Menjawab kejadian luar biasa Shiga-toxin yang menimpa Eropa –terutama Jerman dan Perancis, serta adanya permintaan dari Komisi Eropa, European Food Safety Authority (EFSA) akhirnya membentuk satuan tugas (Satgas) untuk meneliti hal tersebut pada 26 Juni lalu. Satgas yang berisi gabungan ahli dari EFSA, Komisi Eropa, European Centre for Disease Prevention Control (ECDC), World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), dan lembaga terkait lainnya berkewajiban untuk memberikan data ilmiah pendukung berkaitan dengan asal mula penyebaran shiga-toxin. Seperti yang diketahui, toksin yang diproduksi oleh Escherichia coli (STEC), serotype O104:H4 telah menyebabkan 48 kematian di Jerman, 1 di Swedia, dan secara total di Uni Eropa telah dilaporkan terdapat 4178 kasus berkaitan dengan bakteri ini.
Hasilnya, dari beberapa informasi yang terkumpul, disimpulkan bahwa salah satu lot benih fenugreek yang didatangkan oleh importir Jerman dari Mesir adalah penyebab utama timbulnya kasus yang meresahkan warga Eropa ini. Dan tidak menutup kemungkinan terdapat lot lainnya yang juga terkontaminasi. Disebutkan juga, bahwa hasil negatif pengujian mikroba terhadap benih fenugreek tidak dapat dijadikan bukti bahwa lot bersangkutan tidak terkontaminasi oleh STEC.
Akibat temuan ini, EFSA menganjurkan agar masyarakat tidak menanam benih untuk dikonsumsi sendiri, serta tidak mengonsumsi sprouts atau sprouted seeds, kecuali telah dimasak terlebih dahulu. Fri-09

