Diperlukan Kemitraan untuk Meningkatkan Produktivitas Kedelai Lokal

yang saat ini dikenal luas oleh masyarakat dunia. Selain tempe, produkproduk olahan kedelai lain seperti tahu, susu kedelai, miso, natto dan kecap juga semakin berkembang pesat. Hasil-hasil inovasi tersebut perlu direview, didiskusikan dan disosialisasikan agar dapat digunakan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta kesehatan manusia. Dengan latar belakang tersebut, maka Forum Tempe Indonesia (FTI), Yayasan Tempe Indonesia, dan PERGIZI PANGAN Indonesia bekerjasama dengan Indofood Nutrition dan American Soybean Association (ASA) International Marketing menyelenggarakan seminar dan lokakarya dengan tema ?Perkembangan Terkini tentang Tempe: Teknologi, Standardisasi, dan Potensinya dalam Perbaikan Gizi serta Kesehatan? yang berlangsung pada 28- 29 Agustus lalu di IPB International Convention Center (IICC), Bogor.

Saat ini, permintaan kebutuhan kedelai terus meningkat hampir ratusan ribu ton setiap tahunnya, hal ini disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk dan perkembangan industri pangan yang terus meningkat serta adanya persaingan dengan kebutuhan pakan ternak terhadap bungkil kedelai. ?Dalam kurun waktu 1992-2008, terjadi penurunan jumlah produksi kedelai lokal setiap tahunnya yang diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu risiko tanam yang tinggi (peka hama, penyakit dan lingkungan), meningkatnya impor kedelai, adanya tata niaga impor, pemberian subsidi pada kedelai impor sehingga menggeser kedelai lokal, rendahnya minat petani untuk melakukan budidaya kedelai karena insentif yang diterima kecil, rendahnya produktivitas kedelai, karena belum berkembangnya penerapan teknologi anjuran seperti pupuk hayati, benih unggul bermutu dan penerapan PHT? ungkap Dr. Sutarto Alimimuso, Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian.

Dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai lokal serta produk olahan kedelai lokal perlu dilakukan suatu model kemitraan yang difasilitasi oleh pemerintah (Dinas Pertanian dan Dinas UMKM, Koperasi dan BULOG. ?Dalam model kemitraan tersebut, BULOG dan koperasi akan berperan sebagai pembeli dan penyalur kedelai serta menjembatani hubungan petani dan perajin? ungkap Mary Astuti, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Hal lain yang perlu diperhatikan di dalan kemitraan lanjut Mary, yaitu adanya kesepakatan harga dan sistem kontrak, komitmen berbagai pihak yang bermitra, adanya kesinambungan pada program kemitraan dan upaya kemandirian serta adanya dampak kemitraan dari aspek SDM, aspek ekonomi, bisnis serta aspek sosial. Sylviana

Artikel Terkait