Membuat Menu Lebih Beragam untuk Sukseskan Diversifikasi Pangan

 

Saat ini 80% produk pertanian Indonesia diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah dan 20% dalam bentuk olahan. Pada akhir tahun 2014 ditargetkan bahwa 50% produk pertanian diperdagangkan dalam bentuk olahan. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Pertanian RI, Dr. Suswono, saat membuka kegiatan Agrinex Expo 2012 yang ke-6 di Jakarta Convention Center, Jakarta beberapa waktu lalu.
 
“Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi pangan yang berlimpah. Jenis komoditas pangan yang dihasilkan oleh sektor pertanian akan sangat tergantung dari pola konsumsi masyarakat. Pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan secara bertahap akan mengubah pola produksi pertanian di tingkat petani (diversifikasi produksi pertanian),” ujar Suswono.
 
Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur SEAFAST Center IPB Prof. Purwiyatno Hariyadi. Ketergantungan Indonesia yang terlalu tinggi terhadap salah satu jenis bahan pangan pokok, beras, menimbulkan kerentanan dalam ketahanan pangan. Oleh sebab itu, diversifikasi pangan sangat diperlukan.
 
Namun demikian, upaya diversifikasi pangan bukan hanya bertujuan untuk mengurangi konsumsi beras, tetapi untuk membuat menu lebih seimbang, beragam dan bergizi. “Sekarang menu pangan kita masih terlalu banyak di dominasi beras. Dengan menu yang beragam akan lebih sehat, dan dengan sendirinya konsumsi beras akan berkurang, “ katanya.
Lebih lanjut juga diungkapkan, bahwa untuk membuat ketahanan pangan berhasil, peranan industri pangan sangat penting. Industri dapat membuat produk secara massal, praktis, dan menarik minat. “Industrinya pun tidak harus besar. Transfer teknologi juga bisa dilakukan pada industri kecil dan menengah yang bergerak di bidang tersebut,” Sementara itu, menurut Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Nasional RI - Ir. Gayatri K Rana, MSc. diungkapkan bahwa tahun 1950-an, pangan pokok beras masih 50%, yang lain seperti jagung, ketela, dan sagu. Lalu 30 tahun kemudian beras kontribusinya mencapai 80%. “Kini, konsumsi beras hampir 100%. Saat ini anak-anak mengenal makanan pokok mereka adalah beras,” ujarnya. Fri-09
 
(FOODREVIEW INDONESIA | VOL. VII/NO. 5/MEI 2012)
 

Artikel Terkait