Keberadaan Laboratorium Pangan Semakin Penting

Di tengah globalisasi perdagangan pangan dunia -pemenuhan standar keamanan, mutu, dan gizi sering menjadi non tarif barrier.  Untuk memastikan apakah suatu produk telah memenuhi standar diperlukan laboratorium penguji yang kompeten dan terakreditasi, serta diakui secara nasional dan internasional.  Menurut Deputi 3 Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) RI, Dr. Roy Sparringa, keberadaan laboratorium menjadi bagian yang sangat penting dalam meningkatkan daya saing.  “Apalagi saat ini, pengujian dan pengawasan pangan menjadi semakin kompleks,” ujar Dr. Roy.

Berkenaan dengan hal tersebut, Ahli Teknologi Pangan Indonesia Prof. F. G. Winarno mengharapkan stakeholder dapat saling bersinergi dan mendukung pemenuhan kebutuhan pengujian pangan di Indonesia.  Prof. F. G. Winarno memprakarsai berdirinya Asosiasi Laboratorium Pangan Indonesia (ALPI).

Dalam acara peresmiannya di Hotel Lumire Jakarta pada 26 Mei, Prof. Winarno mengungkapkan bahwa diperlukan kerja sama yang erat antar stakeholder laboratorium pangan di Indonesia untuk memperkuat jaminan keamanan pangan.  “Masing-masing pihak harus saling melengkapi, baik antara sesama laboratorium, suplier, ataupun stakeholder yang lainnya,” ujar Prof. Win -panggilan akrab Prof. F. G. Winarno.  Lebih lanjut Prof. Win juga menyatakan, bahwa terdapat tiga jenis anggota ALPI -yakni anggota inti yang terdiri dari anggota laboratorium terakreditasi; anggota plasma yang terdiri dari suplier laboratorium; dan anggota muda yang terdiri dari laboratorium yang belum terakreditasi.  “Diharapkan dengan bergabung menjadi anggota ALPI, akan mempercepat akreditasi laboratorium yang belum mendapatkannya.  Karena akan mendapatkan dukungan dari tenaga ahli,” tambah Prof. Win.  Namun beliau mengingatkan, bahwa syarat utama menjadi anggota ALPI adalah kejujuran, “jadi hasil yang diberikan benar-benar berasal dari analisis pengujian yang telah dilakukan.”

Sementara itu, perwakilan dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) -Ning Rahayu, menyambut baik didirikannya ALPI.  Ning mengharapkan, ALPI dapat meningkatkan daya saing industri pangan Indonesia dan menjangkau industri pangan skala kecil dan rumah tangga.  Hal senada diungkpakan Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN), Dr. Bambang Setiadi juga sangat mengapresiasi didirikannya ALPI.  Menurutnya, saat ini terdapat 1334 SNI Pangan dan Hasil Pertanian atau 19% dari seluruh SNI yang ada, sehingga untuk mengetahui kesesuainnya dengan standar dibutuhkan laboratorium pengujian.  Sementara itu, dari total laboratorium pengujian pangan baru 25% yang terakreditasi.  Adanya ALPI diharapkan mampu meningkatkan jumlah laboratorium pangan terakreditasi.  Fri-09


Artikel Terkait