenik yang dijumpai pada pala adalah Aspergillus flavus penghasil aflatoksin. Alfatoksin utamanya dari jenis B1 merupakan mikotoksin yang paling toksik di antara beberapa mikotoksin yang dikenal mengontaminasi pangan.  ...

  • Feb 01, 2023

    Peningkatan Kualitas dan Keamanan Rempah & Bumbu

    Upaya peningkatan ekspor rempah dan bumbu tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu. Permasalahan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu dapat diamati sejak prapanen sampai dengan pascapanen, sehingga hal ini membutuhkan penanganan yang komprehensif sepanjang rantai pangan pengolahan tersebut. Rempah-rempah yang tidak tertangani dengan baik rentan terhadap kontaminasi mikroba yang dapat menyebabkan kerusakan maupun penyebab foodborne disease. Hal ini menunjukkan perhatian dan penanganan yang serius perlu dilakukan terhadap bahaya bersumber mikroba tersebut beserta toksin yang dihasilkannya. ...