Khasiat Kesehatan Komponen Bioaktif Minyak Sawit: Kajian Ilmiah dan Potensi Manfaat


Oleh Teti Estiasih
Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Komposisi asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang seimbang pada minyak sawit, sebuah minyak tropis, seringkali disalahpahami. Kandungan asam lemak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya (misalnya kedelai, jagung, dan zaitun) menjadi sasaran "kampanye negatif" yang berupaya mendiskreditkan minyak sawit sebagai minyak yang tidak menyehatkan.

Akan tetapi dari sisi teknologi, keseimbangan asam lemak merupakan keunggulan karena minyak sawit tidak mudah teroksidasi dengan stabilitas oksidasi 4,5 kali minyak kedelai, dan 2,2 kali minyak kacang tanah. Stabilitas minyak selama pengolahan menjadi penting, karena jika asam lemak tidak jenuh mendominasi, maka minyak rentan menghasilkan radikal bebas yang dapat menyebabkan berbagai penyakit degenaratif.

Keunggulan lain dari minyak sawit selain komposisi asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang seimbang adalah posisi asam lemak tidak jenuh yaitu asam oleat pada posisi tengah (sn-2) dalam struktur trigliserida sehingga mudah diserap dan memodulasi efek menguntungkan seperti halnya minyak zaitun. Asam lemak pada posisi sn-1 dan sn-3 yang jenuh akan diubah menjadi garam kalsium kemudian diekskresikan atau dikeluarkan tubuh. Pada lemak hewani posisi tengah adalah asam lemak jenuh sehingga menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan. 

Keunggulan lain minyak sawit adalah kandungan senyawa bioaktif dengan beberapa jenis bioaktif jarang ditemukan pada minyak lainnya seperti tokotrienol. Kadar senyawa bioaktif dalam minyak sawit mencapai 1% dan berperan penting meningkatkan stabilitas oksidasi dan khasiat kesehatan. Jenis senyawa bioaktif dalam minyak sawit dapat dilihat pada Tabel 1, dengan komponen bioaktif utama adalah tokotrienol, fitosterol, skualen, dan karoten, dan dalam jumlah yang sangat sedikit berupa fenol, ubikuinon, dan fosfolipid.

Khasiat kesehatan komponen bioaktif minyak sawit
Tokotrienol

Minyak sawit kaya dengan vitamain E dalam bentuk a, β, d, and g tokotrienol yang merupakan keunggulan sawit dibandingkan minyak lainnya. Kadar tokotrienol sekiatar 70% dari vitamin E dalam minyak sawit. Kadar tokoferol terdapat dalam kadar yang jauh lebih rendah. Ketersediaan hayati tokotrienol lebih tinggi dibandingkan tokoferol dan lebih mudah bergabung dengan membran sel sehingga lebih mampu memproteksi sel dari proses oksidasi. Tokotrienol mempunyai peran yang lebih besar dalam pencegahan penyakit dibandingkan tokoferol. Tokotrienol berperan sebagai anti penuaan dini karena mampu memperbaiki kerusakan DNA. Tokotrienol juga mampu mencegahan kerusakan otak dan menurunkan perkembangan penyakit Alzheimer sebagai penyakit neurodegeneratif. Perannya sebagai antioksidan yang kuat menyebabkan senyawa ini mampu berperan sebagai pelindung kerusakan hati (hepatoprotektor). Dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, tokotrienol berperan menghambat enzim HMGCoA reduktase yang berperan dalam sintesis kolesterol dan juga berperan menghambat perkembangan arteroskeloris dan memperbaiki fungsi pembuluh darah. Mekanisme kerjanya mirip dengan statin, suatu obat penurun kolesterol. Kemampuan penghambatan HMGCoA oleh tokotrienol berhubungan dengan metabolism tulang sehingga meningkatkan kepadatan tulang. Tokotrienol dari minyak sawit banyak diteliti khasiatnya dalam pencegahan berbagai penyakit kanker. Saat ini di pasaran telah ada suplemen tokotrienol dari minyak sawit dalam bentuk kapsul.

Fitosterol
Fitosterol mempunyai struktur yang mirip dengan kolesterol dan berfungsi untuk mengatur fluiditas membran. Senyawa ini sudah difortifikasikan dalam berbagai produk pangan dan suplemen komersial yang ditujukan untuk menurunkan kadar kolesterol. Fitosterol dapat menggantikan kolesterol dalam misel pada usus halus sehingga kolesterol menjadi tidak terserap yang diindikasikan dengan peningkatan kadar kolesterol dalam feses. Mekanisme penurunan kolesterol lainnya adalah menghambat enzim HMGCoA reduktase, seperti halnya tokotrienol, sehingga sintesis kolesterol dalam tubuh terhambat. Senyawa ini juga meningkatan pelepasan prostasiklin yang berperan dalam memperlebar pembuluh darah sehingga tekanan darah menjadi menurun.

Karotenoid

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 5

Artikel Terkait